Kian hari, tubuh Shiena mulai menunjukkan perubahan. Perut yang dulu masih rata kini tampak sedikit menggembung. Usia kehamilannya telah memasuki akhir trimester pertama. Di usia tiga bulan itu, nafsu makannya meningkat drastis, sesuatu yang tak bisa lagi ia sembunyikan sepenuhnya.
Bahkan beberapa teman sekelas mulai menyadarinya. Tak jarang mereka melontarkan candaan, menyebut Shiena seperti orang yang sedang ngidam. Tentu saja Shiena hanya menanggapinya dengan senyum samar. Ia tak mungkin menjawab jujur, meski kenyataannya dugaan mereka tidak sepenuhnya salah.
Cara berpakaiannya pun ikut berubah. Kemeja-kemeja longgar kini menjadi pilihan utama, sengaja dipilih untuk menyamarkan perutnya yang perlahan membesar.
“Shi! Hari ini jadi cek kandungan?” tanya Diandra.
Shiena hanya berdehem singkat sebagai jawaban.
“Jam berapa?” lanjut Diandra, menatapnya penuh perhatian.
“Jam sepuluh. Kenapa? Mau nemenin?”
“Mau banget, sih. Tapi aku ada kelas jam sebelas,” jawab Diandra, jelas kecewa. “Cek kandungan gitu lama nggak, Shi?”
“Nggak juga. Yang lama biasanya ngantri.”
“Berarti aku nggak bisa nemenin kamu, dong?!” nada kecewa Diandra akhirnya tak bisa disembunyikan.
Shiena segera menoleh ke arahnya. “Nggak apa-apa. Aku bisa periksa sendiri.”
“Nggak bisa diundur, Shi? Jam satu aja, misalnya?” tawaran Diandra terdengar menggiurkan.
Namun Shiena tetap menggeleng. “Nggak bisa lah. Aku sudah janji sama dokternya. Masa iya aku batalin cuma gara-gara kamu?”
“Padahal aku penasaran banget pengin lihat muka ponakanku, Shi!”
Shiena memutar bola mata ke atas. “Ya ampun, Di. Nanti aku tunjukin hasil USG-nya ke kamu. Lagi pula di usia segini belum terlalu kelihatan jelas bentuknya, kok.”
Meski begitu, Diandra tetap memberengut tak puas. Bahunya langsung luruh, pemandangan yang justru membuat Shiena tertawa lepas.
“Pokoknya kamu harus nyisain satu foto USG buat aku,” protes Diandra setengah ngotot. “Biar bisa aku simpen di dompet.”
•••
Sekitar pukul setengah sepuluh pagi, Shiena sudah berangkat ke klinik. Kini ia tengah menunggu giliran untuk pemeriksaan kandungan.
“Periksa kandungan juga, Mbak?”
Shiena mengalihkan pandangan dari layar ponselnya saat seorang ibu di sampingnya menyapa.
“Iya, Bu. Mau periksa kandungan juga,” jawab Shiena sambil mengelus perutnya dari balik hoodie yang dikenakannya.
“Masih muda ya, Mbak? Nikah muda, ya? Wajahnya kelihatan muda sekali.”
Atas pertanyaan itu, Shiena sempat terdiam. Ia sendiri belum tahu harus menjawab apa. Meski begitu, kepalanya tetap mengangguk pelan, seolah membenarkan asumsi sang ibu. Daripada menjawab jujur dan memancing cerita panjang yang tak ingin ia dengar, Shiena memilih mengalah.
“Hamil berapa bulan, Mbak? Kok suaminya enggak menemani saat periksa?”
“Tiga bulan, Bu. Suami saya lagi ada urusan kerja di luar kota, jadi enggak sempat menemani kontrol hari ini.”
“Ibu Shiena!”
Hembusan napas lega terlepas tanpa sadar dari bibir Shiena. Sejujurnya, ia sudah muak duduk bersebelahan dengan ibu yang terlalu cerewet itu. Untungnya, perawat memanggil namanya di waktu yang tepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pregnant Still Virgin [Terbit Ebook]
RomanceHamil, tapi masih perawan? Bagaimana mungkin? Peristiwa langka itu kini dialami Shiena, seorang mahasiswi berusia dua puluh satu tahun. Tanpa pernah menyentuh batas yang dilarang, tanpa pacar, tanpa kehidupan malam-namun di dalam rahimnya tumbuh keh...
![Pregnant Still Virgin [Terbit Ebook]](https://img.wattpad.com/cover/350588618-64-k112988.jpg)