06. Past and Pain

71 25 0
                                        

"Darn it!"

Rose memejamkan mata, berusaha sekeras mungkin agar tidak tumbang di tengah pandangannya yang tiba-tiba saja buram. Rasa pening hebat ikut mendera kepalanya, disusul dengung mengerikan yang dengan cepat menghalangi segala sumber suara di sekelilingnya.

Apa lagi ini?

Efek lain dari terbukanya segel sihir, kah?

"Kenapa harus sekarang?"

Rose berniat mengangkat pandangan dan membuka kelopak matanya yang masih terpejam rapat, andai tubuhnya tidak luruh lebih dulu dengan hidung yang turut mengeluarkan darah. Lalu, ketika yakin raganya sudah hampir menghantam tanah, ia merasa seseorang tengah menahannya.

Siapa?

Dengung panjang membuat segala hal yang terdengar, menjadi semakin samar dan tidak berguna. Lantas, ketika rasa sakit di kepala kian menghantamnya secara bertubi-tubi, Rose memilih pasrah. Membiarkan bayangan kabur yang sempat netranya tangkap, kini melebur dengan perlahan. Dalam waktu singkat, kegelapan panjang berhasil menelan pandangannya.

▫Log ▫ In▫

Michael tidak bisa lagi berpura-pura tenang melihat tingkah Anneliese yang semakin aneh. Adiknya itu bersikap tidak wajar. Entah apa yang sedang berusaha dicarinya, tapi sampai matahari meninggi, pun Anneliese masih betah berkutat dengan kegiatan menyibak rerumputan dan dahan dandelion.

"Sebaiknya, aku menyeret putri pembangkang itu pulang."

Kedua kakinya, ia bawa turun tanpa ragu dan menjauh dari kuda dengan langkah tegas. Kebetulan sekali, adik nakalnya itu sudah bergeming di tempat, tidak lagi mondar-mandir hingga membuat orang yang melihatnya ikut pusing.

Michael nyaris merealisasikan rencananya, andai ia tidak melihat raga Anneliese yang mendadak saja limbung. Lonceng peringatan seolah berbunyi keras di dalam kepalanya, membuat tubuhnya refleks berlari kencang tanpa pikir panjang. Sebelum Anneliese benar-benar jatuh tertarik gravitasi, kedua tangannya lebih dulu sigap untuk menangkap.

"Anne, hei, bangun! Apa yang terjadi?!"

Tidak ada sahutan. Tubuh Anneliese masih bergeming dengan hidung yang terus mengalirkan darah. Michael bisa merasakan dingin yang kian merambati tangannya ketika bersentuhan langsung dengan kulit pucat Anneliese. Ini buruk.

"Anne, dengarkan aku. Kau bisa melihatku? Hei!"

Anneliese tidak memberi respons apa pun. Bahkan, saat raganya terguncang hebat dan beberapa kali sempat mendapat tepukan keras di salah satu pipi. Kelopak matanya yang untuk sejenak ikut terbuka samar-samar, kembali menutup rapat. Menyisakan tubuh tak berdaya yang lantas terkulai lemah dalam dekapan sang Putra Mahkota.

"Sialan! Anne bangun! Jangan membuatku panik!"

Michael bergegas mengambil tindakan, berusaha sebisa mungkin menekan rasa paniknya. Anneliese yang sudah sepenuhnya tak sadarkan diri, ia gendong di depan dada. Lantas, membawanya berlari, menaiki kuda. Walau berakhir sedikit menyulitkan, tapi usahanya membuahkan hasil. Michael sukses membuat Anneliese tetap aman dengan kuda yang tengah melaju cukup kencang.

Jalan setapak di antara pepohonan pinus, dalam waktu singkat, mampu ia lewati tanpa hambatan. Mengabaikan teriknya matahari yang kian tinggi menunjukkan eksistensi, juga beberapa kicauan burung yang seolah mengiringi kepergiannya.

Michael tidak bisa lagi mengkalkulasi, seberapa besar rasa khawatirnya saat ini. Dimulai dari Anneliese yang mendadak asal mengatakan hal-hal aneh sebangunnya gadis itu dari tidur panjang, mimpi buruknya, hingga kejadian baru-baru saja di Sungai Dandelion. Semua itu seolah memiliki kesinambungan, bukan lagi sekedar kebetulan.

Login to PrincessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang