26.

1K 79 14
                                        

"Eunghh..."

Matanya perlahan terbuka.

"Abang? Bangg..."

"Haus..." ucap Rakha tapi tidak ada sahutan sama sekali.

Karena tidak ada respon dari semua abangnya, Rakha dengan perlahan mencoba meraih gelas yang berada di nakas. Tetapi saat akan meraihnya gelas tersebut jatuh karena kesenggol tangannya yang masih lemas.

Pyarrr

"Astaghfirullah!"

Mereka yang sebelumnya masih tidur, berjengit kaget kemudian bangun dan menghampiri adeknya.

"Udah kamu diam aja biar abang yang beresin pecahannya." ucap Kiesha kala melihat adeknya akan turun dari brankar.

"Kenapa tadi? Kamu haus?" tanya Zayyan yang dibalas anggukan oleh Rakha.

"Kok ga bangunin kita?" sahut Rassya.

"Tadi Rakha udah panggil kalian tapi ga ada yang nyahut, yaudah Rakha coba ambil sendiri aja eh gelasnya malah jatuh kesenggol tangan aku. Maaf Rakha ceroboh.."

"Udah ga apa-apa kamu ga salah, kita yang minta maaf karena ga bangun waktu kamu panggil." ucap Kiesha setelah selesai membersihkan pecahannya dibantu petugas kebersihan disana.

"Mau abang ambilin air lagi?"

"Ga usah bang, ga jadi haus."

"Yaudah sekarang kamu mau apa?"

"Mmm kalau boleh jujur Rakha-" ucapnya menggantung membuat semua abangnya dibuat bingung.

"Kamu kenapa? Jangan setengah-setengah bilangnya. Ngomong aja ga apa-apa."

"R-rakha pengen ketemu papa.." ucapnya lirih.

"Susah dek, ada penghalang yang buat kita ga bisa ketemu papa."

"Tapi Rakha kangen sama papa. Rakha udah berprasangka buruk sama papa, Rakha mau minta maaf sama papa."

"Tap-"

"Please bang, aku mohon. Kali ini aja aku pengen ketemu papa."

"Mmm yaudah bentar abang coba telepon papa dulu."

"Makasih bang."

Fateh langsung meraih ponselnya untuk menelepon papanya.

Setelah beberapa saat akhirnya panggilan itu dijawab. Tetapi suara yang muncul dari seberang sana membuat mereka terkejut.

"SUDAH BERAPA KALI SAYA BILANG JANGAN HUBUNGI PAPA KALIAN LAGI ATAU KALIAN BAKAL TAU AKIBATNYA!! KALIAN DENGAR APA YANG SAYA KATAKAN KEMARIN ATAU TIDAK, HAH?!!"

Suara bentakan perempuan langsung terdengar beberapa detik setelah telepon tersebut tersambung.

"Diana jangan bentak anakku!" sentak Rayyan yang masih bisa di dengar oleh mereka.

"Kamu diam mas! Aku ngomong sama mereka bukan sama kamu!"

"T-tante a-aku pengen ngomong sama papa..." ucap Rakha dengan bergetar.

"Wahhh si bungsu udah sadar ya??? Saya kira udah mati-"

Deg!

Rakha terdiam.

"Jaga mulut anda!"

"Ups, sorry saya keceplosan. Eh tapi saya juga berharap anak itu cepat mati sih, ga pantes hidup, ga guna nyusahin lagi hahaha."

"Kamu keterlaluan Diana! Apa maksud kamu ngomong kayak gitu ke anak aku?!"

"Kenapa kamu ga suka?!"

THE WILLIAM'S [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang