40. IGNITES >>Let's Not Fall In Love<<

22.2K 1K 60
                                        


Raga menoleh ke arah pintu kantin saat Wilona masuk bersama teman-temannya. Gadis itu terlihat berbeda hari ini.

Iya, dia terlihat lebih cantik di matanya.

Mungkin karena Raga sedang benar-benar jatuh cinta pada gadis itu, membuat matanya tidak bisa berpaling ketika sudah melihat gadis itu.

Senyum Wilona tampak lebih kalem dari sebelumnya. Mungkin suasana hatinya belum cukup baik akibat pertengkaran bersama Jaglion tempo hari.

Mereka bertemu tatap selama beberapa detik, kemudian Wilona memalingkan wajah lebih dulu.

Raga menoleh pada Jaglion yang duduk di sampingnya. Pemuda itu tampak sibuk dengan ponselnya dan menghiraukan kehadiran Wilona yang statusnya masih pacar.

Hery dan Sakhi justru lebih banyak diam. Mereka ingin bergabung ke meja gadis-gadis itu seperti biasa, tapi terhalang Jaglion.

Mereka takut kena tonjok kalau punya inisiatif sendiri menghampiri para gadis yang kini sedang membahas sesuatu yang seru.

Diam-diam Raga melirik Wilona yang kini juga sedang bermain ponsel. Dia juga melirik pelan ke arah Jaglion yang sama sibuknya dengan benda itu.

"Lo belum baikan sama Wilona?" Tanya Raga.

"Nomor gue diblok. Semalam gue berdiri di depan gerbang rumahnya tapi nggak dibukain sampe jam 11 malam," jawab Jaglion jujur. Dia menoleh pada Raga yang kini terlihat sedikit kaget dengan jawabannya. "Gue berdiri di situ dari jam 7 asal lo tau."

"Wah....," Hery menutup mulutnya, tak percaya. Itu bukan seperti Jaglion yang dia kenal.

Raga terkekeh pelan, mendengar Jaglion yang tiba-tiba jadi punya effort sebagus itu.

"Minimal bawain boneka, bunga atau coklat. Kalo lo datang dengan tangan kosong, dia pasti ngiranya lo mau ngajak gelut lagi," kata Sakhi memberi saran.

Raga setuju dengan Sakhi, begitu juga Hery.

Jaglion melihat ke arah Wilona yang kini asyik bergurau dengan teman-temannya. Matanya tak sengaja bertemu tatap dengan Celine.

Gadis itu seperti memberi kode, tapi dia tidak tahu apa.

"Mau gue kasih tau sesuatu?" Raga berbisik pada Jaglion dan membuat pemuda itu mendengus kesal.

"Lo jangan curi kesempatan disaat hubungan gue kayak gini."

"Justru gue manfaatin itu biar cepat."

Jaglion berdecak kesal, kemudian bangkit dari duduknya. Dia melihat Wilona pergi meninggalkan teman-temannya.

Sepertinya Celine memberi kode agar Jaglion mengikuti Wilona yang hendak pergi ke suatu tempat?

Dia tahu teman pacarnya itu ingin mereka baikan secepat mungkin. Alasannya pasti agar bisa dekat dengan Sakhi tanpa rasa bersalah.

Jaglion menunggu Wilona yang baru saja masuk ke toilet. Dia berdiri tak jauh dari sana, tapi sedikit bersembunyi.

Saat gadis itu hendak kembali ke kantin, pemuda itu dengan cepat menarik ikatan rambut Wilona, membuat rambut lurusnya sedikit berantakan.

Gadis itu sedikit terkejut, lalu menoleh dan memasang wajah datar saat tahu siapa yang menarik ikat rambutnya.

Tangannya meminta ikat rambut itu dari Jaglion. "Balikin."

Pemuda itu justru menarik pelan tangan Wilona dan menguncinya di tembok agar gadis itu tidak kabur dengan mudah.

Tatapan Wilona berubah. Mata yang dulu selalu takut dengan tubuh gemetar saat menghadapinya, kini hilang entah kemana.

IGNITES (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang