Bab 3 - Gemintang, I'm Sorry!

115 15 1
                                        

SUARA ketukan terdengar sangat nyaring di pagi buta. Gemi membuka mata dengan kepala pusing, baru setelah Subuh tadi bisa tertidur. Siapa lagi pelaku keonaran di pagi hari, kalau bukan sang mertua yang terhormat!

Paling hobi membangunkannya sepagi mungkin kalau Ernest tidak ada. Entah apa masalah Beliau, tak sanggup melihatnya menikmati hidup tanpa kerempongan. Gemi bangkit dengan enggan, melangkah pelan menuju pintu.

"Iya, Ma ...." Langsung menutup mulut untuk menutupi kuap.

"Bagaimana bisa hamil kalau bangun pagi saja, malas!"

Ya Allah! Entah apa hubungan bangun pagi dengan kehamilan! Selama ini hanya karena menghormati Ernest, menyabarkannya untuk mencoba mengerti betapa pedasnya lidah mertua.

"Cepat mandi! Mama punya sesuatu yang harus diminum saat perut kosong." Mengangkat sebuah plastik putih dengan wajah optimis.

"Apa , Ma?"

"Mama tunggu di ruang makan."

Kalau boleh, ingin saja dibantingnya pintu, mengunci dan melanjutkan tidur. Kurang tidur membuat emosi dengan mudah cepat tersulut. Wahai hati, bersabarlah! Semoga mertuanya segera mendapat hidayah yang bisa melembutkan lidah.

***

PLASTIK putih itu ternyata berisi minuman sarang burung walet sebanyak 12 botol untuk terapi promil yang harus dikonsumsi selama 12 hari berturut-turut. Perutnya bergejolak, seolah sedang diterjang angin puting beliung. Dahi mengernyit karena pusing dengan rasa mual tak tertahankan. Gemi menutup mulut untuk meredakan rasa, mencoba bertahan dalam hujaman tatapan sadis penuh amarah.

"Apalagi! Tidak mau minum ini? Manja sekali!" Wulandari naik pitam. "Kamu tahu ini harganya berapa?" Benar-benar kecewa dengan reaksi Gemi.

Dorongan untuk muntah begitu kuat, membuat Gemi mengabaikan hardikan. Bangkit terburu-buru, lalu dengan setengah berlari menuju kamar.

"Sangat tidak tahu diuntung!" Tensi darahnya berhasil naik karena menahan marah. Ingin sekali memaki sesadis yang ia bisa, tapi juga khawatir akan sampai laporan kepada Ernest.

Salah satu makanan yang membuat Gemi merasa jijik sejak kecil adalah sarang burung walet. Dulu almarhum Kakek adalah juragan rumah walet yang dengan itu, berhasil menyekolahkan semua anak-anaknya di universitas bergengsi.

Sarang burung walet adalah makanan wajib di rumah, Papa mengharuskan mereka mengonsumsinya karena dipercaya bisa meningkatkan konsentrasi dan merangsang pertumbuhan otak. Hanya ia yang tidak patuh, selalu memuntahkan kembali. Ingatan bahwa itu berasal dari air liur burung, benar-benar membuatnya jijik.

Itu menjadi alasan mengapa Papa suka sekali merundungnya. Bahwa prestasinya yang sangat biasa, jauh dibanding saudara-saudaranya yang langganan juara kelas, adalah karena tidak mau mengonsumsi sarang burung walet. Sangat mengada-ngada! Menyebabkan Gemi kecil pernah menyimpan dendam dengan sengaja tidak mau belajar untuk membuat Papa lebih kecewa lagi.

Bagaimana perasaan seorang dosen di bidang ilmu kimia, saat mengetahui bahwa anaknya menempati rangking ke-29 dari 30 siswa?

***

SETELAH merasa lebih baik, Gemi kembali ke ruang makan. Tidak ada seorang pun di sana. Memeriksa semua ruangan, juga tidak menemukan jejak. Keluar ke teras dan melihat pintu pagar tidak tertutup sempurna. Tebakannya, Mama pergi dalam keadaan marah besar. Baguslah kalau begitu, setidaknya ia bisa menikmati kedamaian dalam beberapa hari ke depan.

Tak sengaja matanya melihat tong sampah di depan pintu garasi dengan tutup menganga. Kecurigaan membuatnya melangkah ke sana. Benar saja, kotak minuman walet ada di dalamnya. Bukan itu yang mengejutkannya, tapi botol-botol yang sudah tidak berisi! Mama menumpahkan semua isinya ke dalam tong sampah, padahal masih bisa dihadiahkan untuk wanita lain.

GEMINTANG, I'M SORRY!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang