Happy reading..
*
*
Seorang gadis cantik berambut ikat dua itu terus menyemangati dirinya sendiri, Amira Keisha Namora namanya. Ia percaya kalau dirinya bisa menyelesaikan hukuman dengan baik, meskipun pada kenyataannya tubuh nya mengelak semua itu. Keisha sebenarnya sudah lelah sangat-sangat lelah malahan. Hanya saja ia tak mampu berbuat apa-apa, ia sudah membuat para seniornya marah. Dan tentu saja, hukuman yang diberikan juga tidak main-main.
Kaki gadis itu terus berlari, menyusuri lapangan yang sudah kian sepi. Hanya dirinyalah saat ini yang berada disana untuk menyelesaikan hukuman yang seniornya itu berikan. Dalam hati sebenarnya Amira merasa iri pada teman-teman barunya yang lain mereka yang melanggar aturan dengan kriteria ringan hanya disuruh untuk membersihkan lingkungan sekolah. Mencabut rumput memungut sampah atau membersihkan area kamar mandi.
Amira berulang kali menghembuskan napas, langkahnya semakin menelan seiring dengan habisnya tenaga gadis itu. Sesekali keisha menghentikan langkah, sekedar untuk memegangi kakinya yang terasa ngilu ataupun mengambil nafas panjang untuk kembali melanjutkan berlarinya.
Rasanya Amira ingin sekali berhenti, duduk di bawah pohon sambil menikmati semilir angin yang menyapu tubuh. Lalu, mengambil air minum dan menegaknya sampai habis. Tapi sayangnya itu tidak akan terjadi, karena saat ini Keisha tengah diawasi oleh cowok yang tadi memberikannya hukuman. Tatapan cowok itu tak lepas dari Keisha, seolah ia tak lelah mengawasi Keisha yang saat ini tengah menjalani hukumannya.
Kuat, kuat, kuat!
Gadis itu terus merapalkan dalam hati bahwa ia bisa, ia kuat. Tujuh puluh kali bukan hal yang sulit.
Pandangan Amira kembali menatap cowok itu di ujung lapangan, saat mata lentiknya tak sengaja melihat seorang gadis yang tengah menghampirinya. Gadis itu memakai almameter yang sama dengan cowok itu kenakan. Mata cokelatnya tak lepas mengamati gerak gerik yang gadis itu lakukan disana, tiba-tiba perasaannya memanas saat melihat adegan dimana gadis itu tersenyum pada cowok tersebut dengan bersamaan Tangan cowok itu mengacak acak rambutnya disana.
Tangan yang tadi memegang lutut dibawah sana tiba-tiba terkepal kuat, bersamaan pandangan Amiraa yang mulai memerah karena menahan amarah. Ingin sekali rasanya ia berlari mendekati kedua insan itu lalu memakinya dengan kuat didepan para siswa disana, tapi apalah dayanya Keisha tak berani kesana.
Bukan karena takut, melainkan ia tahu posisinya yang tidak pas untuk mendekati kakak seniornya disana dan menegurnya secara terang-terangan. Karena dirinya pun juga masih menjalankan hukumannya ini, dengan perasaan yang semakin memanas. Gadis itu kembali berlari mengelilingi lapangan dengan sisa putaran lagi.
Amira kembali menghentikan langkahnya saat dirinya berhasil melewati putaran terakhirnya di sana, kali ini bukan untuk mengambil nafas panjang atau menetralkan nafas. Keisha memejamkan mata saat merasakan kepalanya yang berdenyut hebat. Gadis itu memegang tiang gawang yang ada didekatnya. Keringat terus keluar dari pori-pori wajahnya.
Disaat yang lain berdiam di bawah dinginnya kipas angin di aula, ia malah apes dan harus lari keliling lapangan disaat siang seperti ini.
Amira semakin menegang erat tiang yang ada didekatnya, rasanya kakinya sudah tak mampu bertahan lebih lama lagi. Gadis itu seketika merasakan pandangannya menggelap, bersamaan tubuh Amira yang bergetar hebat. Hingga setelahnya gadis itu sudah tak sadarkan diri di lapangan basket tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERAHU KERTAS (ON GOING)
Novela JuvenilApa jadinya jika kalian memiliki kekasih seorang ketua osis berhati dingin dan tak tersentuh? Itulah yang di alami Amira Keisha Namora, seorang gadis manja dengan memiliki wajah cantik, berkulit putih nan bersih tersebut harus ekstra sabar menghada...
