Tahun 2017
"Bu, pesen siomay satu porsi. Nggak pake sawi."
"Sambelnya banyakan dikit napa. Nah gitu. Makasih ya, Bu!"
"Bu beli 5.000 dong."
"Saya duluan dong. Udah dari tadi ini.."
"Pesenan saya kok belum jadi sih, Bu?"
"Antre woi antre! Indonesia nggak maju-maju ya karena ini. Budaya antre aja nggak diterapin!"
"Apaan sih?!"
"Kembalian saya manaaa?"
"Aduh, nggak usah dorong-dorong napa sih? Sabar anjir!"
"Buuu, cepet aku duluu..."
Sanna menahan napas. Tubuhnya terhipit orang-orang. Sesak. Pengap. Didorong sana-sini membuat Sanna akhirnya termundur-mundur ke belakang tak bisa mempertahankan posisi.
Gadis itu mengangkat pandangan. Pasrah didorong makin jauh dari kedai.
Katanya, siomay di kedai Bu Emi ini memang terkenal enak sekali. Siomay paling legendaris di sini. Juga salah satu makanan favorit Sanna begitu pertama kali masuk kantin SMA.
Hari ini Sanna ingin sekali makan siomay. Namun antrean yang mengular panjang tanpa ujung itu sepertinya tak memungkinkan. Diawal Sanna sudah berupaya keras, tapi suaranya yang kalah oleh teriakan para siswa-siswi lain membuat suaranya tak dapat didengar jelas. Terlebih tingginya yang tidak seberapa, membuatnya terhalang tubuh-tubuh tinggi menjulang.
Sepertinya, Sanna harus memikirkan jajanan lain saja. Sanna berniat berbalik badan, hendak beli pentol bakar atau mungkin kerupuk pecel.
Mendadak, ada seseorang yang menangkup kedua bahunya.
"BU! DIA DULUAN TAU! UDAH NGANTRE DARI TADI INI!!"
Seseorang yang tepat berada di belakang Sanna berteriak kencang sekali.
Kerumunan itu kompak menoleh ke arah Sanna dengan raut penasaran.
"Eh, lo pesen berapa tadi?" tanya sosok itu agak menundukkan kepala.
"Hah? Eh? Apa?" Sanna linglung seketika.
"Pesen berapa?"
"Satu porsi."
Sosok itu mengangguk. "Pedes?"
"Enggak."
Lalu mengangguk lagi. "Siomay, Bu, tiga porsi. Dua pedes, satunya enggak!"
Ibu Emi langsung mengangguk siap. Cekatan menyiapkan pesanan.
Sanna melirik diam-diam kearah sosok itu. Seperti tidak asing. Sayangnya Sanna tak tau siapa namanya.
Tenggelam dalam pikiran, tau-tau pesanan mereka sudah siap saja.
Cowok itu menerima nampan berisi tiga pesanan. Menyerahkan uang disusul Sanna yang juga ikut membayar.
Begitu cowok itu hendak menyerahkan pesanan milik Sanna. Sanna tak jua menerima, membuatnya kebingungan.
"Gue lupa bilang kalau punya gue nggak pake sawi."
Cowok itu terdiam sejenak. "Trus gimana ini?"
"Ya.. gapapa deh."
"Yo! Sini!" Dari kejauhan Seseorang melambai-lambai semangat. Memberi kode kalau sebuah meja kosong di sudut kantin sudah ia booking.
Cowok itu kembali menatap Sanna. "Lo mau makan dimana?"
Sanna menatap sekeliling. Bangku-bangku semuanya penuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Sanna
Genç Kurgu"Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Dan kita juga nggak tau apa yang terjadi setelah tiga tahun. Mungkin kita udah nggak bisa kesini setiap hari lagi. Memandang langit malam kaya gini lagi. Dan berkumpul tanpa harus janjian jauh-jauh hari lagi ka...
