Wilona menghela napas panjang setelah membaca pesan dari Deril. Pemuda itu menunggunya di depan rumah, ingin mengajak Wilona mencari udara segar.
Deril mengetahui salah satu teman Wilona meninggal dan gadis itu terlihat murung. Sudah 3 hari sejak Candra pergi, baik Wilona maupun Jaglion sama sekali tidak mengirimkan satu pesan pun.
Mereka sama-sama sedang kehilangan.
Jam dinding menunjukkan pukul 7 malam dan yang Wilona lakukan hanya berbaring di kasurnya, mencoba mengistirahatkan otak lebih awal.
"Gue titip Jaglion, Raga dan Hery. Jangan sampe mereka terpecah."
"Gue percaya lo bisa, Lona."
"Maaf, kita baru kenal tapi gue udah membebankan semua itu."
"Gue harus pergi setelah ini. London tempat terbaik gue buat kabur dari mereka bertiga."
Wilona memejamkan matanya, kembali mengingat pesan terakhir Candra sehari sebelum pergi. Pemuda itu ingin menghabiskan sisa masa mudanya di kota impiannya. Tapi justru ...
Satu pesan masuk kembali membuat gadis itu menghela napas. Dia segera bangkit dan merapikan rambutnya. Deril masih menunggu.
Wilona bertemu tatap dengan Wildan yang baru saja pulang. Pemuda itu menggunakan pakaian formal, tidak seperti biasanya.
"Baru pulang, Kak?"
"Kalo dari tadi nggak mungkin belum ganti baju, kan?" Wildan duduk di sofa, kemudian memijat pelipisnya.
"Kalo capek istirahat di rumah aja. Besok baru ke lokasi KKN lagi."
"Gue baru pulang dari pemakaman," kata Wildan, membuat Wilona sedikit tertegun. "Gue bukan capek, tapi lebih ke sedih aja."
Wilona mengerjapkan mata. Dia teringat Candra lagi.
Pemuda itu menatap heran adiknya yang terdiam mematung. "Lo ngapain masih di situ? Deril udah di depan dari tadi."
Wilona tersenyum kecut, lalu keluar dari rumah menghampiri Deril.
Disambut coklat batang membuat Wilona tersenyum tipis. Pemuda itu mendekat, kemudian memeluk Wilona dengan sayang.
Ah, rasanya nyaman sekali. Hanya Deril yang bisa memberikan ini padanya.
"Coklat bisa bikin mood sedikit naik. Tapi pelukan aku bisa bikin mood kamu jauh lebih baik," kata pemuda itu dengan percaya diri.
"Youre never wrong," balas Wilona setuju. Gadis itu mencari kenyamanan di dada bidang Deril tanpa merasa risih.
"I can make the whole world hug you, if you want," bisik Deril.
Wilona terkikik geli. "But i just need your hug."
Deril melepas pelukannya, kemudian menatap Wilona dengan senyum manisnya. "Kamu nggak capek cantik terus?"
Gadis itu tersenyum lebar. "Capek. Jadi banyak yang nggak suka aku."
Pemuda itu meraih telapak tangan Wilona dan mulai berjalan menuju taman dekat rumah Wilona.
"Aneh, ya? Semakin bagus orang semakin banyak yang nggak suka."
"Bukannya manusia emang serba salah? Jadi cantik atau ganteng banyak yang nggak suka, jadi jelek apa lagi," Wilona duduk terlebih dahulu. Dia sangat suka duduk di sebelah kiri Deril.
Pemuda itu duduk dan menengadah, menatap langit tanpa bintang. Dia tidak tega meninggalkan Wilona yang sedang butuh dirinya saat ini.
Apa yang harus dia lakukan sekarang? Tetap di Indonesia untuk beberapa minggu lagi dan terancam tidak mendapat nilai bagus, atau kembali ke Singapura dan membuat gadis di sampingnya kecewa?
KAMU SEDANG MEMBACA
IGNITES (END)
Teen Fiction(Tersedia Versi eBook) Mendengar namanya saja sudah membuat Wilona bergidik ngeri, apalagi bertemu dengan sosoknya langsung. Mungkin Lona akan kabur begitu melihat bayangannya saja. Jaglion, si cowok paling sadis 'katanya'. Bukan hanya wajahnya yang...
