Selamat membaca!
*
*
*
Rendra meremas tangannya yang berkeringat dingin sambil mengintip mobil Pajero milik Yovie yang terparkir di depan kosnya. Di luar sana, Yovie dan yang lainnya sudah siap untuk berangkat ke kebun teh Wonosari seperti yang mereka rencanakan sebelumnya. Leya bahkan membawa sekeranjang camilan untuk di sana nanti.
"Apa gue nggak ikut aja, ya?" tanyanya pada Nareshta yang tengah menyiapkan kameranya.
"Loh, kenapa emangnya, Ren? Nggak sakit, kan?"
"Enggak. Gue cuma–"
"Woy, Ren, lama amat!" Teriakan Yovie menghentikan ucapannya jadi mau tidak mau, dia dan Nareshta bergegas keluar.
"Kenapa?" bisik Leya ketika dia berdiri di samping gadis itu. Dia hanya menggeleng kemudian tersenyum kaku. Tiba-tiba, Leya menggenggam tangannya sambil tersenyum.
"Nggak usah takut. Karena selama ini kamu udah baik ke aku, sekarang aku bakal jagain kamu."
Meski terdengar menggelikan, ucapan Leya sedikit mengurangi kegugupannya. Dan sebagaimana anak yang baik hati dan penurut, dia ikut saja ketika Leya menyuruhnya naik. Gadis itu kemudian duduk di sebelahnya, masih dengan menggenggam tangannya yang dingin. Mereka duduk di bangku tengah bersama Marka. Di balik kemudi ada Yovie dan Yashinta di kursi sebelahnya. Sedangkan di belakang ada Nareshta, Sagara, dan Bujangga.
Sungguh, Rendra tidak mabuk kendaraan. Dia hanya gugup dan ... sedikit takut.
Sejak kecelakaan yang merenggut nyawa Mama dan Papa, Rendra selalu merasa takut naik mobil. Dia akan berkeringat dingin. Ingatan tentang kecelakaan yang merenggut orang tuanya selalu melintas setiap kali dia naik mobil. Dia takut berakhir seperti mereka. Meski keinginan untuk bertemu mereka sebegitu besarnya, dia belum ingin mati. Dia tidak ingin meninggalkan Kak Wendy sendirian di dunia ini.
Tangan Leya yang tidak lepas menggenggamnya juga obrolan random anak-anak tentang segala hal yang terlihat dari jendela membuatnya sedikit rileks.
***
Sagara menatap lekat pada Leya yang tengah tertawa sambil berkejaran dengan Yashinta di tengah hamparan kebun teh. Sagara suka melihatnya. Tawa Leya begitu lepas. Wajahnya secerah mentari di atas sana. Rambut cokelat sepunggungnya yang disatukan dalam kepangan longgar itu ikut bergerak-gerak. Leya juga mengenakan bando pink yang sewarna dengan dress floralnya.
Cantik sekali.
"Ga! Nih, sepeda lo."
Sagara menoleh sambil mengernyit pada Rendra yang berjalan ke arahnya sambil mendorong sebuah sepeda. Sepeda berwarna putih itu memiliki boncengan di bagian belakangnya. Di belakang Rendra, para laki-laki juga membawa sepeda di tangannya masingmasing.
"Kapan nyewanya?" tanyanya.
"Udah dari tadi. Lo kita ajak malah bengong aja sambil ngeliatin Leya," jawab Rendra yang sontak membuat semuanya tertawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Yang Patah Tumbuh
Fiksi PenggemarAurora Layaleya mencintai Jerunee Sagara sedikit lebih banyak dari dia mencintai susu kedelai rasa strawberry. Dan menjadi kekasih atau paling tidak teman Sagara adalah keinginannya. Namun, sikap Sagara yang sedingin namanya membuat Layaleya sedikit...
