"Buk, Agga kenapa beda, ya?" Pria ini menanyakan hal yang sedari tadi mengganjal di di pikirannya. Kata-kata yang juga mengganjal di tenggorokannya.
Sebagai seorang dewasa sekaligus ibu, ia tau betul perubahan yang terjadi pada anaknya. Kekhawatiran Masdi, pacar anaknya itu tidaklah sebuah kejutan. Ia memandang wajah anaknya yang masih tertidur pulas, "Ini ngingetin ibu sama Agga yang dulu. Pas dia masih kecil."
Kemudian, ia menoleh pada Masdi yang menyandarkan kepalanya di dinding, "Tadi bener dia enggak kenapa-kenapa? Kalian enggak kecelakaan, kan?"
Menurutnya, tak ada lagi penyebab yang memungkinkan hingga membuat sikap Agga sedikit berubah. Bahkan dokter pun menyatakan ia sehat walafiat tanpa cedera apapun. Tapi, jika dipikir-pikir, sikap Agga seperti orang yang baru kena amnesia, tapi kenapa anaknya itu masih mengenalnya sebagai ibu? Ini jelas bukan amnesia.
Sanggahan dari Masdi pun dipercaya sebagai sebuah kejujuran mengingat tak ada luka gores apapun di tubuh Agga dan Masdi; bahkan sebuah memar. Penjelasan tentang bagaimana ini bermula tak membuahkan hasil dan konklusi atas kemungkinan yang terjadi pada putrinya. Begitupun, Silam tetap berpikiran positif. Hasil X-ray kepala yang sesaat lagi akan keluar mungkin memberikan jawaban. Ia menghela napas.
Catatan.
Setelah mentari kembali menjolok hari dengan sinarnya, pemandangan fajar yang awalnya ragu kini menjadi tegas berubah siang. Seperti biasa, cuaca kota ini akan jadi waktu tepat orang-orang memakan es krim.
Begitu juga dengan perasaan Agga siang ini, gerah bukan main. Sialnya, alasan ia kegerahan bukanlah sesederhana mentari yang membelalak, melainkan nasib hidupnya yang kini seperti sebuah permainan.
Dua hari berada di rumah sakit membuatnya berpikir keras, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Tak ada ingatan apapun tentang apa yang mungkin terjadi, namun ia tau ada kesalahan akan dirinya saat ini.
Sejak tadi malam, ia rutin menulisi halaman pada sebuah buku di meja kamarnya. Tertulis judul di paling atas halaman, "Apa yang terjadi?"
Kemudian, di bawahnya terdapat beberapa titik besar sebagai penanda poin untuk kemungkinan yang ia anggap dapat menjadi jawaban akan permasalahannya.
APA YANG TERJADI?
· Diawali dengan bangun di mobil bersama Masdi (pacarku?)
· Amnesia? – No, aku inget Mama dan diriku.
· Gila?
· Diguna-guna?
...........................
Tebakan pertamanya adalah ia sedang mengalami amnesia. Namun, setelah ia berselancar di internet, agaknya terlalu aneh jika dikatakan ia sedang amnesia. Ia ingin mamanya, ingat...
"Anjir... aku nggak inget apa lagi!"
Tiba-tiba ia panik, detak jantungnya mengencang, diikuti keringat dingin yang ntah darimana datangnya.
Perlahan, ia menarik napas panjang. Kemudian berusaha berpikir positif. "Nggak, enggak. Mungkin aku gila, atau beneran diguna-guna? Enggak masuk akal banget!"
Di kamar ini, Agga berkalut diri bagai tawanan sebuah kerajaan. Dirinya meraba akan siapa sesungguhnya dirinya, apa yang terjadi dengannya, dan kenapa ia merasa ada yang salah? Sekali lagi, pertanyaan-pertanyaan itu muncul bagai setan tua yang tak mengetuk pintu. Nyelonong masuk mengagetkan penghuni rumah yang sontak akan menjerit ketakutan.
Ia kembali mengambil pulpennya, jaga-jaga jika ada kalimat atau ide yang muncul dan akan segera dituliskan.
Agga berpikir bahwa semua masalah ada pada dirinya. Dirinyalah yang berpikir ia sedang tidak berada di tempat yang tepat, keadaan yang tepat. Maka, ia mulai dengan dirinya. Siapa dirinya. Siapa Reagga Kornelia yang ia ingat sejauh ini.
Ia mencoret-coret halaman itu. Tangannya menuliskan, Reagga perempuan baik-baik, Tinggal di kota Medan, "Berarti masih sama," sedetik kemudian ia menggaruk kepalanya, "jadi apa yang bedaaaa!!!!"
Lelah, ia menutup buku itu. Dengan muka suntuk luar biasa, ia keluar kamar. Menuju ruang utama di mana ibunya sedang menonton televisi.
...
"Maa..."
Silam terkejut, namun tetap ia menjawab rangkulan putrinya itu, "Kenapa kamu sekarang? udah lama nggak gini sama Mama."
Agga tak menjawab, karena tau-tau air matanya mengalir. Ia sadar suaranya akan serak jika menjawab pertanyaan barusan. Memeluk ibunya adalah satu yang paling ia butuhkan saat ini. Ketika dirinya dihadapkan oleh konflik perang level mahabaratha.
Tak melihat putrinya menjawab, Silam kembali bertanya, "Kalian berantem, ya? Tadi malem Masdi dateng, kok kamu nggak mau jumpai. Nggak boleh gitu..."
Kali ini, Agga sudah menyiapkan kalimatnya. Sudah berusaha menghilangkan parau suaranya, "Udahalah, Ma. Nggak usah bahas dia dulu. Aku lagi ada masalah."
Silam mendeham. Ia pikir secara perlahan anaknya itu mulai kembali lagi seperti semula. Agga yang tak begitu suka didikte oleh siapapun, termasuk oleh dirinya. Kondisi Agga beberapa hari ini sukses membuat keningnya mengerut.
"Oh iya, Ma. Boleh ceritain masa laluku nggak?" Tiba-tiba ide itu terbesit di benaknya. Ia yakin ini adalah satu jalan.
Ya Tuhann... berikan jalanmu, please... Agga memohon dalam hati.
Silam tersenyum, permintaan anaknya ini memang aneh-aneh. Ia tak begitu mengerti apa yang dimaksud dengan masa lalu. Waktu yang telah lewat kah? Apakah maksudnya kemarin? Sudah lewat juga kan.
"Masa lalu maksudnya kamu udah reinkarnasi gitu?" ia terkekeh. Apalagi memandang wajah Agga yang tampaknya tidak sedang bercanda.
Mengikut reaksi mamanya, Agga memelas. Ini permintaan yang benar-benar serius, pikirnya. Jangan bercanda, Ma.
Melihat kesungguhan putrinya itu, Silam mendeham. Ia bingung harus menceritakan mulai dari mana namun yang pasti ia ketahui, jika harus dideskripsikan, Reagga dewasa tidak begitu berbeda dengan Agga saat kecil atau remaja. Mengalirlah beberapa kejadian-kejadian yang terjadi di masa lampau.
Silam meneruskan ceritanya, tentang Agga yang penyuka kucing, pemenang lomba puisi, dan lain sebagainya. Televisi di ruangan ini tetap menyala, hanya saja volumenya tidak sebesar tadi. hingga sebuah tayangan berita menarik perhatian Agga yang masih serius mendengarkan cerita ibunya.
Tampak seorang pembawa berita yang berstel jas dan dasi dengan begitu menawan menyampaikan berita yang sejujurnya tidak akan begitu Agga pedulikan sebelumnya.
"Penyanyi Lukita Wislah merasa degdegan kala menanti hari yang selalu ia tunggu-tunggu. Akhirnya penyanyi yang akan berusia 20 tahun itu dapat merayakan ulang tahunnya di tahun ini. maksudnya, ulang tahun sesungguhnya karena Lukita lahir pada tanggal 29 februari atau seirng disebut juga tahun kabisat."
Pria pewara berita tadi menyelesaikan kabar yang baru ia sampaikan tadi dan Agga pun kembali fokus pada cerita mamanya. Di benaknya sangat berharap bahwa ini adalah satu cara yang harus mendapat solusi. Pencarian jati dirinya di masa lalu mungkin adalah kunci. Ia benar-benar berharap.
................
KAMU SEDANG MEMBACA
KOMA
FantasyReagga yang tiba-tiba kehilangan memori beberapa tahun hidupnya. Kenangannya terhenti di masa SMA dan kembali lagi saat usia 24.
