Hallo reader mimin sudah upload kelanjutan ceritanya ini
Penasaran kan? Yuk langsung aja di baca
Happy reading :)
Yossi hanya menggeleng.
"Seisi rumah bingung mencarimu. Siapa yang menyuruhmu bekerja di sini?"
Lagi-lagi dia menggeleng. Sekilas kulihat Yossi melirikku taku-taku.
"Yossi nggak tahan, mbak," akhirnya kata-kata itu ke luar. Matanya mencari mataku. Berair. Dengan sabar kutunggu ceritanya. Dan akhirnya, semua menjadi jelas. Yossi memiliki perasaan yang sama denganku dan mas Yok. Dia tidak puas!
"Yossi iri, mbak, sama temen-temen lain. Bapak dan ibu mereka jarang ke luar rumah. Lagi pula, Yossi merasa tidak punya siapa-siapa lagi. Akhirnya Yossi lari saja ke toko ini."
"Memangnya ini toko siapa?"
"Ini toko...," suaranya kudengar serak. Gugup. Aku memandangnya heran. Dadaku berdebur tak menentu. Yossi tengah menyimpan sesuatu.
"Katakan pada mbak Yang, Yos," desakku penasaran. "Mengapa Yossi sampai di toko ini?"
"Yossi..." dia memandangku lagi. Setengah ragu-ragu. Belum sempat membuka cerita, sapaan berat itu di telinga membuatku tersentak! Ketika kuberanikan diri untuk berpaling sepasang mata legam telah menyambutku. Mata yang selama ini kubenci!
"Tidak ada yang menyuruh dia kemari! Itu adalah atas inisiatif dia sendiri. Dan di tempat ini, seisi rumah harus bekerja!"
"Tapi... kau telah memeras tenaganya!"
"Bukan aku, tapi dia yang mau. Dia kan anakku juga. Kau lupa, Yayang?"
Tidak! Aku tidak lupa. Walau bagaimanapun juga, kini Yossi adalah adikku! Dan akan tetap menjaganya! Kupandang papa Cina dengan kegeraman meluarp.
"Aku harus membawa Yossi pulang! Sekaranf!"
"Silahkan." Papa Cina tersenyum dingin. Raut wajahnya masih keras seperti dulu. Tanpa basa-basi kutarik tangan Yossi keluar dari balik meja penjualan.
"Mbak Ayang, jangan......"
"Kamu sayang sama mbak Ayang atau tidak?" ancamku keras. Hanya inilah senjata terakhirku. Lama Yossi terdiam. Dipandangnya aku dan papa Cina bergantian. Akhirnya tatapannya melekat di wajahku. Kurasa telapak tanganku digenggamnya erat-erat. Saat itu juga aku memeluknya terharu.
"Yayang," suara papa cina mengiringi dari belakang. "Sampaikan salam untuk mamamu. Kemarin kulihat dia di super market dengan lelaki lain. Mau kawin lagi? Katakan padanya, jangan menjadi ratu kawin melulu. Nanti si Yossi minggat lagi...."
Trap. Dadaku nyaris pecah mendenggarnya! Kutentang matanya sesaat, sebelum menyeret Yossi ke luar dari toko pengap itu. Di luar, kupeluk dia sekali lagi. Rasanya tak kulepas dia sendiri. Tetapi akupun tidak berani menginjakkan kaki kembali di rumah. Kuselipkan ongkos pulang di tangannya.
"Mbak Ayang?" matanya yang polos memandangku penuh tanya. Kusentuh pipinya sekilas.
"Mbak masih ada perlu. Yossi beranu kan pulang sendiri?"
Dia mengangguk. "Tapi mbak Ayang pulang ya?"
"Ya,"? kalimatlu terpatah di kerongkongan. Mataku mulai berair. Perlahan-lahan aku bangkit. Kutepuk pipinya sekali sebelum berbalik pergi.
"Mbak Ayang!" Yossi masih berseru dari jauh.
Ketika aku menoleh ke belekang kulihat tangannya melambai-lambai. Batinku seketika luluh. Langkahku kian bergegas, menghilang di kelokan. Selamat tinggal, adikku sayang, batinku perih. Tempatlu bukan di tengah-tengah kalian. Barangkali masih ada orang yang bersedia menerimaku kembali. Ya, tujuan terakhirku, satu-satunya adalah Rumah Oma di desa!

KAMU SEDANG MEMBACA
REMBULAN DIPERBATASAN
Storie breviKubanting tutup bolpoin kesal menatap hasil karya awut - awutan di catatan Jermanku. Coretan yang sama sekali tidak berbentuk. Hasil imajinasi kanak - kanak. Banyak orang berkomentar hasil lukisan anak - anak adalah alam kehidupan mereka yang murni...