Senin, 18 Oktober 2021 seluruh warga sekolah berkumpul di lapangan untuk melaksanakan upacara seperti biasa dan di lanjutkan pembukaan Lomba Bulan Bahasa yang akan di laksanakan hari ini.
"Lomba Bulan Bahasa di nyatakan di buka!" Ucap sang kepala sekolah di depan.
Dung dung dung!
Suara mix yang di pukul oleh kepala sekolah yang mengatakan di buka nya suatu kegiatan. Mereka yang mengikuti lomba memasuki ruangannya masing-masing sesuai nama lomba yang di ikuti. Tania masuk ke ruangan Lomba Baca Puisi lalu duduk di sebelah Siva. Ya, sekarang mereka bersaing secara tidak langsung."Dari kelas apa?" tanya panitia.
"Kelas 8k," balas Tania dengan senyum tipis. Sang panitia pun memberi selembar kertas untuk di tanda tangani oleh Tania sebagai tanda adanya peserta.
Selang beberapa menit acara di mulai. Sang pembawa acara memperkenalkan satu per satu juri yang akan menilai setiap peserta lomba. Ada tiga juri yang berada di depan dan tentunya semua juri guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Setiap juri berbeda penilaian, ada yang menilai dari intonasi, ada yang menilai dari gerakan, dan ada juga yang menilai dari ekspresi.
Tania sempat overthinking karena ada beberapa orang yang mengatakan bahwa yang pertama kali di lihat oleh juri yaitu fisik. Meskipun Tania sangat kepikiran dengan hal itu dengan rasa percaya dirinya ia yakin bahwa ia akan mendapatkan juara puisi. Tania tidak mau mengecewakan diri sendiri maupun orang lain yang bereskpertasi tinggi kepada dirinya terhadap lomba yang di ikuti olehnya.
Sejak di mulainya acara Tania tidak putus berdoa agar di beri kelancaran saat tampil nanti. Satu sampai lima peserta telah tampil dan mereka sangatlah bagus menurut Tania hingga Tania semakin takut untuk maju ke depan.
"Tan degdegan setelah itu aku," ucap Siva dengan tangan gemeteran.
"Yakin pasti bisa, bismillah aja!" balas Tania penuh dengan semangat.
"Mana tepuk tangannya," ucap pembawa acara lalu penonton pun dengan riahnya bertepuk tangan.
"Selanjutnya dari Siva kelas 8D untuk itu di persilahkan."
"Semangat!" ucap Tania sambil mengepalkan tangannya ke arah Siva dengan tersenyum.
Penampilan dari Siva cukup lumayan bagus menurut Tania. Setelah penampilan yang satu ini baru lah Tania yang akan tampil. Tidak bisa ini terlalu gemeteran!
"Siv nanti videoin ya," perintah Tania kepada Siva. Tadi saat Siva sedang tampil Tania ingin merekam namun sayangnya penyimpanan handphone Tania tidak cukup.
"Peserta selanjutnya yaitu Tania dari kelas 8k untuk itu di persilahkan," ucap sang pembawa acara.
Seluruh tubuh terasa dingin akibat gemeteran tapi dengan percaya diri ia maju ke depan. Ia melangkah dengan mengucapkan bismillah. Dengan suara yang menggema seisi ruangan dan juri-juri yang menatap penuh keseriusan ia semakin menunjukkan kesempurnaan. Ia sangat yakin bahwa penampilannya sangat sempurna. Tidak ada harapan lain selain berdoa supaya mendapatkan kemenangan. Yakin bahwa semua usaha tidak mengkhianati hasil, dan yakin tidak ada yang tidak mungkin untuk mendapatkan kemenangan.
"Alhamdulillah," ucapnya penuh kelegaan.
"Wah bagus banget Tan," puji Siva.
"Kamu juga sama!" balasnya dengan tersenyum.
"Oh iya nanti kirim ya video nya," ucap Tania lagi.
"Oke!"
Di dalam ruang hanya beberapa orang lagi peserta yang belum tampil, Tania dan Siva memutuskan untuk keluar dari ruangan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Ravendratania [ ON GOING ]
Short StoryBELUM REVISI‼️ Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Menceritakan tentang Devira Tratania seorang pelajar yang menyukai teman sekelasnya. Dirinya memang jauh dari kata sempurna, dengan percaya dirinya ia menyukai teman sekelasnya yang banyak di ka...