Wilona mengerutkan kening saat mobil Jaglion berhenti di depan sebuah rumah yang lebih mirip seperti Mansion.
Sepertinya ini tanah pribadi milik keluarga Jaglion???
Rumah itu bahkan lebih besar dari rumah keluarganya. Jaglion benar-benar putra mahkota rupanya.
"Lo mau di dalam mobil terus sambil liatin bangunan itu, atau turun ikut gue?"
Wilona sedikit gelagapan, kemudian membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil menyusul Jaglion.
"Ini ... rumah keluarga Bahar?" Tanya Wilona sambil mengikuti Jaglion dari belakang.
"Bukan," pemuda itu membuka pintu teralis dan masuk ke halaman utama rumah yang terlihat sangat hijau.
"Ini rumah nyokap gue."
"Bedanya?"
"Jelas beda, dong," Jaglion berhenti ketika akan menaiki tangga menuju pintu utama. Dia berbalik dan berhadapan dengan Wilona yang masih takjub dengan rumah itu.
"Nyokap gue udah bukan bagian dari keluarga Bahar. Lo lupa?"
"Ah ...," Wilona mengangguk-angguk. Dia ingat sekarang, kalau orang tua Jaglion memang bercerai sejak lama.
Gadis itu kembali melangkah naik sambil terus mengagumi halaman yang penuh rumput itu.
Sepertinya memang disengaja tumbuh? Apalagi beberapa sudut juga banyak rumput liar yang rimbun.
Ketika hendak sampai ke pintu utama, pemuda itu berbelok.
"Kita lewat pintu samping aja," ajak Jaglion.
Mereka memutar ke sebelah kanan rumah dan menemukan pintu yang Jaglion maksud.
Saat hendak masuk, Jaglion menahan Wilona. "Lo tunggu di sini. Gue masuk dulu sebentar."
Wilona mengerutkan kening. Pemuda itu terlihat lebih bersemangat dibanding dia yang punya hari.
Pintu kembali terbuka, menampilkan Jaglion yang membawa sebuah kue ulang tahun berukuran sedang.
Senyum lebar terbit begitu Jaglion menyalakan lilin yang berada di atas kue itu.
"Happy birthday, Lona," ucapnya dengan senyuman. "Make a wish," lanjut pemuda itu.
Wilona memejamkan matanya dengan bibir tersenyum manis. Gadis itu berdoa dalam hati dengan banyak harapan.
Tadinya Jaglion juga tersenyum, tapi karena Wilona cukup lama meminta permohonan, senyumnya pudar karena tangannya mulai pegal.
Pemuda itu berdecak pelan sambil melirik jam di tangannya.
"Lama banget," protes Jaglion, lalu Wilona membuka mata dan meniup lilinnya.
"Lo tidur ya?" Ejek Jaglion. "Pegal tau!"
"Ish! Gebukin orang mah kuat, nahan kue segitu kecil malah pegal. Lemah banget," sinis Wilona.
Pemuda itu mempersilakan Wilona masuk ke dalam rumah besar itu.
Iya, rumahnya benar-benar megah. Mungkin bisa dihuni 5 keluarga sekaligus dengan anggota masing-masing 4 orang.
Jaglion membawa gadis itu ke dapur yang terlihat mewah. Wilona sampai tidak berkedip, karena setiap barang yang ada di sana benar-benar sudah mengikuti jaman.
Pemuda itu menaruh kuenya di atas meja makan, kemudian menarik kursi untuk Wilona duduki.
"Walaupun warnanya Red velvet, tapi ini nggak ada perisa strawberry sama sekali. Rasanya enak. Gue udah coba semalam."
KAMU SEDANG MEMBACA
IGNITES (END)
Ficção Adolescente(Tersedia Versi eBook) Mendengar namanya saja sudah membuat Wilona bergidik ngeri, apalagi bertemu dengan sosoknya langsung. Mungkin Lona akan kabur begitu melihat bayangannya saja. Jaglion, si cowok paling sadis 'katanya'. Bukan hanya wajahnya yang...
