"Haechan!" Panggilan yang langsung Mark berikan kepada wali kelas anaknya yang saat ini tengah memantau anak-anak yang sedang beristirahat di taman bermain sekolah.
"Ma--rk." Seruan yang Haechan berikan kian mengecil begitu melihat ayah dari muridnya tengah menggandeng tangan seorang wanita. "Ah iya, nyonya Lee." Sapaan yang langsung ia berikan di iringi senyuman tipis, yang langsung di balas oleh wanita yang ada dihadapannya dengan senyuman tipis juga.
"Di mana anak-anakku?" Tanya Mark secara to the point, mencari keberadaan kedua anaknya.
"Ada di ruang kepala sekolah. Maaf karena aku tidak bisa menemani dia di dalam. Aku harus menjaga dan memantau anak-anak yang sedang beristirahat." Ujar Haechan yang sedikit menyesal.
"Tidak apa-apa. Kalau gitu aku pamit." Ujar Mark, yang langsung pergi dari hadapan wali kelas anaknya, dengan membawa istrinya yang ada di sampingnya.
Sementara Haechan terus melihat punggung belakang ayah dari muridnya yang terus berjalan dan menjauh. Lebih tepatnya, tatapannya terfokus pada tangan pria itu yang melingkar di pinggang kecil seorang wanita yang berstatus sebagai istrinya dia. Senyumannya perlahan kian mengembang begitu melihat pemandangan itu. "Apakah mereka sudah berbaikan?" Gumamnya.
---
"Chenle, Jisung!" Panggilan yang langsung Jaemin berikan, dan langsung memeluk kedua anaknya yang sedang duduk di ruang kepala sekolah.
"Ibu!" Seruan yang diberikan oleh mereka berdua secara bersamaan, dan juga membalas pelukkan yang ibunya berikan.
"Ada keperluan apa anda memanggil saya ke sini, kepala sekolah Choi?" Tanya Mark secara terus terang, begitu tiba di ruang kepala sekolah. Netranya dapat melihat kedua anaknya yang tengah duduk di hadapan kepala sekolah Choi. Bersama dengan satu anak yang ada di sampingnya, bersama dengan ibu dari anak itu.
"Silahkan duduk Tuan dan Nyonya Lee." Titah Kepala Sekolah Choi.
Dan mereka berdua yang mendengar intruksi itu pun langsung duduk di samping anak mereka masing-masing. Dengan kedua anaknya yang berada di tengah.
"Jadi gini Tuan dan Nyonya Lee. Saya ingin memberi taukan kenakalan yang sudah anak anda perbuat." Ujar Kepala Sekolah Choi, membuka obrolan.
"Jisung sudah memukul teman sekolahnya. Boong tae, teman yang di pukul oleh anak anda " Ujar Kepala Sekolah, seraya menatap Boong Tae, yang ada di samping mereka.
"Apakah kalian berdua ini tidak bisa menjaga anak kalian dengan baik? Masa ia anak kecil sudah memukul temannya sendiri." Kalimat ketus yang langsung Nyonya Boong keluarkan.
"Yak! Anakku tidak mungkin memukul anakmu terlebih dahulu, kalau anakmu ini tidak mencari masalah dengan anakku!" Balasan yang langsung Jaemin berikan dengan ketus juga. Ia tidak suka anaknya di jelekkan seperti ini.
"Daripada kau mengoceh mengenai cara didik kami? Kenapa tidak kau saja yang memperbaiki cara didik anakmu? Masih kecil saja sudah berani mengusik kehidupan orang lain. Bagaimana nanti gede-nya?!" Sambungnya, yang langsung menatap wanita yang ada dihadapannya ini dengan tatapan tajam.
"Yak! Apa maksud-mu? Kau--"
"Apakah anda sudah bertanya lebih dulu akar dari permasalahan ini?" Pertanyaan yang langsung Mark berikan, guna menengahkan dua orang wanita yang sebentar lagi akan baku hantam.
"Saya sudah bertanya kepada kedua anak anda, tuan Lee. Tapi di antara mereka berdua tidak mau jawab. Mereka bilang, kalau mereka ingin kalian datang lebih dulu sebelum menjawab." Seru Kepala Sekolah Choi.
"Memang saya yang menyuruh mereka berdua untuk bersikap seperti itu, supaya anak saya mendapatkan perlindungan dari saya." Seruan yang langsung Jaemin berikan. Dirinya ini memang mengajarkan hal seperti itu kepada anaknya. Ia takut anaknya di paksa mengaku mengenai perbuatan yang tidak ia lakukan. Jadi, ia terus mengajari anaknya untuk tidak menjelaskan apapun, sebelum dirinya atau suaminya datang.
"Sekarang kau boleh tanyakan kepada anak saya." Ujar Mark.
"Chenle, Jisung, ibu guru ingin bertanya kepada kalian berdua. Jadi, kalian harus jawab yang jujur ya. Ibu tidak akan marah kepada kalian." Seruan penuh kelembutan yang ia berikan kepada anaknya, supaya kedua anaknya ini mau berterus terang tanpa harus merasa ketakutan.
Kedua anaknya pun langsung membalas ucapannya dengan menganggukkan kepalanya. Menurti apa yang dirinya ucapkan.
"Chenle dan juga Jisung. Apakah kalian memukul Boong Tae?" Tanya Sang Kepala Sekolah.
Jisung langsung menganggukkan kepalanya, mengaku kalau dirinya yang memukul temannya. "Aku yang memukulnya Miss." Jujurnya, seperti apa yang di perintahkan oleh sang ibu.
"Aish! Kecil-kecil sudah jadi berandalan. Main pukul orang lain saja! Bagaimana besarnya!" Seruan yang langsung nyonya Boong berikan, membalas ucapan yang ia berikan tadi.
"Yak! Kau belum mendengar alasan anakku melakukan itu ya!" Peringatan yang langsung ia berikan, supaya perempuan ini diam lebih dulu, sebelum mendengar penyebab kenapa anaknya melakukan hal itu.
"Apakah Miss boleh tau, mengapa kamu memukul teman kamu?" Tanya Kepala Sekolah Choi.
"Dia mengusik aku lebih dulu, Miss. Dia bilang kalau sebentar lagi aku dan adikku inu akan menjadi seorang gelandangan karena perusahaan ayah sedang mengalami krisis." Ujar Chenle, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Padahalkan tidak mungkin seperti itu. Ayahnya aku dan Jisung tidak mungkin membiarkan kami menjadi gelandangan." Sambungnya.
"Aish, percuma sekali anaknya di sekolahin di sekolah yang mahal. Tapi ucapannya seperti anak yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikkan. Aku sarankan kepada dirimu untuk tidak menyekolahkan anakmu di sekolah mahal. Karena percuma kalau kepribadiannya seperti anak yang tidak pernah di ajarkan sopan dan santun oleh orang tuanya dan sekolahnya. Atau jangan-jangan dulunya anda tidak sekolah ya, Nyonya Boong? Makanya anda tidak bisa mengajarkan sopan santun kepada anakmu sendiri?" Sindir balik yang ia berikan.
"Yak! Apa-apaan kau ini?! Aku yakin anakmu berbohong dan memutar balikkan fakta. Masih kecil kok sudah berani sekali berbohong!" Ujar Nyonya Boong yang tidak terima.
"Aku tidak berbohong, tante. Ibu tidak membolehkan aku maupun adikku untuk berbohong, apapun kondisinya." Ujar Chenle, berbicara apa adanya.
"Kau dengar sendiri? Anakku tidak mungkin berbohong, dan anak kecil tidak pernah berbohong. Kalaupun berbohong pun itu anakmu. Anakmu yang suka berbohong, karena tidak di ajarkan orang tuanya tentang kejujuran." Sahut Jaemin, yang tentunya membela anaknya. Karena apa? Disini anaknya tidak salah!
Nyonya Boong malah mendecih tidak terima. "Tch! Aku yakin mereka bohong Kepala Sekolah Choi! Aku tidak akan diam saja! Aku akan membawa kasus ini ke ranah hukum." Ancaman yang langsung ia berikan.
"Tch! Orang yang tidak menerima kenyataan. Semakin kau mengelak, semakin membuktikan bahwa ucapanku serta ucapan anakku benar." Seruan yang langsung Jaemin berikan, memandang wanita ini dengan tatapan meremehkan.
"Sayang, kamu memukul Boong Tae di mana?" Dan akhirnya Mark juga ikut membela anaknya. Atau lebih tepatnya meluruskan semua masalah ini, supaya mereka semua tau siapa yang salah disini.
"Kantin, ayah. Soalnya dia mengganggu abang di kantin. Di saat abang sedang menunggu aku mengambil makanan." Jawaban yang langsung Jisung berikan.
"Aku ingin melihat cctv yang ada di kantin. Aku yakin cctv merekam kejadian tadi." Pinta Mark kepada Kepala Sekolah Choi.
Kepala Sekolah Choi pun menuruti ucapanya. Ia segera menelepon petugas penjaga cctv, untuk membawakan rekaman yang ia pintu.
Selang beberapa menit, petugas cctv pun datang, dengan membawa sebuah flashdisk berisi rekaman kejadian tadi. Kepala Sekolah Choi pun mengambil flashdisk yang ada di tangan petugas cctcv, dan menyuruh petugas itu kembali bekerja.
Kepala Sekolah Choi langsung mengambil laptop yang ada di mejanya. Membawanya ke hadapan mereka bertiga. Menyambungkan flashdisk ke dalam laptopnya, dan mulai menekan tombol play, untuk melihat rekaman tersebut.
Rekaman pun di putar di hadapan mereka bertiga. Di mana rekaman itu membuktikan semua ucapan yang di ucapkan kedua anaknya benar. "Saya minta flashdisknya. Anda salin lebih dulu di laptop anda." Pinta Mark langsung kepada Kepala Sekolah Choi.
Kepala sekolah Choi menuruti ucapannya. Menyalin isi rekaman ke dalam laptopnya, dan memberikan flashdisk-nya kepada dirinya. "Anda ingin membawa kasus ini ke ranah hukum? Silahkan. Flashdisk yang berisi rekaman ini adalah bukti yang kuat untuk kasus ini." Ujarnya, yang langsung membawa keluarganya pergi dari ruang kepala sekolah, setelah pamit kepada kepala sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIDDEN - MARKMIN
FanfictionCERITA INI KHUSUS UNTUK MARKMIN (MARK X JAEMIN) SHIPPER! APABILA KALIAN TIDAK MENYUKAI SHIPPER INI? DIHARAPKAN UNTUK TIDAK BACA CERITA INI! TAPI JIKA KALIAN MEMAKSA UNTUK MEMBACA CERITA INI? JANGAN BERKOMENTAR NEGATIVE DI KOLOM KOMENTAR / DI KEHIDU...
