1 | Mas Tampan Itu, Pacar Lo
Please, ternyata Mas tak dikenal dan sialnya sangat berkharisma itu mengubah hidup monotonku sedikit seru dengan banyak berfantasi menjadikannya tokoh utama.
Sial! Aku gak bisa lupa!
Satu bulan sepuluh hari. See, aku bahkan tahu persis kapan kejadian itu dan karenanya aku uring-uringan gak jelas berkasuk-kasuk memepeti smartphoneku selama itu, jaga-jaga kalau-kalau dia menelponku.
Seminggu awal aku merasa sangat energik, gila gak tuh. Lalu selanjutnya aku merasa penuh pengharapan sampai detik ini. Mungkin karena rasa bersalahku.
Gak main-main, kemejanya yang ternyata memang mahal itu kulaundry sebelas kali karena noda dari minumanku itu benar-benar rese dengan meninggalkan bekas. Kali kedua belas kuputuskan untuk kucuci menggunakan tangan, manual (?) dan langsung hilang. Aku ternganga hingga merasa mendapat jackpots. Tahu gini kali pertama kucuci menggunakan tanganku sendiri!
Aku gak pernah tahu kalau pria ini sangat berdampak pada diriku. Aku sangat keteteran. Aku yang harusnya sudah bisa merampungkan bab satuku malah hanya setengah yang ku bisai dan hasilnya mendapat omelan 3 jam dari pembimbingku.
Bukannya merasa bersalah aku malah sempat berpikir, "Bapak ini anak bimbingannya gue aja kali yah? Ngomelnya gak mau liat jam." astaga, Gelbika! Kamu memang udah gila!
Dengan gontai kuhempaskan diriku untuk duduk di kursi tunggu depan ruangan pembimbingku. Rasa-rasanya aku butuh grapefruit ade untuk menenangkan otakku yang rada konslet sehabis diomelin habis-habisan selama itu. Holy shit! Aku langsung kembali kepikiran dengan Mas Tampan hanya dengan memikirkan grapefruit ade.
Kan! Kubilang juga apa! Detik hidupku kuhabiskan dengan berpikir tentang Pak Mas. Jika awal-awal aku berpikir berapa banyak yang harus kubayar untuk menggantikan kerusakan yang kubuat, sekarang pikiranku meningkat.
Dia lupa yah sama aku? Kemejaku dibuang kali yah? Astaga aku bahkan gak tahu namanya siapa! Dia idol seriusan yah? Id card ku!
Eh, atau kusamperin ke Rumah Sakit aja seperti titahnya kali yah? Tapi dengan alasan apa? Aku bahkan gak tahu namanya siapa. Bakal gak lucu banget kalau aku ber 'anu, itu, eum,' ketika ditanya petugas disana sedang apa, mencari siapa atau ada keperluan apa.
Aku berdengus saat nama Nilko bukannya unknown yang menghiasi getaran smartphoneku. Aku gak pernah tahu kenapa Nilko bisa selengket ini padaku, I mean kenapa dia bisa ngebet banget mau dekat denganku. Apa iya karena aku yang cowok banget?
Kemarin dia menerorku mengajakku kencan, double date tentu saja. Aku dan tugasku, dia dan tugasnya. Please don't judge us. Kita gak sengenes itu kok, eh, maksudku Nilko gak sengenes itu kok. Dia itu idola, cewek rebutan pengen jadi kekasihnya. Yang ngenes itu, aku.
Kutolak dong. Aku terlalu terpaku untuk menunggu Mas Tampan sampai menolaknya mentah-mentah. Aku juga merasa Nilko ngebet ingin dekat denganku, dan aku gak suka. Makanya ku tolak walau sepertinya sekarang dia gak nyerah.
Kusetel smartphoneku mode senyap. Kumasukkan semua bawaanku ke dalam backpackku lalu berjalan menelusuri korido, membawa tubuhku membela lautan manusia untuk sampai di dorm universitas.
Aku miskin. 3 tahun akhir kuhabiskan hidup di dorm universitas karena kebijakan kampus yang dengan suka rela membiayai semua kebutuhan kuliahku hingga makan dan uang saku.
Kurebahkan tubuhku di kasur yang memang sengaja kubuat menyandar di dinding membentang jendela. Kupikir procras ku kambuh lagi. Jika iya, maka hariku akan habis dengan rebahan saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sure To Count On You
Romantiek(Adult • Fiction • Romance) Gelbika bukannya cuek apalagi pendiam, dia hanya tidak tahu berinteraksi dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengira-ngira. Selama ini ia terlalu lama terkurung dalam perasaan tidak membutuhkan siapapun. Albian ten...
