"Gue nggak dateng."
"Tapi-" Mita agak sedikit panik mendengar keputusan mendadak yang cowok tinggi itu katakan.
Rakha melirik Mita, Sanna dan Gio secara bergantian. Padahal dirinya rasa, perkataannya tadi sudah cukup tegas dan jelas.
"Gue sibuk," katanya singkat.
"Rakha-"
"Apasih, Yo?" serbu Rakha berdesit jengkel. Apapun yang hendak Gio katakan, dia rasa tak perlu dilanjutkan. "Lo boleh bersikap semaunya, tapi kalau gue nggak mau, berarti Lo nggak punya hak buat memaksa!"
Hening.
Mereka berempat tenggelam dalam pemikiran masing-masing.
Setau Sanna, Rakha adalah orang paling sabar sejagat raya. Bahkan cowok itu tetap berbesar hati meski selalu saja berurusan dengan sumber emosi seperti Gio. Tidak sekali dua kali Gio bersikap menyebalkan, tapi Rakha tidak pernah benar-benar kesal diperlakukan demikian.
Namun kali ini, Sanna benar-benar melihat Rakha yang marah. Bukan marah sebenarnya, entah kenapa Sanna merasa ekspresi itu lebih dari sekedar amarah. Ada campuran kecewa dan takut yang jadi kesatuan membingungkan disana. Tak tau dominan yang mana.
Sanna tau. Dan dia rasa, Mita dan Gio juga diam-diam sudah tau. Penyebab Rakha 'si orang paling penyabar' jadi sepertinya ini hanya ada satu.
Setelah melihat daftar nama alumni yang ditunjukkan Mita, dan tertulis nama Deev Refansa disana. Ekspresi Rakha berubah pias seketika.
Bukan Rakha saja yang terkejut. Sanna, Gio dan Mita pun sama. Shock sejadi-jadinya. Namun mereka masih bisa menoleransi. Sementara Rakha tidak sama sekali.
"Emang kenapa?" tanya Gio memecah keterdiaman. "Emang kenapa kalau Deev juga dateng ke acara reuni?"
"Ya karena dia pergi, gue nggak mau pergi."
Bukan jawaban seperti itu yang ingin Gio dengar. "Ya kenapa?"
"Kenapa apanya?" Rakha tidak nyaman didesak begitu. Dia enggan menjawab, atau barangkali pula tidak punya jawaban. "Gue dateng atau nggak, acara reuni kalian tetap berjalan lancar, kan?"
Sanna menengahi. "Udah-udah!"
"Jangan berantem kaya anak kecil deh!" gerundel Mita tidak senang.
Mita dan Sanna tidak ingin keributan ini makin menjadi-jadi.
Hanya gara-gara satu nama. Jangan sampai keretakan itu kembali lagi.
Hanya gara-gara satu nama. Pertemanan mereka selalu jadi taruhannya.
"Mau pergi atau nggak, ya udah!" putus Gio. Muak terus berdebat.
Rakha tersenyum picik. "Ya udah!"
"Oke fine!"
"Fine!"
Kedua cowok itu serentak membuang muka. Tidak berselera untuk lanjut berbicara.
Mita memijit kening. Kepalanya tiba-tiba pusing. Hancur sudah rencananya.
"Sebenarnya.. itu sudah lama, kan?" Suara lirih Sanna mengudara. Tak tau bertanya pada siapa. "Masalah itu udah terjadi tiga tahun yang lalu."
"Udah berlalu bukan berarti nggak pernah terjadi, San!" sahut Rakha. "Gue nggak mau ketemu sama si penghianat itu!"
"Ya tapi si penghianat itu tetep aja punya nama. Dan penghianat itu dulunya juga temen kita."
"Ya kan dulu, San."

KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Sanna
Novela Juvenil"Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Dan kita juga nggak tau apa yang terjadi setelah tiga tahun. Mungkin kita udah nggak bisa kesini setiap hari lagi. Memandang langit malam kaya gini lagi. Dan berkumpul tanpa harus janjian jauh-jauh hari lagi ka...