Selalu Vote dan Komen yah Biar author semangat terus nulisnya!
*****
Lia dan Yeonjun menunggu singgasana dibuka, tapi ia mendengar suara mobil Jisoo beserta yang lain nyala. Lia mengintip dari jendela ternyata mereka pergi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Yeonjun, mereka pergi, Jisoo juga ikut pergi, bagaimana ini, kita tidak bisa keluar." Lia panik, iya sudah semalaman berada di sana, ia mulai haus. Bau mayat bayi juga sudah menyeruak padahal awalnya wangi sekali ruangan ini. Saking hausnya, Lia kadang melihat darah di wajan ingin sekali ia teguk.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Aku akan mendobrak pintunya, kau pasti kehausan sayang." Yeonjun memegang pintu dan berusaha mencari celah dimana ia bisa membuka paksa, namun ternyata kunci pintunya telah di buka.
" Sayang, pintunya bisa di buka."
" Hah? Yang benar?" Lia heran, tadi subuh masih terkunci.
" Iya ini,." Yeonjun membukanya.
" Apakah ada yang membukanya? Siapa?"
" Udah, yang penting kita keluar dulu."
Lia dan Yeonjun dengan mengendap-ngendap melewati lorong disana.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lia menuju ke kamarnya, sementara Yeonjun ke rumahnya. Ia kembali ke rumah ibunya karena Lia tinggal di istana.
Lia bertemu dengan Hueningkai di taman saat menuju kamarnya, Hueningkai sedang menggendong bayi nya untuk berjemur.