08. Di Antara Jurang

455 53 14
                                        

Koridor sekolah yang biasanya terasa seperti jalur kemenangannya, kini terasa mencekik.

Hizumi berjalan dengan kepala tertunduk, helai rambutnya menutupi wajahnya yang pucat. Gema suara langkah sepatunya di atas lantai keramik terdengar seperti hitungan mundur menuju kehancuran.

"Sekolah memilih mu bukan untuk menjadi juara tiga, Amamiya-san. Apa yang terjadi? Anda tiga kali berturut-turut juara satu dan tanpa skandal tapi sekarang? Baik. Kami tahu ini juga pencapaian besar, tapi temuan tim medis mengenai zat penenang di sistem tubuhmu... itu adalah hal lain yang sulit kami abaikan."

Suara wali kelasnya kembali berdenging di telinga, dingin dan penuh kekecewaan. Hizumi mengepalkan tangan di samping rok seragamnya hingga kuku-kukunya memutih.

Ia ingat betul pagi tadi. Masaki dengan riang menggorengkan telur untuknya—sedikit terlalu matang, tapi dibuat dengan penuh cinta. Ia ingat hanya memakan sepotong roti tawar dan meminum air putih dari botolnya sendiri. Tidak ada obat, tidak ada zat tambahan. Logikanya berputar cepat, mencari titik di mana semuanya menjadi salah. Seseorang telah menjebaknya.

Seseorang pasti ingin melihatnya jatuh.

Gadis itu berhenti di depan jendela besar yang menghadap ke arah gerbang sekolah. Dadanya terasa sesak, seolah oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Ia menghembuskan napas panjang, mencoba mengusir sesak itu, lalu mengusap matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan.

"Jangan menangis," bisiknya pada diri sendiri dengan suara bergetar. "Kau tidak menangis hanya karena kertas sialan itu, Hizumi!" Ia menarik napas panjang, berusaha menstabilkan detak jantungnya yang berantakan.

Hizumi melangkah keluar dari gedung sekolah. Ia tidak ingin bertemu Seiji atau siapa pun. Ia hanya ingin menghilang sejenak dari predikat murid teladan yang kini terasa seperti beban besi.

Namun, rasa lelah yang luar biasa mulai merayap. Hizumi melangkah keluar dari gedung sekolah dengan langkah lesu, mengabaikan kerumunan siswa lain. Tidak ada keinginan untuk pulang ke Cress Venue. Membayangkan wajah bangga Masaki dan Hiroto tadi pagi saat menyiapkannya sarapan justru membuat rasa bersalahnya terasa seperti cekikan di leher.

Langkah kakinya membawa Hizumi berjalan tanpa arah, hingga ia berhenti di depan sebuah toko kelontong di perbatasan distrik. Ia butuh sesuatu untuk mengalihkan sarafnya yang tegang, dan membeli soda dingin juga dua pak permen karet untuk stok pribadinya adalah ide yang tepat.

Saat berdiri di depan kasir sambil memasukkan selembar permen karet ke mulutnya, mata sayu Hizumi menangkap pemandangan di seberang jalan. Seorang gadis sedang berlari panik. Rambutnya berantakan, dan ia menggendong seorang balita yang wajahnya memerah karena tangis hebat.

Hizumi tertegun.

Ia mengenali profil itu. Itu adalah gadis gaun hitam yang merampas mie instannya tempo hari. Namun penampilannya sekarang jauh dari kata glamor. Jaketnya kusam penuh tambalan kain, wajahnya pucat pasi, dan ia tampak seperti baru saja keluar dari debu wilayah Nameless Town. Tanpa pikir panjang, Hizumi menyambar belanjaannya, memasukkannya ke tas sekolah, lalu berlari keluar toko.

"Hei! Kau yang di sana! Berhenti!" teriak Hizumi lantang.

Lala tersentak dan menghentikan langkahnya. Saat menyadari siapa yang mengejarnya, ekspresi paniknya berubah menjadi malas dan defensif. Ia mengira Hizumi datang untuk menagih dendam soal mie instan tempo hari.

"Apa lagi?" gumam Lala parau, napasnya tersengal.

Hizumi berdehem canggung, matanya melirik balita yang terus meronta di gendongan Lala. "Dia... kenapa? Anak itu sakit apa?"

Lala menatap Hizumi dengan curiga, lalu mendengus. Sangat sinis. "Untuk apa kau bertanya? Mau menertawakanku?"

Hizumi menghela napas panjang, menahan kekesalan yang hampir meledak. "Dengar, aku tidak peduli padamu. Tapi bayi itu... tangisannya terdengar menyakitkan bahkan dari kejauhan."

𝗦𝗖𝗔𝗥 𝗖𝗢𝗩𝗘𝗡𝗔𝗡𝗧Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang