"Nggak sia-sia si Robin ketangkap," kata Bara sambil terkekeh. Pemuda berusia 24 tahun itu sedang menikmati rokok ilegal yang entah ia dapat dari mana.
Semua anggota yang berada di situ juga tidak berani bertanya dari mana rokok itu berasal.
Mereka memilih diam daripada kena amuk oleh Bara. Emosi pemuda itu benar-benar setipis tisyu dibagi dua dan kena hujan.
Kevin menoleh karena penasaran maksud perkataan Bara barusan.
"Tapi kita kehilangan Robin, bang," protes Putra karena merasa kasihan pada temannya yang dihajar habis-habisan setelah ketahuan mengorek informasi Cyber Space dengan wajah polosnya.
"Seenggaknya kita dapat info yang bagus. Kita bisa gunain info itu untuk menghancurkan inti Cyber Space," sinis Bara. "Satu ... persatu," tegasnya.
Kevin masih diam. Dia ingin mendengar lebih banyak lagi apa yang berhasil didapat dari tertangkapnya Robin.
"Sepenting apa informasi itu?" Tanya Jerome yang masih sibuk di depan laptop, tapi tetap mendengarkan celoteh temannya itu.
Bara membuang puntung rokok itu ke atas asbak, kemudian meminum bir yang tersedia di atas meja.
"Robin bilang Jaglion punya pacar. Bahkan dia nggak bisa eksekusi karena lagi ngedate sama ceweknya," jawab Bara sambil menyeringai.
Kevin menelan salivanya pelan. Apa yang akan Bara lakukan dengan informasi itu? Apa orang itu akan menggunakan pacar Jaglion sebagai umpan?
Oh, tidak! Ini tidak boleh terjadi!
Wilona dalam bahaya, gumam Kevin dalam hati.
"Vin, cari tau pacar si cecunguk itu. Kita pake buat mempermainkan Jaglion yang sok jago itu," perintah Bara.
Kevin langsung berdiri, lalu mengangguk, menuruti perintah Bara.
"Biar gue sendiri yang bawa," kata Kevin penuh percaya diri, yang diacungi jempol oleh Bara.
Iya, Kevin akan membawa gadis itu, tapi bukan ke hadapan Bara atau ke markas Oscar.
Dia akan membawa Wilona ke tempat yang aman dan tidak akan membiarkan sahabatnya itu terluka.
Kevin memasuki mobilnya dan memukul stir dengan kesal.
"Sialan! Jaglion benar-benar bikin Wilona dalam bahaya," makinya. Dia memutar otak agar bisa menyelamatkan Wilona, tapi tetap membawa seseorang yang dianggap sebagai pacar Jaglion.
Tapi siapa? Bahkan selama ini dia tidak pernah memata-matai musuh, karena tugasnya hanya memperhatikan dan menangkap informasi saja.
"Sial! Sial! SIAL!!!"
🏮🏮🏮
Padahal matahari sudah tenggelam satu jam yang lalu, tapi Wilona dan Deril masih betah duduk di sebuah taman sambil bercengkerama.
Ponsel Deril bergetar dan pesan masuk dari Kevin muncul.
"Kevin pengin makan malam bareng katanya," kata Deril sambil menunjukkan pesan dari Kevin pada Wilona.
"Are we have a dinner plan?" Tanya Wilona, karena malam ini harus ikut Jaglion ke Trace.
"Ah ..," Deril menggaruk kepala bagian belakangnya sambil menyengir kuda. "I have a suprise for you. So dumb!" Katanya, karena baru saja membocorkan rencana yang dia rancang bersama Kevin.
Wilona tersenyum manis, kemudian memeluk lengan Deril sok manja.
"Kamu emang nggak bisa jaga rahasia," kekeh gadis itu, lalu melepas pelukannya. "Kapan kita berangkat?"
KAMU SEDANG MEMBACA
IGNITES (END)
Teen Fiction(Tersedia Versi eBook) Mendengar namanya saja sudah membuat Wilona bergidik ngeri, apalagi bertemu dengan sosoknya langsung. Mungkin Lona akan kabur begitu melihat bayangannya saja. Jaglion, si cowok paling sadis 'katanya'. Bukan hanya wajahnya yang...
