Happy reading😊
Sore ini, Bright ramai sekali. Semua meja hampir penuh terisi. Baik yang di dalam ataupun luar ruangan.
Di balik meja bar, Sagara meremas tangannya yang terasa dingin. Dia gugup sekali karena akan memberikan uang kos pada Leya yang harusnya diberikan sejak kemarin.
'Rendra sialan!'
Kemarin, sebelum mengambil uang di ATM, dia sudah berpesan pada Rendra agar mereka menyerahkan uang sewa bersama. Tapi sayangnya, Leya datang lebih cepat dari biasanya, hingga mau tidak mau lelaki bermata sipit itu dan dua penghuni lainnya menyerahkan uangnya lebih dulu. Sialnya, Rendra menyuruhnya untuk memberikan sendiri uang itu pada Leya.
Sebenarnya, Sagara tidak membenci Leya. Tidak sedikit pun. Dia hanya tidak tahu harus bersikap bagaimana di depan Aurora Layaleya, gadis manis yang disukainya sejak kali pertama tatapan mereka bertemu itu. Dia gugup setiap kali melihat senyumnya, hingga tanpa sadar wajah lelaki bermata rembulan itu menjadi datar dan dingin.
Dia ingin seperti Rendra yang bisa santai dan biasa saja ketika berada di dekat Leya. Tapi dia tidak bisa. Dia terlalu pengecut.
Sore ini, seperti biasanya, Leya mengerjakan tugas atau mungkin menonton film di meja yang paling dekat dengan jendela. Cahaya matahari yang menerpa wajah gadis manis itu, membuat wajah cantiknya tampak tidak nyata. Senyum puas dan mata yang selalu berbinar setiap kali mencecap susu kedelai strawberry dan strawberry cheesecake-nya membuat siapa pun gemas melihatnya. Tak terkecuali dirinya.
Tanpa gadis manis itu tahu, Sagara selalu memperhatikannya diam-diam. Berusaha meredam degup jantungnya yang bertalu-talu setiap kali mata mereka bertemu.
"Cepetan, Ga! Keburu pulang si Leya," ucap Rendra sambil mendorong tubuh besar Sagara.
Sagara mendelik pada cowok bermata sipit itu kemudian dengan langkah berat, mendekati meja Leya. Mengabaikan tatapan lapar para gadis di sekitarnya. Dia sungguh gugup sekali.
Dia berdehem sekali, berharap Leya akan menoleh. Tapi tidak. Leya tetap menatap laptopnya, bahkan ketika cowok itu sudah berdehem tiga kali. Sampai akhirnya, dia sadar, gadis itu mengenakan earphone.
Perlahan, dicabutnya earphone yang tersambung pada laptop hingga membuat dirinya dan Leya sama-sama terkejut.
"Je?"
Terlihat sekali jika gadis itu gugup, tapi sedetik kemudian senyum lebar segera menghiasi bibirnya, membuat Sagara mati-matian menahan senyumnya.
Tanpa banyak bicara, diletakkannya uang yang sedari tadi digenggam.
"Ini apa?" tanya Leya, masih dengan senyum lebarnya. Entah, Leya ini benar-benar tidak tahu atau hanya pura-pura saja.
Dia berdehem lagi.
"Uang kos," katanya singkat kemudian berlalu. Namun, baru beberapa langkah, suara merdu Leya yang memanggilnya membuatnya berhenti.
"Nanti pulang bareng, ya?"
Seperti semua pesan gadis itu yang selalu dia abaikan, ajakannya kali inipun dia abaikan. Meski jauh dalam hatinya, Sagara teramat sangat ingin berbalik kemudian mengiyakannya.
***
Malam ini, langit cerah. Bintang-bintang berserakan, menemani bulan jingga yang menggantung di atas sana. Hujan tidak turun, tapi angin yang berembus cukup membuat siapa pun menggigil.
Sagara sedang duduk di kursi rotan yang ada di depan rumah sambil mengerjakan tugas. Lelaki bermata rembulan itu mengeratkan jaketnya sambil sesekali meniup tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Yang Patah Tumbuh
FanfictionAurora Layaleya mencintai Jerunee Sagara sedikit lebih banyak dari dia mencintai susu kedelai rasa strawberry. Dan menjadi kekasih atau paling tidak teman Sagara adalah keinginannya. Namun, sikap Sagara yang sedingin namanya membuat Layaleya sedikit...
