Apa jadinya kalau Langkir harus berurusan dengan Geng Bonjol (pengedar narkoba) yang di mana diketuai oleh Abangnya sendiri.
Langkir Dewa Sahaja, hidupnya sempurna bak tokoh fiksi di dalam sebuah novel. Seorang atlet voli, pintar dalam osn, ketua ge...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
5. Barista
***
Biji kopi yang digulas dengan telaten oleh Barista akan menimbulkan rasa menakjubkan dalam sekali tegukan, kau paham maksudku?
***
Galih sedang berada di ruang ganti. Tadi habis latihan voli untuk persiapan tanding minggu depan. Bukan hanya dia seorang yang berada di ruang ganti tapi dengan semua orang, termasuk Langkir.
"Gue dengar lo bakalan ikut olimpiade fisika lagi, Lang?" tanya Mahesa membuka bajunya.
"Langkir ikut olim?" tambah Galih. "Lo benaran ikut olim, Lang?"
Mahesa selesai mengganti bajunya menjadi seragam osis kembali, ia lalu merangkul pundak Galih. "Lih, gini, ya. Gosip itu bagaikan kereta yang melaju dengan lesat." ucapnya serius.
"Masalahnya kereta yang melaju ini tujuannya ke stasiun Langkir."
"Sejak kapan nama gue jadi tempat stasiun?" sahut Langkir.
"Lo yang bersangkutan diam." kecam Mahesa.
"Terusin, dong..." Galih jadi terlanjur kepo.
"Sekarang gini, di sekolah ini ada nggak, sih, yang nggak kepo sama Langkir?"
"Nggak ada, lah! Langkir Si Jenius Fisika dan anak Perusahaan Mobile Fighters,"
"Nah, itu!" Mahesa melepaskan rangkulannya. "Gue dengar dari cewek-cewek yang lagi gosipin Langkir. Gila! Setiap gue jalan selalu aja ada yang nyebut nama Langkir. Lihat telinga gue,"
"Kenapa telinga lo?"
Mahesa mengambil tangan Galih untuk merasakan suhu telinga Mahesa. "Panas, kan?"