parade patah hati

334 23 5
                                        

1943

Garis kasat mata di ujung laut, si horizontal pemisah dirgantara dan bumantara, itu tak pula hirap dari liputan dua pasang netra yang seiras. Empat bola mata beriris hitam arang pagu menyemaikan tiap sorot pada senja yang seolah penyap di ujung jemari yang membeku dalam hening dan kerinduan tak terucap.

Serembah-serembih ombak yang biasa mengharu-biru enggan bergerutu soal pedih, soal kehilangan, pun soal kehampaan yang menjajah sekitar. Alam bergeming, pula terjadi pada esensi dua manusia yang duduk menjelajah sepi di garis pantai yang mulai tunduk pada kegelapan.

"Kak Jeno..." belah bibir yang nyaris pualam akibat ditawan suhu dingin itu melepas satu kata, satu kata yang berhasil menginvasi hening yang sempat bertakhta.

"Hm?" dehaman rendah menyambut disusul lirikan hangat.

"Kenapa di dunia harus ada perang?" pertanyaan yang terlampau retoris untuk dilontarkan. Semesta pun nanar mendengar.

Hendak bagaimana. Nyaris tiga belas tahun berpijak pada bentara masih tiada cukup untuk membuat nalar Renjun mengerti mengenai luntang-lantung perjuangan manusia demi tetap bernapas di bumi yang damainya fluktuatif. Bernapas dihantui ledakan bak elegi entah ditengah hujan besi tiada pernah jadi pilihan bagus.

Jeno, yang dipanggil kakak, si teruna pemilik wajah dengan air muka setenang kota yang telah mati dibantai peledak itu, mencipta senyum setipis harapan para pejuang kedaulatan. "Manusia punya mimpi. Dan ini satu-satunya jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka," katanya, terdengar meyakinkan namun siapa sangka diselimuti ketakutan.

"Renjun tidak punya mimpi, tuh." Sembari godaan pawana menggoyang surai gelap si belia, bibir pucatnya mengerucut tiada mengerti.

Lepas sebuah tawa, berbaur dengan komplemen udara. Mengupas sepi lalu menghadirkan rupa titik pelangi di antara hitam dan putih, bagai harapan di tumpukan kehancuran. Si pemuda, Jeno, meraih tubuh kurus Renjun dalam rengkuhan akrab dan sayang. Renjun mengelih si pemilik noktah kecil di bawah mata itu bersama beberapa eksistensi kerutan di dahi. Seolah tengah mencoba menemukan ujung dari benang yang semerawutan. Ia kebingungan.

"Makanya Renjun tidak boleh ikut perang." Jeno menjawab sembari menjawil pelan pucuk hidung si pemuda yang ia temui tahun lalu, di tengah genangan darah dan racau.

"Woah, jadi Kakak punya mimpi?" binar di mata Renjun berkilauan—menyimpan sebuah konstelasi misterius di kekuasaan jelaga yang kelam. Binar itu bagai melawan hirarki rembulan yang bersinar dengan terang.

"Tentu." Jawaban mutlak itu membangkitkan sesuatu di dalam diri Renjun. Ada euforia yang muncul sejenak dalam rongga dada kira-kira bak mengumbar rasa hangat.

"Beritahu Renjun, Kak! Renjun ingin tahu!" Renjun agak agresif, mendorong raga sang kakak, memaksa, meminta konfirmasi.

Jeno lagi-lagi menggurat lengkung tulus dengan bibir merah muda pucatnya. Ia mengusap puncak kepala Renjun tenang sebelum seuntai jawaban ia utarakan, "Rahasia. Renjun tidak boleh tahu."

Renjun mencebik. Kedua bola matanya berotasi jengkel akibat jawaban tak memuaskan yang dia terima.

"Wajahmu jadi jelek begitu," sindir Jeno tanpa menguar-nguar rasa bersalah. Rona wajahnya terlalu ceria untuk seseorang yang baru saja menjahili orang yang lebih muda darinya itu.

Renjun diam. Berlagak merajuk. Sepasang maniknya ia bawa memandang sejenak langit malam yang mengayomi sekaligus menakuti umat manusia. Hitamnya misterius, kilau bintangnya menghunus. Renjun tak mampu lama-lama tergugu pada keelokan yang kenyataannya mencekam itu.

Menyadari keterdiaman Renjun, Jeno terkekeh ringan. Sebelum mendeklarasikan satu ultimatum lainnya, dia sempat menarik napas pelan. "Renjun, ada yang mengatakan kalau kita bisa menemukan mimpi kita di antara bintang-bintang di langit malam."

Refleks Renjun mengembarakan kedua matanya ke pendar-pendar bintang. Ia ingin tahu. Tapi siapa menyangka, tubuhnya justru gemetar setelah petualangannya belum mencapai pertengahan. Bayang-bayang pesawat tempur memborbardir kota dengan granat-granat pembunuh menjadikannya lupa perihal mimpi. Persetan.

"Renjun tidak mau bermimpi, kalau Renjun ikut-ikut bermimpi perangnya tidak akan selesai-selesai. Renjun juga jadi sulit bertemu Kak Jeno." Pemuda itu mencicit. Kepalanya menunduk dalam. Pasir pantai menyambut pandangannya. Konstelasi di irisnya terlihat buram akibat gumpalan air mata yang siap meluruh.

Jeno hanya bisa mengelus pundak sempit Renjun dalam gugu. Ia memeluk tubuh mungil itu erat. Jeno sadar lebih dari apapun. Jika prediksinya benar, setelah matahari kembali merajai langit esok hari, hubungannya dan Renjun akan seperti ikatan senja dan malam.

"Renjun, kamu anak yang sangat baik. Maafkan Kakak karena masih punya mimpi." Jeno bergelut dengan hati serta pikirannya.

Dia takut. Tapi hal itu mustahil ia ungkapkan. Dan lebih mustahil jika ia membuang mimpinya. Segala kemustahilan ini masih saja menawarkan Jeno ekspetasi dan konyolnya, pemuda itu masih menerima entitas imajiner itu. Dengan dalih, dia ingin Renjun bahagia.

Fajar berlabuh di timur bumi tatkala Renjun melambai ragu pada kakaknya yang juga melambaikan tangan dengan keyakinan pura-pura dari kapal perang yang bersedia melepas damai dari dermaga. Renjun meremat gugup secarik kertas—surat—pemberian sang kakak yang boleh dia baca isinya bila wujud kapal sudah menghilang dari jangkauan pandang. Tapi tanpa menuruti komando, Renjun telah membaca tiap kata yang kakaknya goreskan penuh keyakinan di sana.

Semakin mengecil maujud si kapal, semakin menyusut pula keyakinan di dalam diri Renjun. Dan semesta segera menjawab ketakutannya. Api berkobar di tengah perairan setelah suara ledakan menghunus mati rungu orang-orang yang masih setia menghuni dermaga. Kapal yang beberapa saat lalu membelah rupa segara itu meledak. Perlahan tenggelam, ditelan air laut, menyisakan percikan api yang tertawa geli atas naasnya nasib manusia.

Renjun termangu. Kendati begitu, air mata menganga di kedua pipinya yang sedingin batu porselen yang terbuang. Dia tidak punya seorang manusia pun yang sudi menyeka wajahnya yang mati rasa. Dia tidak punya seseorang untuk mendekap raganya yang menggelugut dalam siksaan realitas.

Samar-samar kedua telinga Renjun menangkap jeritan, raungan, serta suara putus asa lainnya. Sedang Renjun sendiri, pemuda itu membisu dalam pilu. Tubuhnya yang menggigil hingga ke tulang tak menghentikannya untuk memberi salam perpisahan terakhir untuk satu-satunya orang yang sayang padanya di bumi ini—Jeno—sekaligus ucapan terimakasih kepada laut dan langit yang telah menjadi pesara serta jirat bagi orang yang yang dia kasihi itu.

Ledakan-ledakan lainnya, sesuai praduga, bermunculan dari kota. Tangisan menyembul di mana-mana. Kesengsaraan terencana akan ini terus berlanjut, penderitaan ini akan senantiasa membagi maut. Bersama sembilu yang dengan brutal menghabisi keping-keping angan pun kenangan yang Renjun miliki, miris pemuda itu mengamini. Mengamini impian Jeno yang tertulis dengan tegas di lembaran kertas yang kusut di dalam genggaman jemari.

Kakak ingin dunia kiamat, Renjun.



hi, there! i published this chapter in rush sampe lupa mau bikin tiny notes gini T____T selamat datang kembali di book ini, yeay! after years i finally decided to update this one >__<  thank you buat yang udah mampir, semoga hari kalian baik!

hirap // norenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang