Ini versi revisi, Guys.
Happy reading.
***
"Bahwasanya, gelak tawa itu sepaket dengan air mata."
***
Namanya Jerunee Sagara. Lelaki berwajah dingin dengan sepasang alis tegas yang membingkai bulan sabit yang bertengger di matanya. Lelaki yang berhasil mencuri hati Leya sejak pertama kali mereka bertemu pandang.
Leya ingat, satu setengah yang lalu, di suatu sore yang cerah, dia pertama kali melihat Sagara. Lelaki itu datang ke rumahnya untuk bertanya mengenai kosan pada Mama. Model rambut, warna jaket, warna ransel, bahkan warna sarung tangan yang dikenakan lelaki itu bisa dia ingat dengan jelas.
"Sudah, Layaleya? Banyak yang ngantre, tuh."
Leya melirik sebal pada Rendra, teman baiknya yang menjadi kasir di Bright–cafe tempat Sagara bekerja, kemudian menoleh ke belakang. Benar, antrean yang didominasi oleh kaum hawa itu tampak panjang. Terpaksa, dia menyingkir setelah memberikan senyum paling manis pada Sagara yang bahkan enggan menatapnya dan terus membuat pesanan di balik mesin pembuat kopi.
Meja yang paling dekat dengan jendela adalah tujuannya. Baginya, mengerjakan laporan atau sekedar menonton drama di Bright sambil menatap jalanan yang ramai dari balik jendela, mendengarkan lagu yang diputar sepanjang waktu, dan sesekali mencuri pandang pada Sagara yang sedang bekerja selalu membuatnya merasa nyaman.
Sambil mengetik, Gadis dua puluh tahun itu mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama musik yang diputar di cafe. Bibir merahnya tak henti bersenandung.
Tanpa terasa, tiga jam berlalu dengan cepat. Laporannya sudah beres. Bahkan dia sempat menonton satu episode terbaru dari drama Korea yang dia ikuti.
Seporsi strawberry cheesecake dan sebotol susu kedelai rasa strawberry kesukaannya yang dibawa dari rumah sudah tandas.
Di luar sana, langit sudah gelap. Hujan turun rintik-rintik. Dia merenggangkan ototnya yang terasa kaku. Dimasukkannya laptop ke dalam tote bag kemudian membuka ponsel yang sejak tadi dia abaikan.
'Nanti pulang bareng, ya?'
Pesan itu sudah dikirimnya pada Sagara sejak dua jam yang lalu, tapi sampai sekarang, seperti yang sudah-sudah, pesan itu tidak berbalas. Leya berdiri, mencari sosok Sagara yang selalu ada di balik meja bar. Dan benar saja, lelaki bermata rembulan itu berdiri di sana, memandangnya dingin.
Leya tersenyum, berharap agar lelaki itu setidaknya sudi membalasnya. Tapi seperti yang sudah-sudah, wajah Sagara tetap dingin.
Huh.
Kalau sudah begini, Leya hanya akan melambai singkat kemudian berjalan keluar Bright dengan senyum lebar. Walau lelaki itu tidak pernah membalas pesannya, tidak pernah membalas senyumnya, dia tidak merasa terluka. Setidaknya, Sagara jujur. Lelaki tidak menutupi pada dirinya. Dan sikap lelaki itu sungguh membuatnya tertantang.
Dikeluarkannya payung lipat yang selalu tersedia di dalam tote bag. Baru hendak melangkah, suara Rendra memanggilnya.
Lelaki berwajah oriental itu mengulurkan sebuah hoodie berwarna kuning terang padanya.
"Dingin, tau. Pake dulu. Kalo sampe lo sakit, siapa yang mau ngerepotin gue?"
Leya mendengus, tapi tak urung dia segera memakainya karena seperti kata Rendra, udara yang berembus memang cukup dingin.
"Makasih, ya. Udah sana masuk," ucapnya sambil mendorong pelan tubuh Rendra.
"Hati-hati."
"Okay."
KAMU SEDANG MEMBACA
Yang Patah Tumbuh
FanfictionAurora Layaleya mencintai Jerunee Sagara sedikit lebih banyak dari dia mencintai susu kedelai rasa strawberry. Dan menjadi kekasih atau paling tidak teman Sagara adalah keinginannya. Namun, sikap Sagara yang sedingin namanya membuat Layaleya sedikit...
