Kosan 13

6 0 0
                                        

Bau menyengat itu terus kucium. Malam-malam begini, siapa, sih, yang jorok gak buang sampah. Aku pengen tidur jadi gak bisa. Padahal capek habis pulang kerja. Itu pasti kerjaan tetangga kosanku. Kenapa aku harus punya tetangga yang jorok, sih?!

Oh, ya, aku ini anak rantau dan tinggal di sebuah kosan. Tempat ini hanya ada satu lantai dan terdiri dari 13 kamar, punyaku paling pojok alias di kamar 13. Setiap aku melintasi kamar lain, normal-normal saja, kok. Tapi saat lewat di kamar sebelahku, bau menyengat itu selalu kucium. Semacam bau sampah atau entahlah tak bisa kudeskripsikan saking baunya. Nasibku malang sekali, punya tetangga jorok.

Aku membiarkan hal ini berlangsung. Kupikir, besoknya tidak akan kucium aroma semacam itu lagi, tapi dugaanku salah. Bahkan hingga hari kelima, bau itu masih tetap ada. Gara-gara itu, tidurku jadi terganggu, napasku juga jadi tidak bebas. Aku sudah tak tahan lagi. Aku harus menegurnya! Aku menyingkirkan rasa tak enakanku demi kedamaian pernapasan dan kesehatan tubuhku.

Aku mengetuk pintu itu. Ketukan pertama aku tak mendapat jawaban, ketukan kedua barulah kudengar suara kunci dibuka. Tak lama kemudian, muncul seorang gadis cantik yang sepertinya seumuran denganku sedang menyunggingkan senyum manisnya. Ia terlihat  ramah.

"Anu, Mbak, maaf, itu--mm, saya setiap malam suka nyium bau gak sedap dari kamar Mbak. Maaf, bukan bermaksud lancang tapi kalau misalkan Mbak punya sampah yang mau dibuang, alangkah baiknya dibuang dulu supaya baunya gak meleber kemana-mana, soalnya itu ganggu saya, Mbak, saya jadi gak bisa tidur."

Di luar dugaan, kupikir dia akan memaki atau marah, tapi ternyata gadis cantik itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah. Benar-benar baik.

Sepertinya aku tarik kembali kalinat terakhirku. Ini sudah hari ke-9 tapi bau tak sedap itu tak hilang juga. Sial, setiap malam aku lalui dengan napas yang tidak bebas. Apa, sih, yang ia lakukan?!

Tak ada lagi keramahan, hanya kemarahan yang aku tampakkan saat menggedor pintu kosan nomor 12 lagi. Aku menyampaikan maksudku padanya dengan kesal.

"Maaf, Mbak, kalau aktivitas saya mengganggu. Tapi saya janji saat malam ke-12 Mbak gak akan nyium bau itu. Dan besoknya Mbak gak bakal pernah nyium bau itu lagi."

Kalimatnya itu terdengar ambigu. Aku jadi penasaran dia itu ngapain sebenarnya, tapi bodo amatlah bukan urusanku juga.

Aku menjalani malam dengan sabar. Di malam ke-12, aroma itu tak tercium.  Ah, akhirnya aku bisa tidur dengan nyaman. Kedepannya pernapasanku akan tetap sehat karena tak menghirup macam-macam. 

Besok malamnya pintu kamarku diketuk. Saat kubuka, ternyata ia tetangga sebelahku.

Ia melemparkan senyum ramah dan berkata, "Ayo, saatnya giliranmu."

Sssttt!!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang