Chapter 3

50.6K 1.4K 6
                                        

Kamar yang dulunya ramai oleh celoteh, curahan perasaan, serta lontaran canda tawa yang mereka lalui tanpa beban sejak pagi tadi, kini seolah kehilangan semuanya. Siang bolong yang terik membuat kamar berbentuk persegi itu terasa semakin panas. Pendingin udara menyala cukup kencang, namun seakan tak lagi berfungsi.

Tegang.
Diam.
Hening.

Itulah gambaran paling tepat untuk suasana yang sedang berlangsung. Di atas sofa kecil, dua anak manusia duduk berdampingan, masing-masing larut dalam pengembaraan pikiran yang entah menuju ke mana.

Yang satu menunduk, mengulang kembali kejadian yang telah berlalu. Ia mencari jawaban—apa pun yang mungkin dapat meredakan pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya. Nihil. Tak satu pun jawaban terasa tepat, bahkan untuk dirinya sendiri.

Sementara itu, gadis di hadapannya menatap tajam sang sahabat yang masih tertunduk. Amarah mendidih di dadanya, ingin meledak lewat teriakan, namun ia menahannya. Ia masih cukup waras untuk memilih bertanya dengan baik, meski nyaris gagal.

Hembusan napas berat keluar dari bibir gadis di seberang sofa. Diandra.

“Are you kidding me, Shi?” suara Diandra akhirnya memecah keheningan.

Setelah sekian lama sunyi menggantung, Diandra pun menyuarakan isi kepalanya. Sejak tadi bibirnya terasa gatal ingin berbicara, menunggu penjelasan dari mulut sahabatnya. Namun hingga kini, tak satu kata pun terucap, dan itu cukup membuat kesabarannya terkikis habis.

Shiena mengangkat kepalanya, menatap Diandra yang kini memandangnya dengan sorot mata penuh ketidakpercayaan.

“Mending jujur, deh. Kalau kamu jujur, kita bisa cari jalan keluarnya sama-sama. Kamu nggak perlu khawatir aku ngadu ke Mama Papa kamu. Aku nggak bakal ngasih tahu mereka selama kamu mau bicara jujur,” pinta Diandra, nadanya terdengar putus asa.

Please, cerita, Shi. Jangan bikin aku makin berpikir negatif tentang kamu. Jelasin semuanya ke aku, tanpa ada yang dikurangin dan tanpa ditambah-tambahin. Please!”

“Aku harus jelasin gimana lagi, sih, Di?” Shiena akhirnya angkat suara. “Aku beneran udah jujur. Aku nggak pernah begituan. Kamu sendiri tahu aku nggak punya cowok. Jadi gimana mungkin aku bisa hamil?”

Air mata perlahan membasahi pipi Shiena. Ia kebingungan harus menjelaskan apa lagi pada sahabatnya. Berkali-kali ia mengatakan bahwa dirinya tidak pernah melakukan hal itu, namun Diandra seolah tetap tak percaya.

“Terus, caranya kamu hamil gimana, Shi?” Diandra menggerutu, suaranya sarat frustrasi. “Gimana bisa hamil tanpa ngelakuin itu? Coba jelasin ke aku. Jangan bikin aku gila mikirin ini.”

“Terus aku harus gimana biar kamu percaya?” suara Shiena bergetar. “Aku udah jujur sama kamu. Kamu dengar sendiri kan tadi dokter bilang apa?”

Diandra bungkam, wajahnya kosong.

“Dokter bilang aku nggak boleh stres,” lanjut Shiena lirih. “Dan sekarang… kamu justru bikin aku stres.”

“Aku juga stres, Shi,” dengus Diandra. “Udahlah. Aku capek ngomong sama kamu. Pusing mikirin gimana caranya kamu bisa hamil.”

•••

Malam ini terasa berbeda dari biasanya. Entah mengapa, angin berembus lebih dingin, menusuk hingga ke tulang. Jaket tebal yang membungkus tubuhnya terasa tak banyak membantu. Ia berkali-kali mengusap lengannya, berusaha menghangatkan diri, namun rasa dingin tetap bertahan.

“Mau makan apa, sih, Shi? Dari tadi cuma mondar-mandir, lihat jajan doang,” gerutu Diandra yang mulai kehilangan kesabaran.

Shiena langsung cemberut, kepalanya celingak-celinguk mencari jajanan yang diinginkannya. “Makanya, ini lagi nyari jajanannya.”

Pregnant Still Virgin [Terbit Ebook]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang