| PATAHAN KETUJUH |

26 4 0
                                        



Selamat pagi. Udah pada sarapan atau masih selimutan di atas kasur kayak aku?

 Selamat membaca

***


Bulan jingga sudah bertengger di langit ketika mereka sampai di sebuah rumah berpagar rendah yang hanya berjarak beberapa menit dari masjid. Rumah itu dicat putih gading sepenuhnya dengan arsitektur khas rumah peninggalan zaman Belanda. Pohon alpukat tumbuh rindang di sisi kanan rumah. Dan meski hanya bercahaya kan lampu kuning yang remang, Sagara bisa melihat betapa kosongnya bagian depan rumah itu. Tidak ada bunga atau sekadar tanaman hias yang ditanam di sana.


"Assalamu'alaikum," ucap Nareshta sembari mendorong pelan pintu depan yang tidak terkunci.

Sagara terus mengekor di belakangnya. Ternyata, seperti keadaan di luar, ruang tamu rumah itu juga tampak kosong. Hanya terdapat satu set sofa berwarna cokelat muda dan sebuah meja kecil. Tidak ada satu pun foto yang terpajang di dinding atau bunga di meja kecil. Terlalu sepi dan monoton untuk ruang tamu yang cukup luas. 


"Mamakmu mana, Resh?" tanya Sagara ketika dia tak kunjung melihat siapa pun hingga mereka sampai di dapur. 


Berbeda dengan ruang tamu dan ruang tengah yang kosong dan monoton, dapur rumah itu lebih berwarna. Warna hijau telur asin dan biru tua begitu mendominasi. Di tembok yang ada di sebelah kulkas terdapat sebuah lukisan mural bergambar sosok perempuan cantik berambut panjang dan seorang anak lelaki kecil. Mereka tampak tersenyum dan sama-sama mengenakan apron berwarna hitam. 


"Lagi sholat kayaknya," jawab Nareshta. Lelaki itu mengulurkan minuman dingin  yang langsung ditenggaknya setelah mengucapkan terima kasih. 

"Biasanya emang sepi begini, Resh?" 

"Iya. Mamak cuma tinggal sama tanteku. Tapi tanteku seringnya pulang malam. Dari pagi sampe jam lima sore, Mamak ditemenin sama perawatnya." 

"Perawat?" 

Nareshta mengangguk. Belum sempat Sagara bertanya lagi, terdengar suara pintu dibuka disusul suara roda yang bergesekan dengan lantai dari ruang tengah. 

"Itu Mamakku. Yuk." 


Di ruang tengah, di depan sebuah sofa, tampak seorang wanita yang duduk di kursi roda. Keadaan wanita itu cukup untuk menjawab pertanyaan Sagara tadi. Mamak Nareshta masih tampak cantik. Hidungnya mancung. Matanya bulat. Rambut panjangnya yang telah memutih sebagian dibiarkan tergerai. Sagara bisa menaksir kalau wanita itu seumuran dengan Mami. 


"Baru sampai, Na?" tanya wanita itu dengan sebuah senyuman terbit di wajahnya yang mulai keriput. Seketika, Sagara tahu dari mana senyum hangat milik Nareshta berasal. 

"Iya. Mamak sehat?" 


Nareshta menyalami mamaknya kemudian memeluk wanita itu erat. Sambil menyebutkan namanya, Sagara melakukan hal serupa karena mamaknya Nareshta menariknya dalam sebuah pelukan erat nan hangat. Setelahnya, Nareshta mengangkat mamaknya ke atas sofa, mengobrol sebentar kemudian pamit mandi. Meninggalkan mereka berdua di depan televisi yang menayangkan sebuah dokumenter. Mungkin kesukaan Nareshta pada film itu juga menurun dari mamaknya 

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 16, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Yang Patah TumbuhCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang