Tak banyak kata, ini hanyalah sebuah kisah tentang si bungsu Ajishaka yang hidup bahagia bersama kedua orang tua sekaligus ke enam kakaknya.
Ini hanyalah kisah, tentang si bintang yang bersinar di naungan keluarga cemara.
Tentang si bungsu yang di s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah kurang lebih seminggu yang lalu kejadian yang membuat keluarga papi Damar seperti terkena serangan jantung dadakan. Kini keadaan keluarga itu sudah kembali seperti semula.
Si bungsu telah diperbolehkan pulang dua hari yang lalu, setelah menjalani rawat inap selama lima hari. Tak ada hal spesial yang dapat diceritakan selama lima hari itu, semua berjalan biasa saja.
Meski sedikit dibumbui keributan dari para putra papi Damar, yang tak usah disebutkan lagi, semua pasti sudah tau siapa pelakunya.
Oh, jangan pernah mengira bahwa kekuatan si bungsu akan berkurang. Anak itu tetaplah Zergio. Zergio Reog Ajishaka, begitu Mas Hayyie menyebutnya.
Kalian salah, jika mengira anak itu akan diam dan tenang selama sakitnya. Karena justru, Zergio sangat aktif dan bertingkah, tak ada lemas-lemas nya. Bahkan di hari pertama anak itu dirawat, ia sudah membuat drama.
Drama meminta pulang yang dibuktikan dengan kayang, untuk memperlihatkan bahwa dirinya baik baik saja. Membuat anggota keluarga lelah dan ketar ketir melihat tingkahnya.
Sepertinya, memang mustahil jika mencari kata damai di dalam keluarga papi Damar ini. Buktinya, sekarang saja rumah itu sudah penuh dengan suara teriakan. Padahal, jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Dimana waktu orang orang tengah malas dan lelah.
"Orang di situ doang, deket banget gak sampe lima menit. Pelit amat, sih."
"Nah itu, di situ doang kan? Deket? Bisa sendiri kali."
"Mas nih tega banget sama adek sendiri!!"
Mas Hayyie mendengus kasar. "Ya kamu? Kok tega sama kakak sendiri? Orang Mas ini baru sampe rumah malah disuruh keluar lagi."
"Kan tolongin anter doang?! Toh nanti juga Mas pasti minta 'kan?"
"Apa? Minta apa??"
"Batagor."
Mendengar nama makanan khas Bandung tersebut, mata kantuk mas Hayyie berbinar seketika. Rasa lemas yang meraja lela, hilang detik itu juga. Dengan semangat, remaja usia enam belas tahun itu bangkit dari duduknya. Menyambar kunci motor, lantas berjalan keluar. "Ayok, Mas anter. Awas aja kamu gak beliin Mas."
Kini, giliran Leo yang mendengus. "Giliran disogok gini mau, dari tadi diajak bilangnya cape."
Mas Hayyie tak menghiraukan, tetap berjalan menuju bagasi yang diikuti Leo dari belakang.
"Kamu tunggu depan, Mas keluarin motor dulu."
Tak menunggu jawaban sang adik, mas Hayyie lantas pergi menuju bagasi yang terletak tak jauh dari teras depan.
~Tahu bulat...
"Loh, heh?? Mau kemana, Dek?" tegur Mas Hayyie kala si bungsu melewatinya begitu saja. Bocah kecil itu berlari tak sabaran.