Apa jadinya kalau Langkir harus berurusan dengan Geng Bonjol (pengedar narkoba) yang di mana diketuai oleh Abangnya sendiri.
Langkir Dewa Sahaja, hidupnya sempurna bak tokoh fiksi di dalam sebuah novel. Seorang atlet voli, pintar dalam osn, ketua ge...
Bulat menggulung lengan baju Langkir untuk memastikan. Dia tidak percaya Langkir ototnya bergetar, yang ada ototnya tegang karena keseringan mau baku hantam. "Mana ada! Keras gini dibilang gemetar. Lo nggak lihat alis dia bertaut gitu, tandanya emosian. Orang emosian cenderung mau baku hantam. Kesimpulannya otot Langkir nggak pernah gemetar."
Langkir pasrah ototnya dipegang-pegang. "Gimana kalo gue baku hantam sekalian, Lat? Kata lo otot gue tegang. Mau buktiin aja. Gimana? Baku di perut apa pipi?"
Bulat melepas pegangan tangannya, merinding mendengar perkataan Langkir yang menusuk. "Gue bercanda, doang!"
"BAKU AJA, LANG!" kompor Valas.
Bulat melirik. "Lo nggak usah ikutan."
"Makanya, lo gak usah remehin, Langkir! Mati kau!"
"Kan gue ngomong fakta. Gue-"
"Makan aja mulut lo pakai keripik ini!" Galih menyumpal mulut Bulat. "Daripada mulut lo ngomong yang nggak-nggak. Takut membawa sial."
"Tapi menurut lo, Lih!" Bulat menyeret leher Galih. "Otot Langkir dibilang gemeter sama Valas. Parah nggak?"
"Njir, parah banget!" Galih mengelus-elus otot Langkir. "Keras gini dibilang gemetar coba! Lo yang benar aja, Las!"
"KALIAN YANG PARAH!" Sena yang tadinya fokus main hp bergidik ngeri. "Yang waras! Jangan modus kalian! Colek-colek otot orang lain, kalian gak miring kan? Miris. 1+1 berapa?"
"Dua," Kai datang ikut menimbrung.
"Kenapa jadi pertambahan?" bingung Langkir. Perasaan tadi topik pembicaraannya tidak mengarah ke sana. "Bahas otot gue aja, kan sama-sama ganteng sama muka gue."