9.

109 6 0
                                    

Happy Reading guys👋🏻

Semilir angin yang sedikit kencang menerbangkan beberapa helai anak rambut yang menutupi wajah seorang gadis, yang saat ini tengah duduk di sebuah kursi. Gadis itu memejamkan matanya menikmati semilir angin yang menurut nya lumayan menenangkan. Ia menghembuskan nafas pelan, lalu membuka matanya dan memandang sendu ke depan.

"Gue kangen lo yan" ucap gadis itu lirih.

"Seandainya lo masih ada disini, semuanya gak akan terasa begitu berat buat gue. Dan gue juga masih punya tempat buat cerita"

"Sekarang gue sendiri yan.. gue gak punya lagi tempat buat cerita.. Semua orang menjauhi gue.. Mereka selalu natap gue seakan akan gue pembunuh.. Gue bener bener sendiri yan" lanjutnya.

Tanpa ia sadari air matanya terus meluruh sedari tadi membasahi pipinya. Ia terus menangis dalam diam tanpa mengeluarkan isakan apapun, sampai sebuah suara memanggil namanya.

"Lina"

Lina, gadis itu dengan segera bangkit dan menghapus jejak air mata di pipinya. Lina berbalik lalu menoleh ke asal suara, disana ia dapat melihat Lea yang sedang berjalan ke arahnya dengan nafas yang sedikit terengah. Ia mengernyit kan dahinya bingung.

"Ngapain lo?" tanya Lina ketus.

"Huh gue ngejar lo lah, takut lo buat yang aneh aneh soalnya lo cabut pas lagi esmosi" jawab Lea.

Ya, Lea kembali mencari Lina setelah drama yang lumayan panjang tadi. Arthur juga sudah kembali ke rumah sakit karena hendak memeriksa pasien yang lain. Ia pun sempat membeli cemilan sedikit untuk mengganjal perutnya dan Lina karena tadi belum sempat makan.

"Kenapa?" tanya Lina.

"Hah?" jawab Lea bingung tidak tahu maksud Lina.

"Kenapa lo peduli sama gue? Padahal kita baru ketemu beberapa jam yang lalu?" tanya Lina dengan wajah datar.

"Because your my friend" balas Lea sok Inggris.

𝘈𝘯𝘫𝘢𝘺 𝘣𝘶𝘭𝘦, 𝘣𝘶𝘭𝘦𝘱𝘰𝘵𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘩𝘪𝘩𝘪𝘩𝘪 batin Lea cekikikan tidak jelas. Berbeda sekali dengan wajahnya yang sok serius menatap Lina.

"Nih gue bawain cemilan buat ganjel perut lo sama gue, tadi kita belum sempat makan juga kan" ucap Lea sembari menunjukan kresek yang berisi cemilan dan minuman.

Lina hanya melihat Lea dengan pandangan rumit. Lea yang melihat Lina diam saja pun akhirnya menariknya untuk duduk kembali dikursi tadi.

"Udah ah kelamaan maneh mah" ucap Lea agak kesal.

sebab sedari tadi perutnya sudah berbunyi meminta untuk diisi. Lea pun mengeluarkan cemilan yang ada di kresek lalu memakannya. Tak lupa ia juga memberikan beberapa pada Lina yang di Terima oleh gadis itu dengan senang hati. Mereka pun memakan cemilan itu bersama sama dengan penuh hikmat.

"Lo tadi nangis lin?" tanya Lea di sela sela makannya.

Lina yang mendengar ucapan Lea pun seketika terdiam. Ia tidak tahu jika Lea melihat nya menangis tadi. Ia pun berdehem pelan guna menormalkan ekspresi nya.

"Ekhem enggak tuh kata siapa" jawab Lina agak ketus.

Lea yang mendengar jawaban Lina yang agak ketus pun hanya mengangguk sembari terus mengunyah.

"Ouh kalo pun iya nangis, nangis aja nggak apa apa Lin" ucap Lea.

"Gue gak tau apa masalah lo sama mereka, tapi kalo lo butuh tempat buat cerita, lo bisa cerita ke gue, gue pasti bakal dengerin" lanjutnya dengan mata yang masih fokus pada makanan.

"Nangis emang gak bakal nyelesain masalah Lin, tapi dengan nangis lo bisa sedikit ngurangin beban di hati lo" tukasnya sembari menggoyang kan pahanya seperti menahan sesuatu.

𝘈𝘯𝘺𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘯𝘢𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘭𝘦𝘵, 𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘰𝘮𝘱𝘳𝘰𝘮𝘪 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘥𝘢𝘩 𝘯𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘵 batin Lea tertekan sekaligus kesal.

Kriiiinggg

"Udah bel, lo ke kelas duluan aja gue mau ke toilet sebentar" ucap Lea dengan cepat lalu bangkit dan berlari.

𝘔𝘈𝘈𝘈𝘈𝘈𝘒𝘒𝘒𝘒 𝘑𝘈𝘕𝘎𝘈𝘕 𝘒𝘌𝘉𝘖𝘉𝘖𝘓𝘈𝘕 𝘑𝘈𝘕𝘎𝘈𝘕 𝘒𝘌𝘉𝘖𝘉𝘖𝘓𝘈𝘕 𝘗𝘓𝘐𝘐𝘐𝘐𝘚𝘚𝘚 batinnya menjerit.

Lina melihat ke arah Lea pergi dengan pandangan yang rumit. Seutas senyum mulai nampak perlahan di wajahnya. Ia pun bangkit dan berjalan menuju kelas masih dengan senyuman yang tidak luntur sedikit pun.

Sedangkan Lea ia berlari tak tentu arah mencari toilet. Karena ia sudah tidak tahan lagi tadi, ia sampe lupa menanyakan letak toilet di sebelah mana pada Lina. Jadilah ia seperti orang yang sedang dikejar hantu, berlari tak tentu arah. Tidak ada seorang pun yang berlalu lalang di koridor sekolah karena semua murid sudah masuk kelas masing-masing membuat nya tidak bisa bertanya dimana letak toilet.

Bruk

"Eh aduh maaf, gue gak sengaja" ucap Lea panik.

Saat ia akan berbelok tadi, dari arah berlawanan juga ada seorang siswi yang tengah membawa buku sembari berlari kecil. Karena Lea yang tidak melihat dan juga siswi tadi yang tampak nya tengah terburu buru juga alhasil mereka bertabrakan, membuat siswi tadi jatuh dengan buku berserakan. Sedangkan Lea yang untung saja bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak terjatuh. Ia dengan segera membantu siswi tadi sembari meminta maaf.

"Eh iya gak apa apa kok, gue juga salah gak liat liat jalan" jawab siswi itu.

Setelah selesai membereskan buku dengan dibantu oleh Lea, siswi itu berniat untuk berterimakasih pada Lea. Ia pun berdiri dan mengangkat kepalanya melihat Lea. Namun ada yang aneh dengan siswi ini. Bukannya berterimakasih ia malah terpaku melihat Lea dengan wajah seakan tidak percaya.

Lea yang melihat itu pun menjadi heran, namun karena ia sudah tidak tahan lagi ingin pergi ke toilet. Ia pun mengabaikan si siswi tadi dan menanyakan arah toilet.

"Eh maaf arah toilet ke mana ya? Gue udah kebelet banget soalnya" tukasnya dengan wajah tertekan.

Siswi itu pun segera tersadar, dan menunjukkan pada Lea arah toilet perempuan. Lea yang sudah tahu arah toilet dimanapun. Ia langsung berlari tak lupa berterimakasih pada siswi tadi.

Sedangkan siswi tadi ia melihat ke arah dimana Lea pergi dengan pandangan rumit. Satu tetes air mata jatuh pada pipi mulusnya. Ia tersenyum dan berucap lirih.

"Queen" bisiknya lirih.

TBC.

Suka? Tinggalkan jejak
Gak suka? Tinggalkan lapak.

Follow, vote, and coment for more.

See you in the next chapter papay👋🏻.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 10, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Transmigrasi CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang