Golden Haired Boy

58 15 16
                                        

* * *             ― Raven William Barclay, si rambut pirang dan kulit pucat ini merupakan anak dari seorang pengusaha besar dan orang tua tunggal, Robert Ignatius Barclay, pemilik Barclay Pharmaceutical Industry, yang kini sudah menjadi sebuah per...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

* * *
             ― Raven William Barclay, si rambut pirang dan kulit pucat ini merupakan anak dari seorang pengusaha besar dan orang tua tunggal, Robert Ignatius Barclay, pemilik Barclay Pharmaceutical Industry, yang kini sudah menjadi sebuah perusahaan farmasi besar yang diperjuangkan dengan susah payah oleh ayah Raven itu sejak muda. Raven sejak kecil sudah tak ingat seperti apa sang ibu, terlebih lagi wajahnya. Ayahnya hanya mengatakan bahwa ibu Raven meninggal karena kecelakaan saat ia berumur dua tahun. Foto ibunya tak pernah terpajang di dinding rumah, sampai foto pernikahan kedua orang tuanya pun tak pernah ia temukan. Yang membuatnya tak pernah tau kalau dia ini mirip ibu atau ayahnya (karena sebenarnya ia tak mau mengakui kemiripannya dengan sang ayah yang juga berambut pirang).

"Mister Raven.. You need to wake up," ucap seorang wanita paruh baya, yang mengenakan seragam pelayanan, sedang membuka tirai jendela besar kamar tuan mudanya. Silau matahari yang mencapai mata laki-laki yang masih berbaring tengkurap itu, tak membuat tidurnya terusik. "Mister Raven," panggil pelayan itu lagi karena sang pemilik nama masih tak bergerak. "Ayah anda sudah menunggu untuk sarapan,"

Dengan sekejap, mata Raven terbuka dengan terang. Seperti orang yang sejak tadi memang sudah terbangun, hanya pura-pura memejamkan mata. Luka di tulang pipinya kini sudah berplester bening, lebam-lebamnya sedikit mereda walaupun masih jelas jika dilihat dari dekat. "Ayah tau tentang kondisiku, Grace?" tanya Raven yang menyesal pulang ke rumah semalam dengan kondisi wajahnya yang masih berantakan. 

Grace, pelayannya itu berjalan ke sisi tempat tidur dimana Raven masih terbaring. "Mister Robert menanyakan kondisi anda saat pulang pada Simon, dan tangan kanan ayah anda itu pasti memberitahunya. Mobil anda juga sudah ada di depan, Simon sudah membawa mobil anda dari bengkel seperti yang anda suruh,"

Shit.

Raven mengumpat dalam hati. 

"Hmm.." ucapnya yang mendudukan diri di ranjang. "Apa aku harus mempersiapkan pemakamanku, Grace?" kekeh Raven sarkas karen sudah tau nasibnya akan seperti apa nanti.

Grace yang sudah sejak kecil mengurus tuan muda Barclay itu, merasa iba akan perlakuan keras yang selalu diterima anak majikannya oleh sang ayah. "Jangan berkata seperti itu, ayah anda pasti khawatir dengan apa yang telah terjadi. Anda juga harus bersiap untuk ke sekolah, sekarang.."

Raven menghela nafas, "Aku sebenarnya tak akan sekolah, tapi aku juga malas berada di rumah ini.." ucapnya yang bangkit dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi, meninggalkan pelayan yang merupakan pengasuhnya sejak kecil untuk membereskan tempat tidurnya.





"Aku kira kau tak akan masuk," ucap Edward yang melihat sahabatnya duduk di salah satu kursi berbatu taman sekolah mereka. Ia pun ikut duduk di sebelah temannya itu. "Merasa baikan?"

The Truth UntoldCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang