5. Give Lessons

103 3 0
                                        

Setelah mengatakan itu, Mark langsung pamit untuk pergi dari ruangan kepala sekolah bersama dengan istrinya dan kedua anaknya.

"Bagaimana?" Pertanyaan yang langsung Haechan berikan kepada orang tua dari muridnya, begitu kedua muridnya telah masuk masuk ke dalam kelas.

"Semuanya sudah terselesaikan. Terima kasih sudah memberi tau masalah ini kepada diriku." Jawaban yang langsung Mark berikan, yang saat ini tengah menatap wali kelas anaknya.

"Eum, Nona Lee. Bolehkah kedua anakku ini pulang lebih dulu?" Pertanyaan yang langsung Jaemin berikan. Lebih tepatnya ia minta izin kepada wali kelas anaknya, supaya kedua anaknya ini diizinkan lebih dulu pulang sebelum jam pulang tiba.

"Oh tentu saja." Jawaban yang langsung Haechan berikan. Mengizinkan kedua muridnya ini untuk pulang lebih dulu.

"Tapi tidak ada yang penting setelah ini kan, Chan? Seperti ujian?" Tanya Mark, guna memastikan lebih dulu bahwa anaknya dibolehkan pulang ke rumah, tapi tidak ada hal penting yang nantinya kedua anaknya lewatkan.

Dirinya memang tidak membiasakan anaknya untuk membolos sekolah, apapun situasinya. Tapi karena istrinya yang meminta, dengan terpaksa ia mengizinkannya. Ya walaupun harus memastikan lebih dulu.

"Ah, tidak ada, Mark. Kau tenang saja. Aku tidak akan mengizinkan mereka berdua untuk membolos, kalau misalnya ada ujian." Jawaban yang langsung Haechan berikan. "Kalau begitu, kedua anakmu boleh pulang lebih dulu." Sambungnya, yang langsung membantu merapihkan peralatan sekolah kedua muridnya ini ke dalam tas.

Sedangkan Jaemin yang melihat itu pun langsung membantu wali kelas anaknya yang sedang membereskan peralatan sekolah anaknya. "Terima kasih ya, Miss Lee." Ujarnya. "Chenle, Jisung ayo kita pulang." Sambungnya, yang langsung menuntun kedua anaknya.

"Salam dulu sama Miss Lee." Peringatnya, kepada kedua anaknya.

"Miss Lee, kami pamit pulang ya. Makasih sudah jagain aku." Ujar mereka berdua secara bersamaan.

"Kalau begitu kami pamit ya, Chan. Terima kasih sudah menjaga kedua anakku." Ujar Mark, sebelum dirinya membawa pergi keluarganya.

"Iya, sama-sama. Ini sudah menjadi tugas aku sebagai guru untuk menjaga anak muridnya aku. Hati-hati ya kalian!" Balasan yang langsung Haechan berikan.

Dan Mark maupun Jaemin beserta dengan dua anaknya pun pergi dari ruang kelas sang anak. Memasukkan kedua anaknya terlebih dahulu ke dalam kursi belakang mobil. Memasangkan seatbelt untuk kedua anaknya, barulah mereka berdua masuk ke dalam kursi penumpang dan kursi kemudi.

Mark yang langsung menjalankan mobilnya, setelah memastikan semua telah memakai seatbelt, dan aman.

"Habis ini kamu ke kantor lagi kan?" Pertanyaan yang langsung Jaemin berikan kepada suaminya yang saat ini tengah fokus menyetir.

"Iya deh kayaknya. Soalnya habis ini aku ada rapat penting." Jawaban yang Mark berikan.

"Oke kalau begitu, kamu turunin aku sama anak-anak aja. Biar aku sama anak-anak pulang naik taksi." Seruan yang langsung Jaemin berikan. Ia tidak ingin merepotkan suaminya, dan menganggu waktu kerja suaminya.

"Tidak mungkin aku menurunkan kalian, dan membuat kalian naik taksi. Aku akan mengantar kalian pulang dulu. Setelah itu, baru aku kembali ke kantor." Sahut Mark, yang tentunya tidak mengizinkan istri dan anaknya.

"Tidak apa-apa. Kamu kan ada rapat penting yang harus di hadiri." Ujarnya.

"Sepenting-pentingnya rapat, kamu sama anak-anak lebih penting sayang." Balas Mark, yang masih tetap pada keputusannya.

"Ck! Terserah kamu. Yang penting aku udah ingetin loh ya." Racauan yang langsung ia berikan.

Dan Mark langsung terkekeh begitu melihat istrinya yang saat ini tengah meracau kesal. "Iya sayang. Makasih udah di ingetin." Ujarnya, mengusap tangan istrinya yang sedang di genggam tangannya.
---

Setelah beberapa menit perjalanan membelah kota Jakarta, mereka berdua akhirnya tiba di depan rumah mereka. "Hati-hati ya di jalan! Jangan ngebut! Jangan main handphone ketika sedang menyetir!" Peringatan yang langsung istrinya berikan.

"Iya, sayang. Aku selalu ingat." Ujarnya.

"Chenle, Jisung, ayo salam dulu sama ayah. Ayah harus kembali kerja lagi." Perintah yang langsung ia berikan kepada kedua anaknya.

"Dadah, ayah! Hati-hati ya!" Ujar Chenle.

"Pulangnya jangan lama-lama, ayah." Peringat Jisung.

"Iya sayang. Kiss dulu dong." Balas Mark, yang langsung memberikan pipinya untuk di cium anaknya. Kedua anaknya pun mulai mendekat dan mencium kedua pipinya. Si sulung sebelah kiri, si bungsu kanan.

"Kalau begitu ayah jalan dulu ya. Kalian berdua jagain ibu ya!" Peringatan yang ia berikan kepada kedua anaknya, sebelum iabmenjalankan mobilnya.

"Iya, ayah." Balas mereka secara bersamaan. Setelah mendengar jawaban dari kedua anaknya, ia langsung menjalankan mobilnya pergi dari perkarangan rumahnya.

Sementara Jaemin dan kedua anaknya langsung masuk ke dalam rumahnya. "Chenle, Jisung, ayo ganti bajunya dulu." Ujarnya, yang langsung membantu kedua anaknya untuk mengganti pakaiannya.

"Sayang, kalian berdua sudah makan nak?" Tanyanya, yang saat ini tengah membantu anaknya mengganti bajunya.

"Belum, sayang. Tadi aku sama belum sempat makan, karena Boong Tae yang menggoda dia." Ujar Jisung.

"Jisung, kamu hebat karena sudah menjaga abang kamu. Dan untuk Chenle? Lain kali kamu harus lawan orang yang mengusik kamu yang nak. Kalau kau diam saja? Orang itu akan berbuat semena-mena sama kamu. Adik kamu tidak bisa selalu menjaga kamu. Jadi, kamu harus bisa jaga dirimu sendiri. Mengerti sayang?" Ujarnya, memberi peringatan pada anaknya.

"Emangnya si Jisung mau ke mana, bu? Kenapa gak bisa jaga aku?" Tanya si sulung, menatap ibunya dengan tatapan polos miliknya.

"Benar, bu. Aku kan emang tidak akan ke mana-mana. Toh ini sudah jadi tugasnya aku, bukan?" Sahut si bungsu.

"Memang itu sudah menjadi kewajiban dan tugasnya kalian berdua dalam menjaga satu sama lain. Tapi-kan kalian berdua tidak selamanya berada di sisi satu sama lain. Lagipula adik kamu maupun kamu tidak akan ke mana-mana, sayang. Tapikan nanti kalian akan beda kelas. Jadi, tidak selamanya kalian berdua tidak bisa menjaga satu sama lain. Kalau bisa menjaga diri sendiri, kenapa harus meminta bantuan orang lain. Toh, lebih bagus lagi kalau kalian berdua bisa menjaga diri sendiri, bukan?" Ujarnya, yang masih berusaha dan sabar dalam memberikan nasehat kepada anaknya yang masih kecil.

"Ayah juga sudah memasukkan kalian berdua ke club taekwondo, bukan? Gunanya kalian masuk situ, agar kalian bisa menjaga diri kalian sendiri. Orang jahat bisa berada di mana saja, sayang." Sambungnya.

"Jadi, kita harus jago berkelahi ya, bu? Agar orang lain tidak akan berbuat macam-macam ke kita?" Pertanyaan polos yang Jisung berikan.

"Iya, sayang. Kita harus jago berkelahi untuk membela serta menjaga diri kita sendiri, dari orang yang mengusik kita, terutama orang jahat. Tapi jangan sampai kalian menyalah gunakan keahlian kalian dalam berkelahi, untuk menindas, atau membully orang lain. Paham?" Ujar sang ibu, yang masih setia memberikan pengertian dan pemahaman untu kedua jagoannya ini.

"Paham." Seru mereka berdua secara bersamaan, membuat dirinya langsung tersenyum begitu melihat kedua anaknya. Ia langsung mengusak kedua surai rambut anaknya karena gemas.

"Cha. Karena kalian berdua sudah rapih, jadi ayo kita makan!" Serunya, yang sudah bersiap menggendong Jisung. Tapi di tolak oleh sang anak.

"Aku mau jalan saja. Biar sama kayak bang Chenle." Ujar si bungsu, yang langsung mengambil tangan abangnya untuk di tuntun.

"Cha. Ayo kita makan!" Seru Jaemin, yang menggandeng tangan si sulung di sisi kirinya, di sebelah si bungsu yang juga menggandeng tangannya.

HIDDEN - MARKMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang