"Tante Salsa," Langkir masuk ke dalam dengan membawa kue brownis coklat kesukaan Mama Salsa.
Sejauh ini Langkir tidak mengakui dirinya sebagai anak Mama Salsa yaitu, sebagai Langkir Dewa Sahaja. Ia berpura-pura menjadi pesuruh yang dikirim oleh Papa Gading untuk menemai Mama Salsa mengobrol.
Mama Salasa yang sibuk memakan buburnya jadi terkejut segera berdiri. "Sahaja? Kamu dateng?"
"Tante, gimana kabarnya?"
"Baik!" sumringah Mama Salsa. "Itu kantong plastik yang kamu bawa apa? Pasti brownis, ya?"
Langkir tersenyum gemas. "Coba Tante tebak isinya apa?"
"Nggak usah ditebak!" Mama Salsa mengendus-enduskan hidungnya. "Dari bau coklatnya aja udah ketebak."
"Pasti Tante nggak sabar buat makan, nih!"
"Iya! Kamu udah lama nggak datang."
"Maaf, Sahaja sibuk banget sama pekerjaan yang dikasih Papa."
Mama Salsa mengernyitkan keningnya. "Papa?"
Langkir meruntuki dirinya. Dia memang suka tidak sengaja keceplosan. Belum terbiasa memanggil Papa dengan sebutan, Bos.
"Maksudnya, Bos. Sahaja jadi linglung karena capek banget ngerjain kerjaan."
"Ya ampun," Mama Salsa memijat bahu Langkir mencoba menguatkan. "Gading emang orang yang pekerja keras. Kamu jadi ikutan, deh."
"Makasih, Tante." Langkir menyingkirkan tangan Mama Salsa. Ia berusaha untuk menggenggam erat tangan Mamanya. Sudah lama tidak merasakan hangatnya. "Itu udah tugas Sahaja."
"Gading mana?"
"Bos? Seperti biasa."
"Dia sibuk banget nggak jenguk?"
"Bos terakhir kali jenguk kapan?"
"Hmm," Mama Salsa mencoba untuk mengingat. Terakhir kali Papa Gading datang sepertinya baru dua hari yang lalu. Tapi walaupun begitu terasa lama. "Dua hari yang lalu Gading barusan jenguk."
Mendengarnya membuat Langkir lega. Ternyata Papa tidak membuang Mama, walaupun sudah berapa kali Papa kepergok jalan dengan wanita lain. "Bos keliatan kecintaan banget sama Tante."
"Pasti," Mama Salah menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Senang, deh! Bisa lihat Tante segar dan gak murung lagi."
"Jujur, Tante ngrasa semua beban udah terangkat. Kata dokter, kalo kondisi Tante kayak gini terus bisa dipulangin."
"Pulang?"
"Gading nggak kasih tahu kamu?"
Langkir terdiam tidak bergerak. Ia sangat terkejut. "Bos nggak kasih tahu, Sahaja."
"Kalo begitu, dari Tante saja."
Jika pulang, lalu bagaimana dengan traumanya? Bukankah satu jam lalu dia berteriak keras untuk menolak kehadiran Langkir.
"Tante,"
Mama Salsa yang sedang melahap brownis menghenyak. "Hmm? Kenapa?"
"Kalo Tante pulang, Tante akan bertemu dengan Langkir."
"Ouh, anak itu?" tatapan Mama Salsa berubah ketus. "Gading akan mengurusnya."
"Maksud Tante?"
"Gading bilang, anak itu akan dipindahkan dari rumah. Jadi, di rumah hanya ada Gading, Gegel, dan Tante."
APA?! Apa yang barusan Mama Salsa katakan. Langkir tidak mengerti. Penglihatan Langkir tiba-tiba berputar, ia tidak bisa melihat ke depan dengan jelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
LANGKIR (On Going)
Teen FictionApa jadinya kalau Langkir harus berurusan dengan Geng Bonjol (pengedar narkoba) yang di mana diketuai oleh Abangnya sendiri. Langkir Dewa Sahaja, hidupnya sempurna bak tokoh fiksi di dalam sebuah novel. Seorang atlet voli, pintar dalam osn, ketua ge...
