Tak banyak kata, ini hanyalah sebuah kisah tentang si bungsu Ajishaka yang hidup bahagia bersama kedua orang tua sekaligus ke enam kakaknya.
Ini hanyalah kisah, tentang si bintang yang bersinar di naungan keluarga cemara.
Tentang si bungsu yang di s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di setiap akhir pekan, anak anak papi Damar lebih sering menghabiskan waktunya di rumah saja. Berkumpul bersama dengan sanak saudara sembari bermain ala kadarnya.
Dibandingkan berjalan serta menghabiskan waktu di tempat tempat wisata, ketujuh putranya malah lebih suka bertamasya di taman belakang rumah mereka.
Jika di tanya mengapa, maka jawaban seorang Rayyanka Orian ialah. "Hemat, hidup itu gak harus mikirin seneng doang. Kita juga harus mikirin masa depan."
Padahal, jika saja mereka ingin berlibur ke luar negeri setiap hari, tentu sangat bisa. Bahkan, harta dari seorang bapak Damar Langit itu, tak akan habis hingga sepuluh turunan sekalipun.
Berbeda dengan jawaban Rayyanka yang cukup bijak. Seorang Hafeezy Auriga justru akan lantang berujar. "Ngapain mau liburan di luar? Orang di sini aja, udah melebihi dunia hiburan."
"Mau Timezone? Noh, ruang main Jio sampe gak muat kebanyakan mainan."
"Mau renang? Taman belakang, nyebur tiap detik juga sabi."
"Apa? Ragunan?" Saat itu, Hafeezy tampak tersenyum lebar. Dan dengan entengnya, anak itu berujar. "Ngapain mau ke sono? Kalau disini aja, udah ada kembarannya." tunjuknya pada kedua adiknya.
Leo dan Jio.
Yang tentu saja, setelah Mas Hayyie mengatakannya, remaja itu mendapat amukan kedua adiknya. Serta mendapat ceramah oleh papi Damar dan juga mami Luna selama tujuh hari tujuh malam. Hingga telinganya terbakar omongan.
Tidak, tidak sampai segitu. Cukup ceramah tiga hari saja sebenarnya. Namun mas Hayyie, selalu melebih lebihkan ketika ia bercerita kepada temen temannya.
Taman belakang rumah itu, tak pernah sepi. Selalu ada tingkah tingkah dari mereka yang selalu mewarnai.
Terutama pada akhir pekan seperti saat ini.
"Yang bersih. Itu gosoknya pelan pelan, jangan sampe lecet,"
"Iya, iya. Bisa diem, gak? Ngomong mulu dari tadi." gerutu Javie mendengar segala omelan Mas Jevan yang tak berhenti menegurnya sedari tadi.
"Nih,"
Mas Jevan menerima minuman dingin yang baru saja disodorkan oleh adik pertamanya, Hayyie. "Lo ikhlas apa kagak, nih? Sengaja mau buat gue diabetes? Ini manis banget, buset!!" protesnya setelah mencicipi minuman tersebut.