PUKUL 02.30 pagi saat Prisma, Gemi dan Pak Siregar, yang mewakili firma hukum, tiba di rumah sakit. Langsung menuju Kamar Jenazah, Wisesa-sahabat Prisma, sudah menunggu di sana. Dia yang dari awal mengurus jenazah Ernest.
Gemi mematung di pintu, menatap jenazah Ernest diselimuti kain putih. Kakinya seketika kehilangan kekuatan, tidak sanggup melangkah ke dalam. Prisma yang menyadari keraguannya, segera berbalik.
“Ernest menunggumu.”
“Aku takut akan menangis histeris.”
“Kalau kamu mencintainya, pasti tidak akan melakukan itu. Ernest tidak mau melihatmu bersedih.”
Gemi menarik napas berat, sebelum melangkah pelan dengan dada berdebar kencang. Persis seperti dulu, saat pertama kali mendekati sosok Ernest dan memastikan bahwa ia telah jatuh cinta kepadanya.
Sekarang ia akan menemui pria yang sama, tapi dalam keadaan berbeda. Pria yang tak lagi bisa membalas tatapan dan menyembunyikan senyum, saat melihatnya tersipu malu.
Dengan tangan gemetar, disibaknya kain yang menutupi wajah Ernest. Hampir saja terjatuh kalau Prisma tidak segera menahan tubuhnya. Pria yang masih sangat dicintainya, meskipun sempat terbesit kecurigaan, seperti sedang tertidur saja. Tidak tampak raut kesakitan dan penderitaan.
Di kening dan kepalanya ada jahitan panjang. Hasil pemeriksaan menyebutkan bahwa Ernest mengalami luka dalam yang sangat parah di bagian dada dan kepala. Gemi memberanikan diri mengelus pipi yang terasa dingin dengan selembut mungkin, khawatir sentuhannya akan menyakiti. Saat kulit mereka bersentuhan, air mata pun tak bisa tertahankan.
“Malam itu aku meminta ikut …, tapi kamu melarang. Ternyata kamu ingin pulang sendirian,” ucapnya terbata-bata sambil berusaha kuat untuk tidak menyuarakan tangis.
“Aku datang menjemputmu, Mas.” Gemi mengusap air mata di pipinya dengan syal. Memastikan benar-benar sudah kering, sebelum mencium ubun-ubun, kening, pipi, hidung, dan berakhir di dagu.
“Gemi, kalau sudah, Ernest akan dimandikan.”
Gemi mengangguk, sangat faham bahwa harus berburu dengan waktu. Kondisi tubuh Ernest tidak memungkinkan untuk memperlama pemakaman. Sekali lagi mengulang mencium kening, lalu menutup kembali wajahnya.
“Kami harus ke hotel untuk mengambil barang.”
“Saya tunggu di sini saja sambil mengurus dokumen keberangkatan.”
“Terima kasih, Pak.” Prisma memang akan melarang seandainya Pak Siregar berniat ikut bersama mereka. Ada yang belum diberitahukannya kepada Gemi, sesuatu yang sangat pribadi.
“Wis, aku harus merepotkanmu lagi. Tolong cari penerbangan untuk keberangkatan hari ini.”
“It’s okay, anything for my best Bro.” Wisesa tersenyum lebar saat Prisma meninju dadanya tanpa kekuatan.
***
“ADA yang belum aku beritahukan,” ucap Prisma begitu mobil keluar dari area parkir.
“Apa?” Gemi melihat keraguan di wajah yang sama sekali tidak mirip Ernest. “Aku akan baik-baik saja.” Meyakinkannya dengan otak berputar cepat. Apa masalah yang lebih serius daripada kepulangan Ernest?
“Ernest tidak sendirian dalam kecelakaan itu ….” Wajah eksotis berkulit sawo matang itu, tampak terkejut, lalu menatapnya dengan penuh selidik. “Ada wanita bersamanya …, bukan bukan rekan kerja.”
Apakah kecurigaannya memang nyata? “Apa yang terjadi dengan wanita itu?”
Respon Gemi sangat tenang, cukup membuat Prisma kaget sekaligus lega. Sebelumnya ia pikir, ini mungkin akan menjadi berita yang lebih sulit diterima daripada kepulangan Ernest.
KAMU SEDANG MEMBACA
GEMINTANG, I'M SORRY!
RomancePerpisahan dengan Ernest, tidak saja membawa duka mendalam, tapi juga memaksa cinta dan benci saling berlomba mendominasi hati. Tabir perselingkuhan yang terkuak dalam sebuah tragedi, menyadarkan Gemintang bahwa tak mengenal Ernest seutuhnya. Akanka...
