17 - Surat untuk Tuhan

15 1 0
                                    

Mia panik setibanya di Bangsal C. Ayah tidak ada di bilik perawatannya, barang-barangnya pun sudah raib. Tanpa berpikir panjang, Mia bermaksud menanyakannya ke pihak rumah sakit. Namun, seorang suster lebih dulu menghampiri dan menjelaskan bahwa Pak Warto sudah dipindahkan ke kamar VVIP. Mia bernapas lega, senyumnya pun merekah. Gara-gara banyak pikiran ia jadi lupa, bahwa hari ini ayahnya memang akan dipindahkan ke kamar VVIP atas permintaan Pak Andri.

Suster itu pun langsung mengantarkan Mia ke kamar perawatan ayahnya yang baru. Mia berucap syukur. Selayaknya kamar VVIP, benar-benar nyaman. Kondisi di dalamnya nyaris seperti rumah. Ada kursi tamu, tempat tidur untuk penjaga, toilet pribadi, tivi, plus pendingin ruangan. Tak ketinggalan ruang dapur yang lengkap dengan berbagai bahan makanan. Kalau sudah seperti ini rasanya tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Dengan kondisi ini Mia berharap proses penyembuhan ayahnya lebih cepat. Mia menatap lega wajah ayahnya yang sedang terlelap. Sepertinya ia cukup nyaman dengan kamar barunya.

Mia mengenyakkan diri di sofa. Pandangannya larut menyelami langit-langit kamar yang berhiaskan bayangan Dirga. Tiba-tiba, sayup-sayup terdengar nada-nada yang sering dimainkan Dirga. Sulit dipercaya, tetapi semakin lama nada-nada itu semakin nyata di pendengaran Mia. Jiwanya pun seakan terpanggil ke suatu tempat di mana nada-nada itu sering mengalun. Hasrat Mia tak tertahankan, ia harus pergi sekarang.

Bayang-bayang pepohonan yang memanjang menghadirkan keteduhan di TPU Islam Nurani. Baru kemarin Mia melewatkan sore di tempat itu, tetapi rasanya begitu banyak cerita-cerita indah yang mengundang kerinduan. Ia terdiam di balik pohon oak, tempat favorit untuk mengintai Dirga memainkan biolanya. Dulu.

Berkali-kali daun gugur melintasi pandangan Mia, pertanda waktu terus bergulir. Matahari dengan sinarnya yang memerah menggantung rendah di langit Kota Jakarta. Hal ini menegaskan bahwa Dirga tidak akan datang. Dengan berat hati Mia pun beranjak. Ketakutan mendera. Semoga sore ini bukan awal perpisahan yang panjang. Karena tanpa Dirga, tidak akan ada lagi hari-hari indah di TPU itu.

🍁🍁🍁

Assalamualaikum.

Mohon maaf sebelumnya, bab ini hanya berupa cuplikan. Kalau kamu penasaran dengan kelanjutan kisah Dirga dan Mia, silakan baca di:

* KBM App
* KaryaKarsa

Di semua platform nama akunku sama (Ansar Siri). Ketik aja di kolom pencarian. Kalau akunku udah ketemu, silakan pilih cerita yang ingin kamu baca.

Cara gampangnya, langsung aja klik link yang aku sematkan di halaman depan Wattpad-ku ini.

Aku tunggu di sana, ya.

Makasih.

Salam santun 😊🙏

Calon Besanku Cinta Pertamaku [SUDAH TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang