01. Gema Yang Tertinggal

661 40 10
                                        

Suara kapur yang beradu dengan papan tulis menciptakan ritme yang monoton, membelahnya keheningan kelas 2-A SMA Shutoku.

Di depan, Sensei sedang sibuk menuliskan deretan kanji mengenai literatur klasik Heian, suaranya yang berat sesekali memberikan penekanan pada makna Mono no aware-sebuah konsep Jepang tentang empati terhadap hal-hal yang fana.

"Semua keindahan akan memudar," gumam Sensei pelan, tangannya bergerak lincah. "Seperti bunga sakura yang gugur, atau kenangan yang perlahan menguning. Kita tidak bisa menahan waktu, kita hanya bisa merasakannya pergi."

Hizumi tidak mencatat. Bolpoin di jemarinya hanya berputar malas, sebuah kebiasaan otomatis yang ia pelajari dari Hiroto untuk mengalihkan kegelisahan. Fokusnya tidak berada pada papan tulis, melainkan pada pemandangan di bawah sana, di seberang gerbang sekolah yang basah oleh sisa hujan.

Tepat di sudut jalan, atap genteng bata kusam milik kedai ramen Hanabi tampak kontras di tengah bangunan kota Chiku. Asap tipis mengepul dari cerobongnya, menandakan kehidupan yang terus berputar di sana.

Mata Hizumi meredup. Baginya, kedai ramen Hanabi bukan sekadar tempat makan.

"Hizumi, kalau kau menghabiskan porsi super ini, aku akan mengizinkanmu naik motor sendiri sampai blok depan."

Suara Takeru bergema di kepalanya, begitu jernih hingga Hizumi hampir bisa mencium aroma kuah shoyu yang kental. Ia ingat sore itu, Takeru duduk di hadapannya dengan jaket kulit yang masih dingin karena angin jalanan. Kakak sulungnya itu selalu tersenyum dengan cara yang membuat dunia terasa aman. Seolah selama Takeru ada, tidak akan ada hal buruk yang berani menyentuh adik-adiknya.

Takeru akan mengacak rambutnya dengan nasihat membosankan namun terus ingin dia dengar. Saat itu, Hanabi terasa sangat berisik. Berisik oleh tawa, berisik oleh perdebatan konyol tentang janji-janji masa depan yang kini terasa seperti dusta.

Sekarang, kedai ramen keluarga Hanabi di bawah sana terlihat sunyi dari ketinggian lantai tiga sekolahnya.

Hizumi membuang muka, menatap layar ponselnya yang diletakkan tersembunyi di bawah laci meja. Tidak ada notifikasi. Forum informasi jalanan yang ia pantau sejak pagi masih menampilkan berita yang sama: perselisihan kecil antar geng di wilayah S.W.O.R.D, tidak ada nama Amamiya, tidak ada tanda-tanda pria dengan motor cepat.

Suara bel istirahat berdentang nyaring, membuyarkan sisa-sisa melankolis yang menggantung di udara kelas. Guru sastra itu menutup bukunya dengan senyum tipis.

Hizumi baru saja hendak memasukkan ponselnya ke dalam saku ketika bayangan beberapa siswi menaungi mejanya.

"Amamiya-chan! Ayo ke kantin! Hari ini ada menu parfait stroberi terbatas, lho!" seru seorang gadis berambut pendek dengan semangat.

Hizumi mengerjap, lalu perlahan senyum tipis—jenis senyum yang ia gunakan untuk berinteraksi dengan dunia luar—terukir di wajahnya. "Ah, boleh. Aku juga mulai merasa lapar."

Perjalanan menyusuri koridor SMA Shutoku terasa jauh berbeda dari suasana kelas tadi. Di sini, di antara tawa riuh murid-murid lain dan langkah kaki yang terburu-buru. Ia tertawa kecil saat temannya menceritakan gosip konyol tentang klub sepak bola, sebuah tawa yang terdengar seperti remaja kebanyakan yang ringan, seolah tidak pernah ada darah dan air mata dalam hidupnya.

"Amamiya, kudengar kau masuk ke daftar murid dalam lomba matematika..."

"Benar sekali! Bintang kita ini memang tidak perlu diragukan lagi!" Balas yang lain dengan wajah semangat.

Hizumi hanya tersenyum tipis, membiarkan pujian itu mengalir tanpa benar-benar meresap ke dalam hatinya. Namun, langkah mereka melambat saat melewati gerombolan murid laki-laki yang sedang berkumpul di dekat mading sekolah. Berbeda dengan kelompok Hizumi yang membahas olimpiade, atmosfer di sana terasa lebih gaduh oleh bisik-bisik yang antusias.

𝗦𝗖𝗔𝗥 𝗖𝗢𝗩𝗘𝗡𝗔𝗡𝗧 [ 𝗥𝗘𝗩𝗜𝗦𝗜! ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang