"Kalian semua sudah siap?" tanya Bu Melati di tengah perjalanan.
Mereka semua menuju tempat lomba OSN menggunakan mini bus sekolah. Jarak antara sekolah dengan tempat lomba sekitar 30 menit, jadi mereka diharuskan untuk sampai ke sekolah lebih awal. Di akhir waktu, Langkir hampir saja tertinggal karena dia ngaret.
"TENTUNYA SUDAH SIAP, BU!" semangat Kai yang sedang membaca buku.
"Wah, semangat sekali kamu, Kai. Ibu suka ini."
"Iya, dong! Tidak seperti seseorang yang hampir ketinggalan bus." Bintang melirik Langkir tidak suka.
Langkir memutar bola matanya tidak peduli. Ia sibuk memutar materi lomba lewat headphonennya. "Tinggal aja gapapa, gue tadi juga bawa mobil."
"Apa?" Bintang tidak dengar.
"Sayang, udah jangan emosi." Kai menutup bukunya. "Langkir emang tadi udah bilang duluan sama Bu Melati buat ninggal, tapi Bu Melati kekeh mau nungguin."
"Seharusnya tadi ditinggal aja gak, sih?"
"Jangan."
"Tadi dia mau bawa mobil sendiri."
"Inilah alasan Bu Melati ngga mau ninggal, Langkir." Bu Melati yang tadi fokus di depan menoleh. "Kalo ditinggal, sebelum lomba kalian malah makin bertengkar."
"Tahu, tuh!" Langkir menggeleng heran. Bintang memang suka mencari gara-gara. Sepertinya akan mustahil untuk bisa tenang selama satu hari. Kalau dipikir kembali, kenapa Langkir bis berdebar dengan orang seperti Bintang?
"Lo nyebelin!"
Langkir mengamati Bintang dari atas ke bawah. "Sensian gitu, dilihat aja udah memuakan."
Ternyata mata Langkir tidak salah selama ini, tapi hati Langkir yang salah. Ini semua pasti karena dorongan implusif sesaat dari ejekan Valas dan Galih. Mereka memang harus diberi pelajaran lain kali.
"Lo bilang gue apa tadi?!" telinga sensitif Bintang memang tidak bisa dikelabuhi.
"APA!"
"LO YANG APA!"
"Eh, udah. Ini sebelum lomba, loh." tenang Bu Melati. "Tidak baik untuk bertengkar. Takutnya peforma kalian akan menurun nanti."
"Tanpa dia peforma saya tidak akan menurun, Bu." dingin Langkir.
Bintang mencebikan bibirnya tidak kuat. Rasanya ingin sekali mencabik-cabik mulut ketus Langkir itu. Padahal kan tadi memang dia yang mulai duluan. "Apalagi saya, Bu!"
Bintang dan Langkir saling melempar tatapan sengit, tidak mau kalah satu sama lain. Sedangkan Kai yang ada di tengah mencoba menenangkan mereka dengan mendorong bahu, memberi jarak.
"Lang, udahan coba! Tutup mata elangnya itu." Kai menoleh ke kanan untuk meniup-niupkan mulutnya ke arah mata Langkir. "Coba bertenang."
"Woy," Langkir menutup hidungnya karena baunya bikin mual. "Lo makan apaan tadi, Kai? Kayak toilet umum."
"Oseng jengkol pemberian Bulat."
"Sempet-sempetnya."
"Penyemangat." Kai kembali meniupkan bau mulutnya.
"Howek," Langkir langsung menyudahi adu kesengitan mata dengan Bintang. "Gak usah ngomong lo waktu kuis,"
"Rasain!" Kai menoleh ke arah kiri untuk melihat Bintang. "Sabar, yah? Langkir udah aku kalahin."
Bintang menahan napas tersenyum. "Walaupun tidak mau aku akui, tapi perkataan Langkir tadi bener. Kamu nggak usah ngomong waktu kuis, ya?"
Kai langsung menutup mulutnya. Ia mencoba mengecek berulang kali tentang bau napasnya. "Emang sebau itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
LANGKIR (On Going)
Teen FictionApa jadinya kalau Langkir harus berurusan dengan Geng Bonjol (pengedar narkoba) yang di mana diketuai oleh Abangnya sendiri. Langkir Dewa Sahaja, hidupnya sempurna bak tokoh fiksi di dalam sebuah novel. Seorang atlet voli, pintar dalam osn, ketua ge...
