Kehidupan sempurna seorang Evelyn Scarlett Hilton, menjadi penuh kekacauan saat fotonya bersama Raven William Barclay menyebar di sekolah.
Seorang laki-laki yang sudah dilarang ayahnya untuk bersosialisasi dan playboy paling terkenal di Kingsley Pri...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
* * *
― "Miss Hilton.. Maaf membuat anda menunggu. Ini pesanan gaun anda yang baru saja sampai dari Paris tadi malam.." seorang pramuniaga berseragam rapi dan elegan khas Dior menghampiri Evelyn sambil tersenyum dengan sopan. Ia sedikit membungkuk saat menyerahkan sebuah mid-length black dress berbahan guipure raffia dengan motif floral yang terlihat transparan untuk bagian bawahnya. Bagian bahunya terbuka, hanya dengan tali tipis menyilang. Bagian depan dress lebih pendek dari bagian belakang, yang kemungkinan hanya akan mencapai pertengahan paha Evelyn.
"It's so pretty.. Thank you, Lydia.." ucap Evelyn membalas senyum pramuniaga itu.
"The pleasure is mine, Miss.. Dress ini akan sangat cantik jika anda yang memakainya. Apa anda akan mencobanya terlebih dahulu?"
"Ah tidak usah, aku sudah menyukainya. Langsung bungkuskan saja untukku."
"Baik, Miss Hilton. Kalau begitu, mohon ditunggu sebentar lagi. Sementara menunggu, silahkan dinikmati lagi sajian untuk member VVIP kami. Maaf saya tinggal dulu.." pamit pramuniaga yang di nametag-nya bertuliskan Lydia, untuk membungkus dress limited edition karya Christian Dior dengan cover dress.
Di ruang VVIP itu Evelyn bisa melihat beberapa koleksi terbaik sang designer ternama. Ada tas, asesoris, sepatu bahkan spring hingga winter dress collections mereka. Sambil memanjakan mata dengan barang-barang mewah dan modis di depannya, Evelyn juga menikmati sepotong mousse cake yang dihidangkan untuknya bersama segelas cocktail.
Tak lama, Lydia kembali lagi dengan dress pesanan Evelyn yang masih dengan gantungan tapi kini tertutup cover dress. "Dress anda sudah siap, Miss Hilton. Terima kasih atas kunjungannya. Tak sabar melihat anda kembali ke sini.."
Senyum Evelyn mengembang. "Terima kasih juga atas pelayanannya. Akan aku sampaikan pada managermu untuk menaikan gajimu bulan ini, Lydia.." ucapnya sebelum melangkah pergi dari toko salah satu luxury brand ternama itu.
"Terima kasih Miss Hilton.." senyum Lydia mengembang dan melambai manis pada salah satu anggota keluarga ternama dikotanya.
Di luar, supir Evelyn sudah bersiap di samping mobil untuk membukakan pintu. Setelah nona muda itu masuk, sang supir bergegas ke tempat duduknya. "Miss Evelyn, kita langsung pulang?" tanyanya yang sudah berada di belakang setir.
"Ya, George. Dad pasti sudah bilang padamu untuk tidak menurutiku untuk pergi kemanapun lagi.." jawab Evelyn.
Baru lima menit dalam perjalanan menuju rumahnya, terdengar dering panggilan di ponsel Evelyn. Gadis itu mengernyit saat membaca nama kontak yang muncul pada layar. Ada keengganan untuk menekan tombol jawab, sampai Evelyn hanya membiarkan ponselnya itu terus berdering dan panggilan akan berakhir secara otomatis.
Evelyn menghembuskan napas lega saat ponselnya kembali sunyi.
Tapi kelegaan itu tak berangsur lama, sedetik kemudian telepon genggam mahalnya kembali berdering. Munculnya nama kontak yang sama, membuat Evelyn kesal dan frustasi. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk menjawab panggilan.