Chapter 1

103K 1.7K 9
                                        

Pagi-pagi buta, Shiena terbangun dari tidur lelapnya ketika sensasi aneh merayap dari perut hingga ke tenggorokan. Semakin ia menahannya, semakin kuat gejolak itu mendesak keluar, memaksanya menyeret langkah dengan setengah sadar menuju kamar mandi.

"Huek... huek..."

Suara muntahannya menggema di ruang sempit itu. Namun ada sesuatu yang terasa janggal. Yang keluar hanya cairan bening-bukan sisa makanan yang menggumpal seperti biasanya.

Hampir lima menit Shiena bertahan membungkuk di depan wastafel. Cairan itu tak kunjung berhenti, meninggalkan rasa perih yang membakar di kerongkongan. Otot perutnya pun nyeri, tertarik paksa setiap kali tubuhnya kembali memuntahkan isi yang entah apa.

Tak berhenti sampai di situ, Shiena berinisiatif memasukkan jari telunjuknya ke dalam rongga mulut, berusaha mencongkel apa pun yang bisa dijangkaunya. Namun upaya itu tetap tak cukup ampuh mengusir rasa mengganjal yang tertahan di tenggorokan.

Tidak kehabisan akal, Shiena kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher, mengurut perlahan dari bawah ke atas. Benar saja-usaha tak mengkhianati hasil. Cairan bening itu kembali keluar mengikuti gerakan tangannya. Tak seberapa banyak, namun cukup untuk membuat dadanya terasa lebih lega, napasnya pun sedikit lebih ringan.

Merasa gejolak itu akhirnya mereda, Shiena membasuh mulut dan wajahnya. Ia sempat menatap pantulan dirinya di cermin. Pucat. Itulah satu-satunya kata yang terlintas di benaknya saat melihat wajahnya sendiri.

Setelahnya, Shiena kembali menyeret langkah keluar dari kamar mandi. Tujuannya hanya satu. Kasur. Entah mengapa, setelah muntah-muntah, keinginannya untuk berbaring dan kembali terlelap begitu kuat. Energi yang sebelumnya terasa penuh seolah tersedot habis, kembali ke titik nol.

"Kenapa?" tanya Diandra dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

"Nggak tahu. Mual, terus muntah," sahut Shiena singkat.

Tanpa menghiraukan tatapan heran sahabatnya, Shiena merebahkan tubuh di ranjang single miliknya, membiarkan rasa lelah menariknya kembali ke pelukan kasur.

Diandra bukan sekadar teman kos bagi Shiena. Mereka sudah bersama sejak kecil, tumbuh berdampingan seperti saudara kandung. Ke mana pun pergi selalu berdua, merencanakan apa pun selalu bersama. Bahkan ketika harus merantau jauh dari orang tua demi pendidikan, keduanya sepakat memilih universitas yang sama. Hanya jurusan yang memisahkan langkah mereka.

"Kok bisa? Nggak salah makan, kan? Kamu makan apa kemarin?" tanya Diandra bertubi-tubi, rasa kantuknya mulai luruh.

"Seblak," jawab Shiena. Keningnya berkerut. "Emang bisa, ya, cuma makan seblak doang sampai mual muntah begini?"

"Ya bisa aja, kalau level pedasnya tinggi."

Shiena menggeleng pelan. "Nggak. Aku makan level biasa, yang sering aku makan. Pedasnya juga masih kepegang, Di."

"Terus... kenapa bisa sampai mual, muntah begitu?" nada suara Diandra perlahan melemah. Kedua matanya sudah terpejam, tapi ia masih sempat menimpali Shiena.

"Itu juga aku nggak tahu, Di. Ampun deh. Berapa kali harus aku bilang," gerutu Shiena tanpa mengubah posisinya.

Beberapa detik berlalu dalam hening. Shiena menatap langit-langit kamar, mencoba mengabaikan sisa rasa tak nyaman di tubuhnya. Entah kenapa, ada perasaan asing yang mengganjal, bukan sekadar mual biasa.

"Hm," gumam Diandra pelan, suaranya nyaris lenyap, sementara Shiena perlahan membiarkan matanya terpejam, menyimpan kebingungan yang belum sempat ia pahami.

•••

"Berangkat jam berapa, Di?" tanya Shiena. Jarum jam sudah menunjuk pukul sepuluh, tapi baik ia maupun Diandra masih tergolek malas di atas tempat tidur.

Gila, lama juga mereka tidur.

"Jam satu," jawab Diandra sambil menguap. "Kalau kamu?"

"Jam sebelas," sahut Shiena lesu. Matanya menatap kosong ke langit-langit. "Berarti... sejam lagi dong?!"

Diandra melirik ke arahnya, dahi sedikit berkerut, tumben banget. Biasanya Shiena yang paling heboh kalau ngomongin kuliah, apalagi kalau udah kesiangan. Tapi kali ini... semangatnya entah ke mana.

"Iya, sejam lagi. Kenapa? Kok kelihatan nggak semangat gitu?"

"Hah?"

"Hah, hoh, hah, hoh! Kamu kenapa sih, Shi? Ditanya jawabnya ngalor-ngidul terus. Kesambet setan toilet, ya?" Diandra sampai bergidik sendiri membayangkannya.

"Mungkin," jawab Shiena datar.

"Yeh. Nih anak jawabnya gitu. Bikin merinding aja. Sana bangun, mandi. Jangan lupa baca doa, sekalian balikin setan yang nempel di badanmu ke tempatnya," oceh Diandra.

Shiena mengecek jam sekali lagi sebelum akhirnya memaksa diri bangun. Hari ini tubuhnya terasa luar biasa berat meninggalkan kasur-seolah ada magnet yang menarik punggungnya agar kembali menempel di empuknya ranjang itu.

"Lawan, Shiena. Kalau kamu nggak melawan, mau jadi apa kamu nanti? Jangan biasain malas-malasan-nanti kebawa sampai tua, gimana?" gumamnya menyemangati diri sendiri. "Ayo, semangat pejuang sarjana biar dapat suami konglomerat! Kalau sudah dapat suami konglomerat, baru deh bebas tiduran seharian, terserah!"

Entah sugesti atau memang keajaiban motivasi versi dirinya sendiri, kata-kata itu terbukti ampuh. Semangat Shiena perlahan menyala kembali. Ia segera bergerak cepat sebelum kobaran itu padam-karena ia tahu betul, semangatnya mirip api kecil: gampang menyala, tapi juga gampang mati.

Sambil bersenandung ringan, Shiena merapikan tempat tidurnya. Itu caranya membangunkan seluruh anggota tubuh, supaya nanti tidak kaget saat disiram air dingin.

"Kayak orang gila aja si Shiena," ejek Diandra. "Aku anter ke RSJ, mau?"

Shiena melempar guling tepat mengenai wajah Diandra. "Sst, diem, Di. Jangan ganggu dulu. Mumpung semangatku masih berkobar-meski kobarannya sepoi-sepoi."

Bagi Diandra, istilah sepoi-sepoi punya arti khusus. Itu tanda bahaya. Artinya semangat Shiena tinggal sisa-sisa, dan jika ia masih nekat bercanda, besar kemungkinan ada benda keras-entah guling, botol, atau batok kepala charger-yang akan melayang ke arahnya.

Akhirnya Diandra memilih mengalah, membiarkan sahabat labilnya itu masuk ke kamar mandi. Begitu Shiena menghilang dari pandangan, ia kembali bergelung di balik selimut. Dingin AC membuatnya kian nyaman menikmati sisa waktu sebelum benar-benar harus bangun.

"Weesh, udah mandi aja, Shi? Kayak kerbau. Mandinya bentaran doang," ledek Diandra.

"Sotoy. Sepuluh menit masih dibilang bentaran? Hello?" balas Shiena sambil memutar bola mata. Tangannya sibuk mengobrak-abrik lemari mencari pakaian.

"Perasaan kamu masuknya barusan, deh."

"Terserah, Di. Aku lagi buru-buru."

Perdebatan pun kembali berlanjut-dan seperti biasa, tak pernah benar-benar menemukan ujungnya sampai salah satu memilih mengalah demi kewarasan mental. Namun debat-debat kecil itu selalu datang dari rasa sayang. Buktinya, saat Diandra putus cinta minggu lalu, Shiena-lah yang paling terluka. Apalagi setelah tahu sahabatnya itu ternyata diselingkuhi oleh mantan pacarnya sendiri-dengan salah satu teman sekelas Diandra.

Betapa murkanya Shiena saat itu. Dengan keberanian yang entah datang dari mana, ia melabrak mantan pacar Diandra beserta selingkuhannya. Cacian yang bahkan tak pernah terlintas di kepalanya sebelumnya mendadak tumpah tanpa kendali hingga membuat Diandra sendiri terkejut mendengarnya.

"Aku pergi dulu ya, Di. Udah mau jam sepuluh," ujar Shiena setelah selesai merapikan pakaiannya.

"Dah. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut."

"Yoi. Dah, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

•••

Tbc

Pregnant Still Virgin [Terbit Ebook]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang