Tinggal sendirian di rumah yang besar membuat Sanna akrab dengan yang namanya kesepian.
Ibu dan Ayah yang lebih sering menghabiskan waktu diluar rumah gegara urusan pekerjaan menjadikan dirinya mau tak mau harus mandiri.
Meski akhir-akhir ini mereka jarang bertemu, bukan berarti kasih sayang itu berkurang. Dikala waktu senggang, Ibu dan Ayah kerap melakukan panggilan video atau telepon guna sekedar menanyakan kabar Sanna dan bagaimana gadis semata wayang mereka menjalani harinya.
Apakah bahagia? Apakah ada hal yang membuatnya kesal? Apakah Sanna sudah makan? Bagaimana kuliahnya? Ada masalah apa? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang kurang lebih Sanna jawab disertai kekehan kecil.
Bisa dibilang, Sanna tumbuh di keluarga cemara.
Jadi anak satu-satunya dan gadis pula, jujur saja Sanna menerima kasih sayang yang tumpah ruah. Apa-apa selalu disediakan. Apa-apa selalu diberikan. Meski begitu tidak membuat Sanna otomatis jadi anak manja yang hanya bisa bergantung pada orang tuanya.
Semenjak kecil, Ibu dan Ayah menanamkan padanya kalau mereka bekerja sekeras itu bukan untuk disia-siakan bagi hal-hal yang tak perlu. Harapan mereka hanya satu, melihat Sanna bahagia dengan jalan dan impian yang gadis itu inginkan tanpa sedikitpun penyesalan.
Ibu dan Ayah tipikal orang tua yang tak pernah memaksakan kehendaknya. Memang mereka punya espektasi tersendiri terhadap anak tersayangnya itu, tapi hal tersebut tidak lantas menjadikan mereka serakah. Mereka tidak pernah sekalipun menuntut Sanna harus berlaku bagaimana-bagaimana.
Ibu dan Ayah cenderung membebaskan Sanna dengan segala pilihan yang ia punya, yang penting baik dan sesuai etika.
Ayah pernah berpesan, "Sanna, Ayah nggak bisa kasih kamu sesuatu hal yang besar seperti uang dan kekayaan. Ayah dan ibu hanya bisa kasih kamu bekal pendidikan supaya kamu bisa menentukan masa depan kamu sendiri. Soal uang dan kekayaan itu, kamu bisa cari sendiri nanti."
Sanna kecil sebelumnya tak paham dengan apa yang Ayah bicarakan, tapi karena saat itu Ayah mengelus kepalanya dan memeluknya erat sekali. Jadi Sanna mengangguk-ngangguk saja.
Semakin dewasa, Sanna jadi mengerti apa maksudnya.
Kebetulan ia punya ketertarikan di satu mata pelajaran. Yaitu bahasa inggris.
Dimulai dari guru bahasa inggris sekolah dasarnya yang menyenangkan. Nilai bahasa inggrisnya yang selalu tinggi. Sanna akhirnya memberanikan diri mengaku pada Ibu dan Ayah kalau ia ingin mempelajari bidang ini lebih dalam lagi.
Lalu, bulan demi bulan pun berjalan. Tahun demi tahun seiring bergantian. Tak menyangka Sanna sudah dinyatakan lulus dan bisa melanjutkan ke jenjang sekolah menengah pertama.
Di sana, Bahasa Inggris masih jadi kesukaannya.
Suatu ketika guru-guru melihat potensinya dan membujuk Sanna untuk mengikuti kompetisi. Sanna awalnya ragu. Ia memang pernah menang speaking bahasa inggris tapi hanya antar SD saja. Meski juara pertama, tapi Sanna pikir jenjangnya kali ini berbeda.
"Kalau nggak kamu coba, bagaimana kamu tau kalau kamu sebenarnya bisa?"
Bermodal nasihat seorang guru SMP itu, akhirnya Sanna membulatkan tekat ikut.
Memperoleh juara dua. Sanna bangga.
Kendati tetap saja di sisi hatinya ada sesuatu yang bergejolak sedih. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sebenarnya bisa ia dapatkan kalau ia berusaha sedikit lebih keras lagi. Perolehan akumulasi nilainya dengan si rival yang juara pertama hanya berselisih di bagian koma, tipis pula.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Sanna
Fiksi Remaja"Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Dan kita juga nggak tau apa yang terjadi setelah tiga tahun. Mungkin kita udah nggak bisa kesini setiap hari lagi. Memandang langit malam kaya gini lagi. Dan berkumpul tanpa harus janjian jauh-jauh hari lagi ka...