Last Part

1 0 0
                                    

Hallo reader mimin udah upload kelanjutan ceritanya nih

Penasaran kan? Yuk langsung aja di baca

Happy reading :)

Sinar matahari menerobos masuk lewat celah jndela, memantulkan biasnya di wajahku. Ketika mataku membbuka, yang terasa pertama kali adalah : Silau! Kukerjabkan mata berkali-kali sambil mengingat-ngingat di mana gerangan aku berada.

"Ayang..," sebuah suara yang sangat kukenal berbisik di telinga. "Kau sudah sadar?"

Terburu-buru aku bangkit, namun badanku terputar. Mataku mengerjab sekali lagi, saat sepasang tangan menangkap tubuhku yang limbung. Mas Yok.

Tangisku pecah seketika. Mas Yok segera mendekapku erat. "Jangan pergi lagi, Ayang. Seisi rumah sibuk mencarimu. Percayalah, kami semua menyayangimu."

"Tidak, mas Yok. Tidak ada alagi yang bisadiharapkan dari Ayang. Sekolah juga sudah terbengkalai..."

"Kamu tidak jadi dipecat, Yang. Hanya Billy dan teman-temannya. Akhirnya Keoala Sekolah mengetahui bahwa selama ini kamu tidak pernah mencicipi benda itu." Datar nada suaranya, tetapi sanggup membuatku tersentak aneh. Di sudut ruangan sepasang mata menatapku tajam.

"Billy telah mengakui semuanya," lanjut Jerd.

Aku masih terdiam tidak mengerti. Bagaimana Jerd bisa sampai ke rumah oma? Dan bagaimana Kepala Sekolah bisa tahu bahwa aku tidak pernah mencicipi benda terlarang itu?

"Sejak semalam mas kabur dari rumah untuk mencarimu. Mas keliling mencari Jerd, mencari Ine, tetapi di rumah teman-teman lain kami tetap tidak bisa menemukanmu. Juga di tempat-tempat yang menurut saran Jerd, biasa kamu kunjungi. Tepat acara Dunia Dalam berita di televisi, kami pulang dalam keadaan letih. Di rumah ternyata sudah ada Yossi. Dari ceritanya mas mengira kau ada di rumah papa Hen. Ternyata juga tidak ada."

Mas Yok menghentikan ceritanya seraya menatapku dalam. Raut wajahnya terlihat lelah. Memandangnya membuatku terpekur penuh sesal. Aku telah menyusahkan mereka semua.

"Akhirnya, di tengah perjalanan, Ine tiba-tiba bercerita bahwa kau sering menceritakan oma kepadanya. Saat iru juga kuputar haluan, menuju rumah oma."

"Malam itu juga?" Aku menatap tak percaya. "Jauh sekali, mas!?

"Ya, Ayang. Tetapi semua itu kami lakukab demimu!

Ketika papa Yaye datang dari sidang dan menjelaskan bahwa sebenarnya kamu tidak bersalah, mas memutuskan untuk segera mencarimu hingga ketemu!"

Mulutku masih membuka. Setitip air asin tertangkap di sana. Tiba-tiba terdengar serit daun pintu. Kami sama-sama menoleh. Oma beserta Ine. Melihatku, Ine segara menghambur memelukku erat.

"Syukurlah, Ayang, kamu masih selamat," bisiknya lirih. Kusentuh pipinya lembut. Ketika dia berpaling, kuberikan seulas senyum yang termanis. Ine memandangku haru dengan mata basah.

"Ayo, kita pulang," Mas Yok bangkit seraya mengibaskan debu dari bajunya. Aku seperti diingatkan sesuatu. Ada yang aneh, batinku. Ya, mengapa...?

"Sebentar!"

Seruanku menghentikan langkah-langkah mereka. Mas Yok, Ine dan Jerd, seketika berbalik memandangku penuh tanya.

"Ada apa lagi?"

"Aku masih bingung. Terus terang, mengapa Kepala Sekolah tidak jadi memecatku? Apakah guru-guru telah punya bukti kuat untuk membebaskan aku?"

Kali ini mas Yok yang mendekatdan tersenyum maklum. "Tentu saja. Setiap keputusan tentu berdasarkan alasan dan bukti kuat, adik manis."

"Jadi," kupandang mereka semua semakin tak mengerti. "Buktinya itu...."

"Ya, benda itu sendiri."

"Jadi benda itu tidak hilang??" segahku kaget. Tiga kepala menggeleng bersamaan. Pandanganku beredar tidak puas. Ine yang tersenyum-senyum, Jerd yang sibuk mengelus janggutnya yang baru tumbuh dan mas Yok yang mengedipkan sebelah mata kepadaku. "Aku semakin tidak mengerti....," keluhku putus asa.

"Berterima kasihlah kepada pencurinya. Pencuri itu rupanya ingin menyelamatkan nyawamu," Ine merangkulku hangat.

"In... Tak kusangka! Jadi kamu sendiri?"

"Buka."

"Aduh! Jangan berbelit-belit! Sebenarnya siapa..."

"Yossi!" tukas Ine kalem. Kali ini ganti aku terbelalak. Yossi? Tetapi dia masih terlalu kecil! Tidak mungkin seorang anak sepuluh tahun sudah mengerti bentuk-bentuk benda terlarang itu! Tepukan ramah di bahu menyentakkanku.

"Jadi, Yossi...?" desisku lirih.

"Ya, dan jangan lupa! Aku yang menyuruhnya,"sambung Ine penuh rahasia. "Pertama kali melihatmu membeli saja, aku sudah khawatir. Lantas kutelepon rumahmu. Mas Yok tidak ada. Akhirnya aku bicara pada Yossi, kujelaskan bentuk dan ciri-cirinya, dan kusuruh dia selalu mengamati tas atau seragam sekolahmu, Yang. Dan ternyata, dia seorang pencuri yang hebat! Karena apa?" Ine menepuk pipiku pelan. "Karena rasa cinta! Kau tahu, Yang? Kadang-kadang kasih sejati kita dapatkan bukan hanya dari saudara sedarah!"

Aku tertegun. Ine menyindirku? Kutatap mas Yok. Dia menatapku penuh mesra. Kutatap oma yang sedari tadi hanya berdiri depan pintu seraya menyusut air mata. Mendadak hatiku meledak! Aku rindu pada mereka semua! Pada mama, pada papa, pada Yossi dan pada Yaye!

*

Klakson mobil berbunyi berturutan, tetap tidak ada seorangpun yang keluar rumah. Aku sudah mulai gelisah. Mas Yok beranjak dari samping Jerd yang menyetir, membunyikan bel rumah berkali-kali. Kami semua menunggu tegang. Kemana mereka semua? Mengapa rumah terlihat sepi?

Beberapa saat kemudian pintu garasi terkuak. Bik Uma berlari terpogoh-pogoh membukakan pintu pagar. Wajahnya memancarkan kecemasan. Kulihat mas Yok berbicara sebentar dengan Bik Uma, kemudian berlari menuju mobil dengan gugup.

"Ke rumah saki!!" perintahnya panik. "Papa Yaye kecelakaan!"

Mendengar itu aku menjerit histeris. Terbayang ucapan oma semalam. Tidak! Aku tidak ingin kehilangan papa!! Mas Yok menceritakan bagaimana semalampapa panik mencariku ke mana-mana, hingga kecelakaan itu terjadi. Waktu itu papamenyetir mobil dalam keadaan mengantuk. Tuhan, selamatkan dia!

Sepanjang jalan aku sibuk berdoa. Begitupun mobil diparkir, kami segera meloncat ke luar. Setelah bertanya pada petugas jaga, mas Yok berlari menghampiri.

"Ruang VIP!" serunya terengah. "Tadi pagi sudah dipindahkan dari sal D."

Yang terdengar hanya detak sepatu berkejaran dan nafas yang saling memburu.kupandang langit sekilas. Malam telah turun. Pekat menyelimuti hatiku. Tuhan, selamatkan papa!

Depan kamar nomer tujuh. Begitu pintu terbuka, kami semua terpaku. Aku mengeluh dalam hati melihat keadaan papa dengan kaki digantung dan berbalut verban di sana sini. Mama beranjak dari samping papa menyongsong kami, serta memelukku erat. "Ayang..," bisik mama berkali-kali sambil mengelus rambutku.

"Maafkan mama ya, Ayang. Mama telah berperasangka buruk terhadapmu. Selma ini mama selalu menyembunyikan apa yang telah terjadi," Mama menatap oma dari atas bahuku.

"Para orang tua kadang memang begitu," sela oma arif. "Berusaha menyembunyikan apa yang telah terjadi dengan tujuan anak mereka tidak membenci mereka. Seharusnya, saling terbuka dan percaya diri itu yang perlu."

"Iya mi," mama mengusap air matanya. "Ayang mau memaafkan mama kan?"

Aku hanya bisa mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata. Suaraku tersekat di tenggorokan. Perlahan kulepaskan pelukan mama. Pandanganku terarah ke satu tempat. Di atas tempat tidur itu, papaku terbaring. Langkahku tersendat menghampirinya. Dan bagi digerakkan sesuatu, mata papa membuka melihat kedatanganku. Tangannya bergerak lemah. 


Gimana nih reader cerita kali ini?

Jangan lupa tinggalkan vote + komentarnya ya

Termakasih, dan sampai jumpa di cerita berikutnya :)

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 04, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

REMBULAN DIPERBATASANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang