Ustaz Ansara sukses dibuat melongo oleh kalimat yang baru saja diucapkan oleh salah satu santrinya itu. Namun, ia tetap terlihat tenang.
Sementara Sakina, sontak berpaling ke arah Aida dan menatapnya tajam, alih-alih menuntut sebuah penjelasan.
Aida merasakan sofa yang didudukinya seperti sedang terbakar. Ini jauh lebih sulit dari yang dibayangkannya.
"Saya tidak mengerti dengan ucapan kamu," tanggap Ustaz Ansara sambil berusaha terlihat tetap tenang.
"Kami saling mencintai, dan kami ...." Fahran tercekat, entah bagaimana harus mengatakannya.
"Maksudnya kalian berpacaran?" Ustaz Ansara menimpali.
"Benar!" Kata itu telontar begitu saja dari mulut Fahran, kemudian kembali bungkam.
Ustaz Ansara menggeser pandangannya ke arah Aida. "Aida, benar demikian?"
Aida yang seolah ingin menarik kepalanya masuk ke tubuhnya mengangguk pelan. Ia tak berani menatap mata abinya.
"Abi benar-benar kecewa sama kamu!" Suara Ustaz Ansara meninggi dan penuh penekanan.
Aida tersentak, sontak air matanya bercucuran. Ia merebahkan kepala di bahu sang umi. Sakina merangkul putrinya.
"Abi, Aida minta maaf," desis Aida di sela isak tangis.
Ustaz Ansara mengembalikan tatapannya ke arah Fahran, kini dengan sorot yang agak menyeramkan.
"Ternyata benar desas-desus selama ini, bahwa kamu sering menyeberangi bukit dan menyelinap ke asrama putri. Jadi, tujuan kamu untuk menemui putri saya?"
Tiba-tiba seluruh kosakata menghilang dari benak Fahran, tergantikan dengan gambaran berbagai macam hukuman yang akan ia terima setelah ini. Atau bisa jadi ia langsung dikeluarkan dari pesantren itu. Akan tetapi, sebenarnya Fahran tidak terlalu peduli. Ia hanya mengkhawatirkan nasib cintanya dengan Aida.
Ustaz Ansara bangkit berdiri, mondar-mandir di depan sofa.
Fahran menunduk, sesekali melirik ke arah Aida. Hatinya sungguh miris melihat air mata terus bergulir dari dua sumber yang kerap menyuguhkan keteduhan untuknya itu.
"Sejak saya ada di pondok pesantren ini, bahkan sejak didirikannya, belum pernah ada santri selancang kamu. Kamu tahu akibat dari pelanggaran menyeberangi bukit? Kamu bisa dikeluarkan!" Ucapan Ustaz Ansara dibarengi rahang mengencang.
"Tapi, apakah kami berdosa jika saling mencintai?" sela Fahran pelan.
"Pondok pesantren ini tempat kalian menuntut ilmu, bukan untuk berpacaran!" Ustaz Ansara segera menimpali.
"Maaf, Ustaz, saya rasa itu bukan jawaban dari pertanyaan saya."
Mendengar kalimat Fahran yang agak menusuk, Ustaz Ansara menghentikan langkah mondar-mandirnya. Namun, ia tetap tenang, terdiam dengan tatapan terpaku pada Fahran.
"Mencintai seseorang jelas bukan dosa. Tapi, jika ia menjelma jadi jembatan dosa, segalanya tidak bisa dibenarkan. Apakah kamu merasa benar dengan semua pelanggaran yang telah kamu lakukan selama ini? Dan merasa suci saat berdua-duaan dengan putri saya yang jelas-jelas bukan mahram kamu?"
Kali ini Fahran benar-benar terjatuhkan, tak sepatah kata pun yang diucapkannya sebagai sanggahan. Ia bungkam beberapa saat.
"Baiklah, saya mengaku salah. Maka dari itu saya menemui Ustaz untuk memperbaiki semuanya." Suara Fahran penuh kerendahan.
"Jadi, tindakan ini kamu anggap sebagai usaha perbaikan?"
Raut wajah Fahran memetakan kebingungan. Ada hal yang tidak ia mengerti di balik ucapan Ustaz Ansara.

KAMU SEDANG MEMBACA
Calon Besanku Cinta Pertamaku [SUDAH TERBIT]
Romansa📖 Sudah diterbitkan oleh Namina Books dengan judul "KITA". Tersedia di Gramedia seluruh Indonesia 📖 Ada cinta yang memang tidak ditakdirkan untuk beriringan sepanjang waktu. Namun, bukan berarti ia lantas mati dan usai begitu saja. Lalu, bagaimana...