28. Putus

2 0 0
                                        

"Pah," Abang Gegel mengajak Papa Gading untuk mengobrol serius di kamar Papa Gading.

"Kenapa kamu ngajak Papa ngobrol serius di sini?"

"Ini gak boleh sampe didengar oleh orang luar, Pa!"

"Langkir? Dia adik kamu."

Abang Gegel menyipitkan matanya. "Abang mau bahas Langkir."

Papa Gading memangut patuh. "Ouh, Papa kira mau bicarain Mpok Imah."

"Mpok Imah bukan orang luar!"

"Terus Langkir?"

Sebentar, kenapa pembicaraannya jadi ngawur seperti ini. Sangat tidak jelas sekali. Abang Gegel pun mengatur napas untuk kembali ke topik awal. "Ya udah, nggak usah berantem, Pa. Ayo langsung bicarain aja."

"Kenapa sama Langkir?" Papa Gading langsung menyiapkan telinga memperhatikan.

"Kemarin Abang di bawah garasi, biasa mau cabut."

"Iya, terus?"

"Di sana Abang ketemu sama teman-teman, Langkir. Dari situ, Abang tahu satu fakta yang bahkan di luar jangkauan Papa."

"Satu fakta apa?"

Abang Gegel mengernyitkan dahi. Ia menyadari ada satu hal yang tidak beres. "Bentar, Papa nggak tahu?"

"Emang apa, Bang?"

"Bukannya Papa selama ini selalu ngawasin, Langkir?"

Papa Gading menelan salvilanya berat. Benar selama ini ia mengawasi Langkir. Tapi setelah Papa Gading sadar bahwa Langkir tidak bersalah, Papa Gading mulai menghentikan aktivitasnya.

"Dia juga punya privasi yang seharusnya Papa nggak tahu. Langkir juga anak Papa, jadi Papa mau kasih kesempatan yang sama kayak kamu."

"Itu lebih baik, Pa."

"Terus tadi kamu mau ngomong apa, Bang?"

Abang Gegel mulai menyiapkan mentalnya. Ia mencoba untuk tidak terlalu mengejutkan Papa Gading.

"Sebenarnya, Pa. Selama ini Langkir punya tradisi sebelum berangkat lomba OSN."

Papa Gading menaikan satu alisnya. "Satu tradisi apa, Bang?"

"Langkir selama ini selalu menemui Mama sehari sebelum lomba di mulai."

"APA?!" Papa Gading terkejut mendengarnya. Menemui Mama? Yang benar saja! Selama ini bahkan Mama terus menolak untuk bertemu Langkir. "Kenapa?"

"Abang nggak tahu pastinya, tapi kemarin Abang buntuti Langkir sampai ke Rumah Sakit Jiwa Asmara."

"Nggak! Ini nggak benar." Papa Gading panik di tempat, ia mondar-mandir memikirkan alasan Langkir menemui Mamanya. Papa Gading hanya takut Langkir diusir oleh Mama Salsa.

"Pa," Abang Gegel menenangkan Papa. "Gak usah panik gitu."

"Gimana Papa nggak panik? Papa udah berusaha buat bangkit dari rasa amarah sialan itu dan mulai menerima Langkir. Papa mau jaga Langkir, tapi gimana sama Mama yang bahkan nggak mau dengar nama anaknya disebut?"

"Bukannya bagus?"

"Bagus darimana, Bang?"

"Bagus karena dari situ Mama bisa mulai perlahan buat nerima, Langkir?"

Papa Gading berhenti. "Nerima, ya?"

"Semua dimulai dari terbiasa dulu, lama-lama bakal jadi kenyamanan."

"Tapi pasti nggak semudah itu,"

"Makanya, Papa harus selidiki hal ini lebih lanjut."

Papa Gading langsung keluar untuk menemui Langkir. Tidak ada masalah yang selesai jika tidak dikomunikasikan secara bersama. "Kalau gitu Papa mau nanya sama Langkir."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 4 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

LANGKIR (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang