Wilona duduk termenung di lantai dua sebuah Caffe yang sepi.
Gadis itu menatap kosong ke arah luar. Lantai 2 caffe itu memang memiliki tema terbuka. Dia bisa melihat rintik gerimis yang mulai turun.
Sudah 4 jam gadis itu hanya duduk dengan perasaan gelisah.
Harusnya dia sedang merayakan hari dimana dia dilamar sang kekasih. Tapi kekasih yang dia tunggu tak kunjung datang.
Wilona mengingat pesan yang dikirimkan oleh Raga satu jam setelah dia menunggu Jaglion di Caffe itu.
"Jangan nunggu. Jaglion nggak akan ke sana."
Gadis itu menitikan air mata, merasa frustrasi. Dia menjambak rambutnya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Jam menunjukkan pukul 8 malam, tapi dia benar-benar masih ingin menunggu Jaglion.
Pemuda itu sudah janji akan datang.
Suara mobil berhenti membuat Wilona cepat-cepat mendekat ke pagar pembatas.
Rautnya terlihat kecewa karena itu bukan mobil Jaglion, melainkan mobil milik Raga.
Ziya turun lebih dulu, lalu langsung berlari naik ke atas untuk menghampiri sahabatnya.
Sedangkan Raga mendongak, menatap Wilona yang terlihat berantakan dengan mata dan hidung yang memerah.
Mereka saling tatap cukup lama sebelum Ziya memeluk Wilona dari samping dan membuat Wilona tambah terisak.
"Kenapa masih di sini?" Tanya Ziya lirih sambil menenangkan sahabatnya yang kini menangis terisak dipelukannya.
"Jaglion kapan datang, Zi?" Tanya Wilona disela tangisannya.
Ziya melepas pelukannya dan menghapus air mata Wilona dengan mata yang berkaca-kaca.
Dia tidak sanggup melihat Wilona yang selalu tersenyum ceria, kini kembali menangis seperti sekarang.
Raga mendekat, lalu mendekap Wilona. Dia mengelus rambut gadis itu dengan lembut.
Ziya tak marah. Dia justru ikut menepuk-nepuk bahu Wilona agar gadis itu tenang.
"Gue udah bilang Jaglion nggak bakal datang. Kenapa lo ngeyel masih di sini?" Kesal Raga. Dia memberi kode pada Ziya untuk mengambilkan segelas air untuk Wilona ke dalam Caffe.
"Kenapa dia giniin gue mulu, Kak?"
Raga menghela napas panjang. "Gue nggak mau lo benci sama Jaglion. Bagaimana pun dia sahabat gue."
"Dia sengaja menghindar dari kejaran musuh setelah mereka tau dia mau nemuin lo. Gue juga nggak tau mereka tau dari mana. Tapi tujuannya adalah lo. Kayaknya mereka musuh keluarga lo."
"Jaglion mancing mereka biar nggak datang ke sini."
Wilona menutupi wajahnya dan kembali terisak.
"Dia nggak mau lo dalam bahaya, Na. Itu sebabnya dia nggak datang ke sini."
Wilona menatap Raga dengan raut kesal. "Kenapa lo nggak kasih tau yang sebenarnya?"
"Jaglion yang larang gue, Na."
Mereka berdua saja menoleh ke bawah setelah sebuah mobil berhenti.
Jaglion keluar dari mobilnya sambil meringis pelan dan memegangi lengan kirinya.
Raga memejamkan mata dan memijat pelipisnya melihat keadaan sang sahabat yang berantakan.
Sedangkan Wilona hanya bisa terdiam dengan air mata yang masih mengalir deras.
KAMU SEDANG MEMBACA
IGNITES (END)
Roman pour Adolescents(Tersedia Versi eBook) Mendengar namanya saja sudah membuat Wilona bergidik ngeri, apalagi bertemu dengan sosoknya langsung. Mungkin Lona akan kabur begitu melihat bayangannya saja. Jaglion, si cowok paling sadis 'katanya'. Bukan hanya wajahnya yang...
