2 :Tiga tahun punya dampak

23 3 0
                                    

Pagi ini ia bangun seperti biasanya. Tepat dikala alarm yang telah ia pasang menggema nyaring sekali

Pukul setengah lima pagi.

Matahari belum terbit. Udara masih terlalu dingin. Hawa mengantuk itu datang silih ganti. Menarik Sanna tenggelam  dalam magnet kasur kesayangan. Tidur lima menit lagi memang terdengar menggiurkan, tapi hari ini ia akan ada kelas pagi. Tidak bisa ditunda, kalau tidak ingin terlambat nantinya.

Sanna meraih handphonenya. Kemudian terdiam memandang satu notifikasi yang masuk semalam.

Barangkali karena efek jiwa yang masih berterbangan. Sanna nyaris tidak mempercayai apa yang dilihatnya barusan.

Tatapannya tertuju lurus pada deretan nomor asing yang mengirimkan sebuah pesan.

Sanna terdiam. Hanya memandang.

Lama sekali. Hingga layar LCD ponselnya menghitam dan mati.

Dan hingga detik itu, Sanna masih tidak mau percaya.

Meski separuh dari otaknya sudah menyerukan yang sebaliknya.

Kalau mungkin saja ini dia.

Kalau mungkin saja ini Deev Refansa.

Jangan, Sanna. Nanti kamu kecewa. Matra itu ia rapalkan keras-keras dalam hati.

Berharap itu berat.

Sementara kecewa itu luka.

Nggak ada yang baik dari keduanya.

Hanya untuk sebentar Sanna bertahan pada keteguhannya. Hingga kemudian satu pesan susulan datang masih dari nomor yang sama.

0856 3566....

Besok, boleh ketemu?
23.58

Ini Deev Refansa
05.37

Untuk beberapa saat, Sanna lupa caranya mengambil udara.

Tidak!

Sanna tidak boleh jatuh cinta.

Nanti kecewa dua kali. Nanti terluka kembali. Nanti menangis lagi.

Sanna mencoba tenang, tapi matanya memanas.

Ia menangis. Bukan untuk siapa atau apa. Namun dikarenakan Sanna tidak bisa.

Kenapa setelah sekian lama waktu berjalan.

Ketika sekarang Ilisha Sanna sudah baik-baik saja.

Kenapa Deev Refansa harus hadir memporak-porandakan keadaan hatinya?

***

"GILA!"

Tidak mengherankan kalau gadis manis seperti Mita sampai mengumpat detik itu juga.

Jujur, Mita shock setelah mendengar cerita dari Sanna soal pesan chat yang datang pagi tadi.

"Lalu?"

Sanna bergumam. "Nggak gue buka." Menggeleng kecil setelahnya. Suara mencicit. "Nggak berani.."

Mita tidak memberikan komentar apa-apa. Tidak lagi berusaha mengulik informasi selanjutnya. Dan sedikitnya, dia juga bisa membayangkan seberapa besar rasa canggung yang sedang Sanna tanggung.

Mereka memang dekat, tapi itu dulu.

Sudah tiga tahun berlalu.

Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk membuat jarak. Tiga tahun bukan pula waktu yang lama hingga bisa memutuskan hubungan mereka.

Dari SannaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang