Niatnya baik, ingin menyelamatkan nyawa seorang manusia meskipun dia bukan dokter. Apalagi ini manusia yang dia cintai.
Tapi mengapa selalu ada hal yang harus dikorbankan ketika ingin berbuat baik?
Wildan sudah 3 hari menginap di rumah Gea untuk menjaga gadis itu. Kekasihnya kini sudah berbaring di ranjangnya selama 10 hari tanpa duduk sekalipun.
Memang, keluarga Gea merawat gadis itu di rumah dengan alat yang lengkap, persis seperti di rumah sakit. Tapi tetap saja Wildan tak puas meskipun dokter pribadi dan 3 suster setia merawat Gea.
"Jangan sedih gitu dong.... aku jadi keliatan menyedihkan banget," lirih Gea.
Wildan tersenyum kecut, kemudian membelai rambut Gea yang sudah kusut.
"Sabar, ya? Aku bakal pake cara apapun biar bisa bawa kamu ke Singapura."
Gea menggeleng lemah. "Nggak perlu Sayang. Aku udah nggak butuh semua itu lagi. Aku cuma butuh istirahat panjang."
Mendengar perkataan gadisnya membuat Wildan tambah merasa gelisah.
"Jangan ngomong gitu."
"Aku kangen Wilona. Bawa dia ke sini ya, lain kali. Jangan sendiri mulu," pinta gadis itu, sedikit manja dengan suara yang lemah.
Wildan menggenggam erat kemari Gea. "Selain Wilona, siapa lagi yang harus aku bawa ke sini?"
"Emm ... Steve? Bawa Steve ke sini juga. Tapi tanpa sepengetahuan Papa. Kalo Papa sampe tau, pasti Steve kena marah."
Pemud itu sedikit ragu, tapi dia akan mengusahakannya.
"Aku bakal bawa Steve ke sini, lengkap dengan sepupu kamu yang lain."
Gea tersenyum begitu manis dengan bibir pucatnya. Keberadaan Wildan benar-benar membuatnya bahagia.
Seorang suster masuk, hendak mengganti diapers Gea, karena sudah waktunya diganti.
Tanpa banyak tanya, Wildan keluar dari kamar Gea dan duduk di ruang tengah.
Pikirannya menerawang jauh, kembali mengingat perbincangannya bersama Eric di markas utama Cyber Space satu bulan yang lalu.
"Pekerjaan kamu sangat memuaskan," puji Eric setelah melihat laporan wilayah yang berhasil Cyber Space rebut dari bos tanah.
"Saya akan membangun sekolah atas nama Gea di tanah ini," kata Eric sambil tersenyum.
Wildan mendengus pelan. "Percuma, Om, kalo Gea nggak dapat pengobatan yang seharusnya."
Eric menghela napas dalam, lalu duduk berhadapan dengan kekasih anak gadisnya itu.
"Kamu tetap bersikeras bawa Gea ke Singapura?"
Mata Wildan langsung berbinar ketika melihat harapan restu dari Eric.
"Kalo gitu saya punya syarat khusus. Jangan biarin Jaglion keluar dari Cyber Space, karena dia penerus yang saya rencanakan dibandingkan dengan anak saya sendiri. Tapi kamu juga harus buat Jaglion melepas sahamnya untuk saya."
"Kalo kamu berhasil, saya akan siapkan penerbangan secepat mungkin untuk Gea dan memastikan dia mendapat perawatan terbaik di sana."
Lagi-lagi helaan napas berat keluar dari mulut pemuda itu.
Bagaimana bisa dia membuat Jaglion melepas sahamnya? Dan juga tidak keluar dari Cyber Space, sementara adiknya justru sedang berencana membuat Jaglion keluar dari sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
IGNITES (END)
Novela Juvenil(Tersedia Versi eBook) Mendengar namanya saja sudah membuat Wilona bergidik ngeri, apalagi bertemu dengan sosoknya langsung. Mungkin Lona akan kabur begitu melihat bayangannya saja. Jaglion, si cowok paling sadis 'katanya'. Bukan hanya wajahnya yang...
