{D&B}

378 30 5
                                        

Maaf Lama banget. Makasi buat yang masih nungguin up🙏

Semoga masih nyambung ceritanya. Happy Reading✨

Jangan Lupa Vote dan Comment biar aku semangat
______

[AUTHOR POV]

Bella terbangun ketika merasakan suara bisikan terasa seperti helaan napas hangat di telinganya. Perlahan, ia mengerjapkan mata, berusaha menghalau cahaya silau yang masuk matanya. Pengelihatannya perlahan semakin jelas, hingga satu sosok yang begitu familiar mengisi seluruh pandangannya. Laki-laki itu, Ervan, menatapnya dengan air mata yang sudah luruh membasahi pipi.

"Ervan?" lirih Bella. Suara nya nyaris tak terdengar, serak dan kering.

Kesadaran menghantamnya bersamaan dengan aroma antiseptik yang tajam. Ia mengamati seluruh ruangan. Dinding putih, bunyi dari mesin di samping ranjang, dan yang terburuk-selang-selang tipis yang menancap di punggung tangannya. Ia mencoba bergerak, tetapi seluruh tubuhnya terasa sakit, terutama pada pungungnya.

Separah apa keadaanku saat ini?

"Kenapa ... kenapa aku di rumah sakit?" bisiknya lagi, lebih pada dirinya sendiri. "Apa yang terjadi?"

Melihat Bella tersadar, wajah Ervan yang semula pias kini pecah dalam senyuman lega yang bercampur isak. Itu bukan mimpi. "Bella, akhirnya kamu bangun." Tanpa aba-aba, Ervan merengkuhnya dalam pelukan hati-hati, seolah takut Bella akan hancur. "Aku sudah sangat lama menunggumu. Terima kasih, Tuhan."

Setelah Bella dinyatakan koma, terhitung sudah satu minggu, tanpa lelah Ervan selalu menemani nya. Meskipun masih dalam masa pemulihan pasca amputasi, ia tetap setia menemani Bella tanpa lelah dan mengeluh. Hingga kini, setelah Bella sadar, Ervan sangat terharu sekaligus bahagia. Ervan sangat bersyukur, tuhan masih berbaik hati mengembalikan Bella padanya, setelah sebelum nya dokter mengatakan presentase hidup Bella sangat kecil.

Bella datang kerumah sakit dengan keadaan sudah tak sadarkan diri. Tubuhnya dipenuhi luka sobek dan wajahnya dan kepalanya penuh darah akibat bekas pukulan. Keadaan Bella begitu memprihatinkan, membuat hati Ervan saat itu teriris pedih. Ia membayangkan, jika saja beberapa bulan lalu, Bella percaya dan memilih ikut dengan nya pergi dari Daniel, mungkin Bella akan sangat bahagia saat ini. Ervan yakin, yang melalukan nya adalah Daniel. Siapa lagi kalau bukan lelaki biadab itu!

"Aku akan membalaskan semua yang terjadi padamu Bella. Aku janji!" Batin Ervan. Jika sebelum nya Ervan akan mengalah. Kini tidak lagi. "Kalian sudah berani meremehkan ku. Lihat saja nanti." dengan senyum smirk nya.

Bella merasakan getar di bahu Ervan, tetapi pelukan itu terasa sedikit menekan lukanya hingga ia tanpa sadar meringis. Ervan buru-buru melepaskan pelukannya. "Maaf aku hanya terlalu senang kamu sudah bangun." ujar Ervan, senyumnya tak luntur sedikit pun meski air mata masih mengalir. "Sudah satu minggu penuh aku menunggumu."

"Satu minggu?" Kata-kata itu menggema di benak Bella. Jadi, ia telah terbaring tak berdaya selama itu. Kemudian, sebuah kesadaran lain menghantamnya dengan kekuatan penuh. Matanya membelalak panik. "Bee di mana? Apa anakku baik-baik saja? Dia di sini?"

"Sst, tenang," Ervan mengusap punggung tangan Bella yang bebas dari selang infus. "Bee aman di rumah bersama orang tuaku. Nanti aku akan meminta mereka membawanya kemari. Tapi sekarang, kamu harus diperiksa dokter dulu untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Aku akan pergi dulu memanggil dokter."

Saat Ervan berbalik, keraguan merayapi Bella. "Kamu tidak sedang berbohong, kan?"

Langkah Ervan terhenti. Ia menoleh, tatapannya lekat dan penuh kepastian. "Aku tidak akan pernah membohongimu, Bella. Sejak dulu, aku selalu jujur padamu."

Ervan pun melangkah keluar. Pintu tertutup perlahan, meninggalkan Bella dalam keheningan yang memekakkan. Ucapan Ervan barusan seolah menjadi cermin pahit yang memantulkan kembali betapa jahat ia pernah meragukan satu-satunya orang yang tak pernah berdusta padanya. Dan ironisnya, ia melakukan itu karena telah memberikan seluruh kepercayaannya pada seorang monster.

Daniel.

Nama itu bergema di benaknya, membawa gelombang rasa sakit yang begitu hebat hingga napasnya tercekat. Bukan isak tangis yang meledak-ledak, melainkan air mata sunyi yang mengalir dari sudut matanya Dadanya terasa sesak, seakan ada batu besar yang menghimpit paru-parunya, membuatnya sulit bernapas.

Bayangan Daniel terlintas di benaknya. Bukan senyum hangat yang dulu selalu ia dambakan, melainkan seringai puas saat bercinta dengan wanita lain. Wajah polos yang menyembunyikan kebusukan tak terhingga. Janji-janji manis Daniel hanyalah dusta!

"Aku hancur. You destroyed me, Daniel." bisik Bella penuh tangis pedih.

Kebohongan Daniel, menghancurkan semua harapan nya untuk bisa membangun keluarga yang bahagia. Ia ingin sekali saja meneguk bahagia di dunia ini. Namun, seakan sebuah karma, semuanya hancur, tak lebih dari serpihan kaca yang berserakan. Kebahagiaan yang lalu ia rasakan, kini telah tiada, dan mungkin tak akan kembali. Kebahagiaan singkat yang ia rasakan hanyalah ilusi yang diciptakan oleh siasat licik Daniel.

"Aku membencimu...." desisnya lirih, setiap kata terasa seperti bara api yang membakar tenggorokannya.

Ia mencengkeram selimut, buku-buku jarinya memutih, mencoba mencari pegangan di tengah badai emosi. Saat itulah, rasa nyeri yang tajam di rusuknya berdenyut hebat, seolah merespons gejolak di hatinya. Denyutan itu, membuat seketika memorinya terlempar ke lantai yang dingin dan berdebu.

"Ampuni aku paman. Hikss...." Tanpa ampun, Paman Ethan lagi dan lagi menendang tubuh nya seperti sebuah mainan, membuat udara di paru-parunya lenyap.

Tawa Alex yang melengking terdengar di atasnya, keji dan tanpa belas kasihan, saat sebilah benda dingin dan tajam menggores kulit lengannya. Setelahnya, kulitnya terasa senakin perih mematikan syaraf, saat luka nya terlumuri suatu cairan berbau pesing.

"Hentikan! Bunuh aku sekarang..."

Napas Bella memburu, tersengal-sengal. Monitor di samping ranjangnya mulai berbunyi lebih cepat, melengking panik seirama dengan detak jantungnya yang menggila. Kilasan-kilasan kekejaman itu berputar di kepalanya seperti film rusak. Bella sepenuhnya—jiwa dan raga, hancur lebur oleh Daniel.

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan kasar. Ervan menyerbu masuk bersama seorang dokter dan perawat, wajahnya pias melihat keadaan Bella.

"Bella! Apa yang terjadi?"

Bella tidak bisa menjawab. Matanya menatap kosong ke langit-langit, sementara tubuhnya gemetar hebat, kembali terperangkap kembali kebayangan neraka yang ia tinggalkan.

"Beri aku kebahagiaan kekal, Tuhan"

***

Seorang lelaki bertopi hitam, Gega, mematung di ujung lorong rumah sakit. Dari tempatnya bersembunyi di remang cahaya, ia mengamati Ervan dan para petugas medis yang berlari panik menuju ruang rawat yang sejak tadi ia awasi. "Untung saja Bella sudah sadar," bisiknya, hembusan napas lega terasa hangat di tengah udara dingin ruangan. "Setidaknya, satu misi selesai. "

Matanya bergerak awas, memindai setiap sudut untuk memastikan tidak ada yang menyadari keberadaannya. Ia harus segera pergi. "Aku harus menemukan Tuan sebelum semuanya terlambat." Tangannya yang terbalut sarung tangan hitam merogoh saku jas, mengambil ponselnya, lalu menghubungi satu nomor yang terukir di kepalanya.

Panggilan itu tersambung dalam satu dering. "Bagaimana, Gega?"

Suara berat di seberang sana, dingin dan tanpa emosi, seketika membuat bulu kuduk Gega berdiri. Ia meneguk ludah, mencoba membasahi tenggorokan yang terasa kering. "D-dia sudah siuman, Tuan. Saat ini saya akan melanjutkan pencarian."

Terdengar helaan napas kesal dari seberang. "Cepat!" ujar penuh tekanan. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Cari keberadaannya sekarang juga. Aku ingin dia kembali dalam keadaan hidup!"

"Baik Tuan."

Sambungan telepon langsung mati. Nafasnya memberat. Mau tak mau, ia harus menyelesaikan misi ini sendiri. Seakan dalam sebuah permainan bertahan hidup, di mana ia harus berkorban demi keselamatan kedua belah pihak yang harus ia lindungi.

"Ini semua demi, Bee. Aku akan berusaha mengembalikan semua pada tempatnya."

***
See you....

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 22 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DESTROYEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang