Padahal Jaglion belum meminta maaf untuk kejadian beberapa hari lalu. Tapi kini dia kembali bersikap seperti biasa.
Bahkan lebih posesif dari sebelumnya.
Pemuda itu sadar banyak yang mengincar Wilona. Dia harus benar-benar mengikat gadis itu agar tak lepas darinya.
Jaglion menghampiri Wilona yang beberapa hari ini selalu kabur darinya. Gadis itu berangkat lebih pagi menggunakan angkutan umum untuk menghindarinya.
Dia sudah cukup pusing dengan kelakuan Wilona yang selalu lari. Sekarang ditambah permintaan gadis itu.
Putus katanya? Mana bisa! Hubungan mereka baru berjalan belum genap sebulan. Apa gadis itu sudah merasa cukup kuat untuk menghadapi para pembenci itu sendiri?
"Lo nggak capek?" Tanya Jaglion setelah menemukan Wilona yang sedang asyik sendiri di perpustakaan. "Mana ada orang habis belajar lari ke sini lagi? Otak lo juga butuh istirahat."
Wilona berdecak, kemudian menutup bukunya. "Jangan duduk di situ. Itu kursi Gani," katanya, berhasil membuat Jaglion berdecih.
"Ingat, lo itu punya pacar."
"Bahkan pacar gue nggak peduli sama gue. Buat apa gue ingat-ingat?" Sinis gadis itu.
Jaglion tetap duduk di kursi itu. "Mau dia babak belur?"
"Nggak mempan. Gue tau lo nggak bakal lakuin itu," ejek Wilona. Jaglion akan lulus sebentar lagi, jadi pemuda itu harus menjaga sikapnya agar dapat ijazah.
Jaglion menyeringai. "Persetan dengan jaga sikap," pemuda itu tiba-tiba berdiri, meninggalkan Wilona yang masa bodo.
Gadis itu kembali membaca bukunya. Dia benar-benar tidak ingin Jaglion merasa berkuasa atas dirinya. Dia akan melawan ego pemuda itu dengan cara yang sama kerasnya.
Tak lama setelah Jaglion keluar, seseorang masuk dengan berlari kecil menghampiri Wilona. Dia tampak gugup dan khawatir.
"Jaglion mukulin Gani," kata siswi itu dengan suara bergetar.
Wilona langsung berlari keluar perpustakaan. Melihat Jaglion yang sedang adu tinju dengan Gani membuatnya cepat-cepat menghampiri kedua pemuda itu.
"Kak Lion stop!" Jerit gadis itu. Mereka terlalu sibuk saling memukul hingga tak menyadari kerumunan yang mulai ramai.
"Kenapa nggak ada yang lerai mereka sih!" Kesal Wilona. Dia memberanikan diri menarik tangan Jaglion dengan sekuat tenaga. Pemuda itu berhasil membuat Gani terhempas ke lantai dengan sekali tendangan.
"Lo gila ya kak!" Protes Wilona sambil menahan lengan Jaglion dengan kuat.
Pemuda itu beralih menatap Wilona. Disela-sela napasnya yang terengah-engah, dia menyeringai.
"Udah lama nggak bikin keributan di sini. Seru juga," bisiknya.
Wilona berdecak kesal, kemudian menghampiri Gani yang terkapar lemas.
Wajahnya penuh luka. Ada tetesan darah di pelipis dan ujung bibirnya.
Gadis itu menatap tajam pada pacarnya. "Harus banget kayak gini?"
"Dia rebut waktu lo buat gue. Itu balasan yang bagus buat dia," jawab Jaglion santai.
Wilona meminta bantuan ke anggota OSIS yang ada di sana untuk membawa Gani ke uks. Sementara dia mengurus pacarnya yang sedikit gila itu.
Gadis itu menarik paksa Jaglion. Entah kemana dia akan membawa pemuda itu, yang jelas bukan ke uks. Sama saja memperkeruh keadaan. Dia juga tidak pantas diobati.
KAMU SEDANG MEMBACA
IGNITES (END)
Teen Fiction(Tersedia Versi eBook) Mendengar namanya saja sudah membuat Wilona bergidik ngeri, apalagi bertemu dengan sosoknya langsung. Mungkin Lona akan kabur begitu melihat bayangannya saja. Jaglion, si cowok paling sadis 'katanya'. Bukan hanya wajahnya yang...
