( niatnya author mau lanjutin cerita ini tapi beda judul, judulnya Cemara house disitu nanti Jean nyesel tapi Lisa udah bahagia dengan keluarga barunya yang bobrok ada aja tingkah dari anak²nya)
Sebulan sudah Alisa ditinggal suaminya untuk pergi bisnis ke Jepang, Minggu pertama semua berjalan dengan lancar, Jean yg setiap hari menghubungi nya tapi setelah 3 Minggu berlalu Jean berubah, dia jarang memberikan kabar.
Sudah 1 Minggu ini Alisa sakit, badannya lemes, sering muntah² kepala pusing bahkan Alisa enggan untuk makan.
Ia bingung harus menghubungi siapa, suaminya tidak aktif nomornya, Alisa ingin menyusul sang suami tapi tidak tahu alamatnya dimana.
Hari ini Alisa berdoa supaya nomor suaminya aktif ia ingin memberikan kabar pada suaminya kalau dia sedang sakit, namun saat akan menghubungi jean lebih dulu menelfon.
______________________________________
Suami 🌹
OnlineHallo___jean
Oppa kenapa Tak ada kabar?,aku khawatir__Alisa
Maaf sayang,baru bisa ngabarin kamu___ Jean
Bagaimana kabar mu___alisa
Aku baik, aku ingin bicara sesuatu padamu, aku harap kau tidak marah____ Jean.
Bicara apa??___alisa
Aku minta maaf___jean
Maaf kenpa??___alisa
Aku-aku udah hamilin sekertaris aku___jean.
Sayang?? Kok diem___jean
Bercandaan kamu gak lucu sumpah____alisa
Aku enggak lagi bercanda, dia udah hamil dan aku harus bertanggung jawab____jean
Kamu izinin aku nikah lagi ya?? Kasihan anakku harus besar tanpa ayah____ Jean
Sayang kamu masih disana kan, kok diem____jean.
Besok bunda Dateng bawa dokumen, dan aku harap kamu mau tanda tangan ya, pliss kali ini kamu jangan egois____jean
Sayang??___jean
______________________________________
Lisa menantikan panggilan telfon dengan suaminya, Lisa terduduk lemas dengan air mata yg terus terjun seperti air terjun.
Bahkan mulut Alisa tak mampu bicara lagi untuk berucap kata dia tidak ikhlas sang suami menikah lagi.
"Mianhe papa mama"tangis Lisa kencang, sangat kencang.
Sekarang ia baru menyadari bahwa insting orang tua itu sangat tajam, jika sejak awal ia Mendengar kata papa dan mamanya mungkin sekarang ia tak seperti ini.
Setiap hari makan hati, setiap hari menelan kekecewaan, Alisa tak menyalahkan takdir tapi Alisa menyalahkan dirinya sendiri yang bodoh membangkang pada orangtuanya.