Tak banyak kata, ini hanyalah sebuah kisah tentang si bungsu Ajishaka yang hidup bahagia bersama kedua orang tua sekaligus ke enam kakaknya.
Ini hanyalah kisah, tentang si bintang yang bersinar di naungan keluarga cemara.
Tentang si bungsu yang di s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kakak lagi apa?"
Aktivitas kak Melvin terhenti sejenak, saat suara seseorang datang dari arah pintu dapur. Ia alihkan tatapan, dan mendapati si bungsu yang sepertinya menunggu jawaban.
"Motong semangka. Adek mau?"
Si kecil yang tadi bertanya, kini membinarkan mata. Semakin mendekatkan langkah ke arah sang kakak sembari melempar tanya. "Memangnya boleh? Kata mami, Kakak suka sekali semangka, nanti sedih kalau semangkanya diambil orang lain."
"Nggak, mana ada kayak gitu."
"Kata mami begitu. Apalagi, Jio sering lihat tuh, Kakak debat sama mas Hayyie karena semangka?"
Si sulung tertawa lebar. "Kalau itu mah, beda konsepnya, Dek. Mas kamu itu ngeselin, makanya Kakak jadi males kalau mau ngasih dia."
Zergio mengangguk setuju. Ia sangat paham sekali betapa menjengkelkan kakak ke empatnya itu.
"Jadi? Adek mau, tidak? Kalau mau, biar mas potongin lebih banyak lagi." tanya mas Melvin kembali.
"Mauu mauu!!"
Si sulung hanya memberi anggukan beserta senyuman, teramat senang melihat reaksi si bungsu yang girang. Terduduk di meja pantry, menunggu dirinya selesai.
"Btw, adek gimana ujiannya? Udah mau lulus, kan?" Katakanlah basa basi, karena Melvin merasa gatal jika berada dalam keheningan. Salahkan sendiri adiknya yang sedari tadi malah fokus menatap cara memotong semangka tanpa adanya obrolan.
"Heum, ya gak gimana gimana sih, Kak. Yang jelas dan pasti, ujiannya susah. Adek jadi malas bayanginnya."
Kak Melvin mengerutkan alisnya, "Kok gitu? Bukannya kemarin seneng banget minta beliin baju biru putih buat masuk sekolah baru?"
Bungsu itu menghela napas lesu, "Beda Kakak, Jio itu kemarin ternyata cuma suka sama baju barunya. Bayangin kelas baru, sekolah baru, taman baru, ya pokoknya yang baru baru. Tanpa mikirin prosesnya yang ternyata secapek ini."
"Jio sekarang jadi ngerasa gak siap buat semuanya. Jio ngerasa diri Jio masih stuck di merah putih, gak pengen jalan, pengen stop di sini." lanjutnya menaruh kepala di atas meja.
"Kok tiba tiba kepikiran gitu, kenapa? Coba cerita sini sama Kakak. Siapa tau Kakak bisa bantu?" tanya kak Melvin menatap lebih serius ke si bungsu. Menghentikan aktivitas awalnya, dengan buah kesayangan.
"Jio susah nerima pembelajarannya, Kak. Rasanya gak masuk di otak Jio. Semua yang bu guru jelasin itu, cuma nyampe depan kepala, gak mau masuk atau sekedar lewat ke otaknya. Jio jadi kesusahan, Jio jadi ketinggalan dan jadi yang paling gak bisa diantara teman teman."
"Bisa, Adek. Kakak yakin kamu bisa. Prosesnya memang seperti itu, dari mudah, susah, sampai terbiasa. Hirarki semua manusia itu sama, tidak ada yang berat sebetulnya. Bayangin saja, dulu adek dari taman kanak kanak, sampai berhasil di puncak ke sekolah dasar. Buktinya bisa? Nah, begitupula kali ini. Percaya sama Kakak" Kak Melvin mencoba meyakinkan.